RATU AGUNG SELENDANG MERAH

RATU AGUNG SELENDANG MERAH
CHAPTER 1


__ADS_3

...***...


Di Istana Kerajaan Tiga Warna.


Saat ini keluarga istana sedang berduka. Karena Raja Agung tidak sadarkan diri, keadaannya semakin parah. Mereka semua berkumpul, melihat keadaan Raja Agung.


"Kita harus segera mengamankan raja agung." Penasehat Raja Agung Dewandaru. Penasehat Raja yang paling setia, bahkan sudah tiga generasi raja yang ia dampingi. "Akan berbahaya jika raja agung masih berada di istana ini." Hatinya sangat sedih melihat keadaan Raja Agung yang semakin parah. "Raja agung tidak bisa memegang pemerintahan untuk sementara waktu." Lanjutnya lagi. "Tapi secepat mungkin raja agung harus disembuhkan." Dengan berat hati ia berkata seperti itu.


"Lalu bagaimana dengan pemerintahan?." Selir Indraswari Jayanti. Selir mendiang Raja sebelumnya. Ibunda dari Raja Agung bertanya mengenai tahta. "Siapa yang akan memegang tahta, jika putraku saat ini tidak bisa memimpin kerajaan ini?." Perasaan cemas menghampirinya saat ini.


"Mohon maaf gusti ratu. Sebelum raja agung dalam keadaan parah seperti ini. Sepertinya raja agung telah menuliskan nama seseorang yang bisa menggantikannya untuk sementara waktu." Penasehat Raja Dewandaru memperlihatkan sebuah gulungan kecil.


"Kapan putraku raja agung menuliskan surat itu?." Selir Indraswari Jayanti meragukan itu.


"Surat ini ditulis sendiri oleh raja agung. Dan hamba telah menjadi saksinya." Jawabnya sambil memperhatikan Raja Agung yang saat ini sedang terbaring di tempat tidurnya.


"Dalam keadaan seperti ini mereka malah berkumpul?. Benar-benar tidak tahu malu." Dalam hati Ratu Agung Selendang Merah merasa sangat marah pada mereka semua.


...***...


Di sisi lain. Tepatnya di kawasan Kumuh.


Seorang wanita muda sedang berdiri di atas sebuah pohon tinggi yang berada di kawasan itu. Matanya menatap semua yang ada di kawasan itu. Semuanya terlihat dari atas pohon itu, apa saja yang dilakukan oleh orang-orang di bawah. Termasuk ketika Jendral Kuasa yang saat ini sedang melakukan tugas pengawasan di daerah sekitar.


"Heh!. Hanya lewat seperti itu saja. Semua orang pun bisa melakukan itu. Bahkan kawasan kumuh seperti ini saja masih memiliki banyak masalah. Kau sama sekali tidak berguna jendral kuasa." Ia mendengus kesal melihat Jendral Kuasa yang selalu dihormati oleh orang-orang kawasan Kumuh. "Jika kau tidak becus dalam melakukan tugas, sebaiknya kau berhenti saja menjadi seorang jendral. Tidak berguna sama sekali dalam menjaga keamanan kawasan ini." Wanita muda itu cukup lama tinggal di kawasan ini. Ia selalu memperhatikan semuanya yang ada di sana. Termasuk siapa saja yang telah bertugas mengamankan kawasan Kumuh. Ia sangat tidak suka dengan cara kerja mereka semua, hanya sekedar berjalan saja sambil lewat sebentar.


Bahkan mereka tidak mengetahui, jika kawasan kumuh selalu ada korban setiap bulannya. Entah itu dibunuh dengan sadis atau menjadi budak bagi kaum bangsawan. "Kita lihat saja nanti. Apakah kalian akan tetap seperti itu, atau aku sendiri yang akan melakukannya. Dasar orang-orang tidak berguna sama sekali." Hatinya sangat mengutuk atas apa yang terjadi di kawasan kumuh. "Kenapa di negeri tiga warna ini ada pembagian kasta seperti itu?. Benar-benar negeri yang sangat mengerikan. Orang-orang serakah menindas rakyat kecil yang tidak berdaya dengan uang mereka." Hatinya sangat mengutuk itu, ia tidak terima sama sekali dengan apa yang terjadi pada masa lalunya, serta orang-orang yang ia cintai dengan sepenuh hati pergi meninggalkan dirinya. Apakah yang akan ia lakukan setelah ini?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.


