RATU AGUNG SELENDANG MERAH

RATU AGUNG SELENDANG MERAH
CHAPTER 61


__ADS_3

...***...


Keesokan harinya.


Sesuai dengan janji, Pangeran Arzaguna Basukarna dijemput oleh Ratu Agung Selendang Merah. Tentunya membuat kediaman Selir Kamala Hastanti menarik perhatian bagi rakyat yang tinggal di sekitarnya. Sebagai seorang ratu?. Tentu saja ia tidak akan mengingkari janjinya.


"Hormat kami gusti ratu agung." Selir Kamala Hastanti terpaksa memberi hormat. "Untuk apa dia datang ke sini?." Dalam hatinya pada saat itu bertanya-tanya apa tujuan menantunya itu pagi-pagi datang ke tempatnya.


"Hormat kembali pada ibunda selir ayahanda gusti raja agung." Ratu Agung Selendang Merah juga memberi hormat. Saat itu ia hanya menampilkan senyuman ramah kepada mertuanya itu?.


"Apa yang membuat gusti ratu agung pagi-pagi datang ke kediaman saya?." Ia hanya ingin menguji Ratu Agung Selendang Merah. "Apakah ada hal yang sangat penting yang ingin gusti ratu agung lakukan di sini?." Nada bertanya itu sangat aneh, dan menaruh curiga atas kedatangan sang Ratu.


"Apakah saya tidak diizinkan masuk terlebih dahulu?. Apakah tidak sebaiknya kita masuk sambil berbicara sejenak?." Ratu Agung Selendang Merah balik bertanya.


"Kegh!. Wanita ini sangat menyebalkan!." Dalam hati Selir Kamala Hastanti sangat marah dengan pertanyaan itu. "Oh maafkan saya. Tapi rasanya tidak perlu basa-basi lagi. Langsung saja pada intinya." Kali ini ia memperlihatkan betapa tidak sukanya ia saat ini pada Ratu Agung Selendang Merah. "Rumahku tidaklah sebagus istana, jadi tidak perlu masuk. Kita bicarakan saja di sini." Sepertinya ia menunjukkan bagaimana sikap tidak sukanya itu pada Ratu Agung Selendang Merah.


"Baiklah. Jika itu yang ibunda selir ayahanda gusti raja agung inginkan." Ratu Agung Selendang Merah juga tidak ingin basa-basi lagi. "Saya hendak menjemput adik pangeran  arzaguna basukarna. Karena hari ini adik pangeran harus melakukan sidang pertamanya-." Ucapannya terpotong karena Selir Kamala Hastanti.


"Tidak perlu!." Potongnya dengan cepat. "Aku tidak mengizinkan anakku pergi dari sini selangkah pun." Suaranya terdengar sedikit meninggi, karena ia tidak tahan lagi. "Sebaiknya kau pergi saja dari sini!." Selir Kamala Hastanti mengusir Ratu Agung Selendang Merah agar segera pergi dari rumahnya. "Aku sama sekali tidak akan pernah mengizinkannya untuk pergi bersamamu!. Apapun alasannya!. Aku tidak akan pernah mengizinkannya pergi bersamamu!." Pada saat itu amarah yang telah membuncah sehingga meninggikan suaranya di hadapan Ratu Agung Selendang Merah.


Ratu Agung Selendang Merah langsung mendekati Selir Kamala Hastanti, setelah itu ia membisikkan sesuatu. "Jika kau tidak mengizinkan aku membawa adik pangeran, maka aku akan menyidangmu di hadapan umum, atas rencana pemberontakan yang akan kau lakukan." Itulah yang dibisikkan oleh Ratu Agung Selendang Merah. "Jangan kau pikir aku tidak mengetahui apa yang sedang kau rencanakan sebenarnya." Dengan senyuman ramah ia berkata seperti itu.


Deg!!!


"Wanita sialan ini." Dalam hati Selir Kamala Hastanti sangat mengutuk dengan apa yang diucapkan oleh Ratu Agung Selendang Merah. "Bagaimana mungkin dia mengetahui apa yang telah aku rencanakan?. Bisa jadi dia hanyalah Mengger tak diriku hanya untuk membawa putraku keluar dari sini?." Detak jantungnya saat itu berdebar tidak karuan mendengarkan apa yang telah diucapkan Ratu Agung Selendang Merah.

__ADS_1


"Kau pikir aku tidak mengetahui semua rencana yang ingin kau lakukan?. Tentunya aku mengetahui semuanya." Ratu Agung Selendang Merah hanya memberikan peringatan pada Selir Kamala Hastanti, bahwa ia akan bertindak setelah ini. "Jika kau masih ingin selamat dari hukuman mati, maka jangan halangi aku untuk membawa adik pangeran dari sini." Bisiknya lagi dengan nada penuh ancaman.


"Kau!." Dengan geramnya Selir Kamala Hastanti hampir saja mendorong kuat Ratu Agung Selendang Merah, jika ia tidak mendengar suara anaknya. Saat itu Pangeran Arzaguna Basukarna keluar dari dalam rumah, ia sangat terkejut melihat kedatangan Ratu Agung Selendang Merah.


"Hormat saya yunda gusti ratu agung." Pangeran Arzaguna Basukarna memberi hormat. Suasana hatinya sangat senang melihat Ratu Agung Selendang Merah yang menepati janjinya. "Syukurlah yunda gusti ratu agung telah sampai." Dalam hatinya sangat bersyukur. "Aku sangat takut sekali jika yunda gusti ratu agung tidak sampai ke sini." Kecemasan yang ia rasakan saat itu telah berubah menjadi rona kebahagiaan.