...***...


Kembali ke istana utama.


Penasihat Raja Agung Dewandaru menatap mereka semua. Matanya melirik ke arah Ratu Agung Selendang Merah yang belum bersuara sama sekali. Apakah suasana seperti ini karena ini adalah pertama kali baginya?. Tapi sepertinya itu hanya berlaku untuk ratu agung saja. Karena yang lainnya tidak sabar lagi untuk mengetahui apa yang telah ditulis oleh Raja Agung pada mereka semua.


"Kalau begitu bacakan isinya. Supaya kami semua mengetahui siapa yang akan menggantikannya untuk sementara waktu." Pangeran Arzaguna Barata tidak sabaran. "Jangan terlalu lama menyampaikan pesan dari rakanda raja agung." Desaknya lagi.

__ADS_1


"Bacakan, supaya kami bisa mendengarkan apa yang disampaikan oleh gusti raja agung dalam suratnya." Selir Indraswari Jayanti juga memaksa Penasihat Raja Agung Dewandaru untuk membacakan surat itu.


"Cepat bacakan." Selir Kamala Hastanti juga ikut berbicara sambil memerintah.


"Baiklah. Hamba akan membacakannya." Penasehat Raja Dewandaru membuka gulungan itu dengan hati-hati. "Mereka terlihat sangat antusias sekali. Kecuali ratu agung yang tampak tenang." Dalam hatinya kembali mengamati mereka semua. Sedangkan mereka menunggu dengan perasaan berdebar-debar, nama siapa yang dituliskan Raja Agung pada gulungan kertas itu.


"Saya sebagai raja agung. Sepertinya ada seseorang yang telah berniat menjahati saya. Saya tahu bahwa saya tidak akan mungkin memimpin kerajaan untuk sementara waktu ini. Jika surat kecil ini dibacakan oleh penasehat raja dewandaru, maka keadaan saya benar-benar parah." Ia memberi jeda ucapannya. Sehingga menjadi tanda tanya bagi mereka semua. Karena yang mereka tunggu adalah nama siapa yang disebut oleh Raja Agung. "Untuk sementara waktu, saya menunjukkan ratu agung untuk memimpin istana ini beserta kerajaan ini. Saya percayakan semuanya pada ratu agung. Karena itulah tolong sembuhkan saya, supaya saya bisa kembali memimpin kerajaan ini. Saya tidak ingin membebankan ratu agung dengan masalah yang belum saya selesaikan. Salam dari saya raja agung." Setelah selesai membacakan surat dari Raja Agung, ia menatap mereka semua. "Kira-kira seperti itulah yang ditulis oleh raja agung." Penasehat Raja Dewandaru menggulung kembali gulungan itu.


Di saat yang bersamaan, mereka semua memperhatikan seseorang yang selama ini selalu bersembunyi di balik cadar merah. Ia adalah Ratu Agung Selendang Merah, istri sah Raja Agung. Satu-satunya Istri sah Raja Agung yang belum diketahui identitas aslinya oleh siapapun juga.


"Tidak mungkin!." Selir Indraswari Jayanti tidak terima dengan hasil keputusan itu. "Tidak mungkin putraku menunjuknya!. Ini pasti ada kesalahan!." Amarahnya membuncah karena bukan salah satu dari anaknya. "Tidak mungkin anakku arzaguna aswangga menunjuk wanita itu menjadi penggantinya!." Sakit hati, itulah yang ia rasakan saat ini.


"Ya, itu benar!. Tidak mungkin rakanda agung menunjuk wanita yang tidak jelas identitasnya ini ditunjuk oleh rakanda agung untuk menggantikannya." Pangeran Arzaguna Barata tidak terima. "Itu semua pasti telah diatur olehnya!. Wanita itu pasti telah merencanakan sesuatu untuk menjadi ratu agung!. Aku yakin dia yang telah mencelakai rakanda gusti raja agung!." Tangannya menunjuk ke arah Ratu Agung Selendang Merah. Sehingga mereka semua menatap Ratu Agung Selendang Merah penuh kebencian yang mendalam. Namun Ratu Agung Selendang Merah hanya diam saja, tidak menanggapi apa yang mereka katakan padanya.