"Selamat pagi adik pangeran." Sapa Ratu Agung Selendang Merah dengan sangat ramah.


"Selamat pagi juga yunda gusti ratu agung." Balas pangeran Arzaguna Basukarna dengan senyuman ramah.


"Sangat menyebalkan sekali. Kenapa mereka malah beramah tamah dihadapanku?." Dalam hati Selir Kamala Hastanti sangat tidak suka melihat itu. Sedangkan pelayan serta penjaga yang berada di sana hanya diam menyimak apa yang dilakukan oleh orang-orang agung. Mereka tentunya tidak berani untuk bersuara, meskipun ada yang tidak suka dengan kedatangan Ratu Agung Selendang Merah.


"Sepertinya adik pangeran telah siap untuk melakukan sidang pertama yang akan adik pangeran lakukan hari ini." Ratu Agung Selendang Merah sengaja berkata seperti itu. Tentunya ia melihat bagaimana reaksi dari Selir Kamala Hastanti yang sama sekali tidak menyukainya.


"Kalau begitu mari kita ke istana utama. Karena sidang akan segera dimulai." Ratu Agung Selendang Merah mengajak Pangeran Arzaguna Basukarna untuk segera menuju istana Utama. "Adik pangeran sendiri lah yang harus memimpin sidang itu." Dengan suara yang sangat ramah ia berkata seperti itu.


"Baiklah yunda gusti ratu agung." Tentunya Pangeran Arzaguna Basukarna sangat senang mendengarnya. "Saya akan melakukan tugas itu dengan sangat baik nantinya." Pangeran Arzaguna Barsukarna semakin bersemangat dengan apa yang akan ia lakukan nantinya.


"Kami pamit dahulu ibunda selir ayahanda raja agung." Ratu Agung Selendang Merah memberi hormat sebelum pergi meninggalkan kediaman Selir Kamala Hastanti.


"Ananda pamit dahulu ibunda." Begitu juga dengan Pangeran Arzaguna Basukarna. Setelah itu keduanya pergi meninggalkan Kediaman Selir Kamala Hastanti.


Selir Kamala Hastanti tidak dapat mencegah kepergian anaknya. Bagaimana mungkin ia bisa takluk dihadapan Ratu Agung Selendang Merah. "Kurang ajar!. Bagaimana mungkin dia mengetahui apa yang telah aku rencanakan?." Dalam hatinya sangat mendendam luar biasa. "Jika kau memang mengetahuinya, maka akan aku tunjukkan padamu bagaimana aku akan membunuhmu sesegera mungkin." Hatinya saat ini sedang berkecamuk menyimpan amarah yang sangat menyesakkan dada. "Akan aku tunjukkan padamu bagaimana kami yang sebenarnya." Ia tidak akan segan-segan lagi setelah ini.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Rencana apa yang mereka lakukan terhadap Ratu Agung Selendang Merah?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.

__ADS_1


...***...


Di kawasan Kumuh.


Lukita saat ini sedang diserbu oleh teman-temannya yang telah lama tidak melihat keberadaannya di kawasan kumuh. Tentunya mereka sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Lukita sehingga ia tidak terlihat?. Suriati, Nauri, Zamar, dan Warakai tentunya ingin mengetahui kemana Lukita selama ini?.


"Kemana saja kau selama ini?. Kenapa kau tidak muncul lagi?. Apakah kau sedang bersembunyi di suatu tempat?." Suriati sangat cemas dengan keadaan Lukita, akan tetapi ia sama sekali tidak melihat keberadaan Lukita?. "Kenapa kau tidak memberi kabar pada kami?." Suriati selama ini memang sangat peduli akan keselamatan Lukita.


"Kau ini ya lukita?!." Secara bersamaan mereka menyebut nama Lukita, membuatnya takut dengan raut wajah mereka semua.


Plak!!!.


Suriati menggeplak kepala Lukita sedikit keras. "Jika ada masalah, kau bisa mengatakannya pada kami. Jangan bersembunyi sendirian. Bukankah kita ini keluarga?." Suriati tersenyum kecil. "Kenapa selalu saja kau membuat kami merasa sangat cemas?. Apakah kebiasaan itu tidak bisa kehilangan?." Suriati menangis karena Lukita?.


"Benar itu lukita." Nauri juga tersenyum kecil. "Kau sendiri yang mengatakan pada kami, bukan?." Nauri mengelus sayang rambut Lukita. "Jika kau akan mengatakan kepada kami apapun yang terjadi padamu suatu hari nanti." Tentunya ia tidak akan lupa dengan apa yang telah dikatakan Lukita padanya.


"Kita akan menanggungnya bersama-sama. Katakan saja apa masalah yang sedang kau hadapi." Zamar, pemuda yang selalu baik pada Lukita. "Kenapa kau masih saja sungkan pada kami?." Terkadang ia merasa heran dengan sikap Lukita.


"Tapi setidaknya hari ini kau terlihat lebih baik dari hari yang sebelumnya." Warakai juga sangat senang melihat Lukita baik-baik saja. "Kau ini benar-benar membuat kami semua merasa sangat cemas." Ucapnya sambil menahan tangisnya.


"Terima kasih atas kebaikan kalian." Lukita sangat senang memiliki mereka semua. "Maafkan aku, jika aku telah membuat kalian semua cemas." Lukita hanya tidak bisa jujur saja pada mereka semua. "Aku melakukan ini demi melindungi kalian semua. Aku berjanji akan melakukannya dengan baik." Dalam hati Lukita berjanji akan melindungi mereka semua dengan sepenuh hati.


Apakah Lukita bisa melakukan itu?. Next halaman.


...***...

__ADS_1


__ADS_2