"Aku juga tidak terima dengan keputusan itu!. Pasti itu diubah oleh seseorang!. Pasti ada yang telah menggantikan tulisan asli dari nanda raja agung!." Selir Kamala Hastanti juga tidak terima.


"Saya juga istri dari raja rakanda raja agung. Saya harusnya juga berhak untuk memimpin istana ini, tapi kenapa malah ratu agung yang tidak jelas siapa dirinya itu." Selir Raja agung baru Manik Keshwari juga tidak terima?.


"Diam kau selir rendahan!. Berani sekali kau bersuara dan mengatakan jika kau berhak menggantikan rakanda raja agung?." Putri Selir Indraswari Jayanti menunjuk kiri ke arah Selir Raja Agung baru dengan penuh kemarahan. "Apakah kau tidak bisa berkaca?. Jika kedudukan mu di sini sangat lemah?. Sebaiknya kau diam saja!." Putri Kemuning Indraswari benar-benar merendahkan Selir Raja Agung baru Manik Keshwari.


Mereka semua merasa berhak untuk mendapatkan paksa ratu agung. Tapi pada kenyataannya raja agung memilih ratu agung untuk memerintah kerajaan untuk sementara waktu.


"Meskipun aku selir kedua dari mendiang raja agung azraguna chandra. Aku juga berhak, karena anakku memiliki kemampuan untuk memimpin kerajaan ini." Selir kedua mendiang  Raja Agung Arzaguna Chandra bersuara.


"Saya pasti tidak akan mengecewakan siapapun saja yang memberikan saya kesempatan pada saya untuk memimpin istana berserta kerajaan ini." Putri Mustika Gendari memberi hormat pada mereka semua.


"Kalian berdua sebaiknya diam saja." Selir Indraswari Jayanti, Selir pertama dari mendiang Raja Agung Arzaguna Chandra menatap tajam ke arah mereka. "Yang paling berhak itu adalah putriku. Putriku sedarah sekandung dengan ananda raja agung. Jadi sebaiknya kalian tidak usah banyak bicara dan banyak keinginan." Selir Indraswari Jayanti tersenyum lebar menatap mereka semua.


Hingga terjadi keributan di bilik Raja Agung pada saat ini. Mereka semua merasa tidak suka dan tidak senang atas apa yang dikatakan oleh Selir Indraswari Jayanti. Saat itu juga Penasehat Raja Agung Dewandaru memperlihatkan bagaimana sikap mereka. "Diam!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras. Membuat mereka semua terkejut, terdiam karena tidak menyangka jika Penasehat Raja Agung Dewandaru berani membentak mereka semua?.


"Kalian semua tidak usah meragukan apa yang telah ditulis oleh yang mulia raja agung. Aku sendiri yang menyaksikan yang mulia raja agung menuliskan surat ini." Penasehat Raja Dewandaru sangat kesal melihat sikap protes mereka. "Apakah kalian meragukan keputusan dari raja agung?. Apakah kalian tidak menghormati keadaan raja agung saat ini?. Sungguh sangat memalukan sekali atas apa yang kalian lakukan." Penasehat Raja Agung Dewandaru menatap tajam ke arah mereka semua. "Apakah kalian pikir, siapa yang selalu setia di saat raja agung sakit?. Hingga dalam keadaan seperti ini?. Apakah kalian tidak menyadari kenapa raja agung mempercayakan semua ini pada ratu agung?. Apakah kalian masih belum menyadarinya?." Penasehat Raja Agung Dewandaru membuka kembali ingatan mereka.


Dibalik cadar merah itu, Ratu Agung Selendang Merah menangis sedih. Karena ia yang selalu memperhatikan raja, dan merasakan ada bahaya yang mengancam Raja Agung. Namun pada akhirnya Raja Agung kalah dengan rasa sakit yang ia rasakan. " mereka semua akan mendapatkan hukuman dariku setelah ini aku akan membuat mereka mengakui apa yang telah mereka lakukan pada rak anda raja agung." Dalam hatinya telah bertekad akan melakukan sesuatu pada mereka semua memberi pelajaran kepada siapa saja yang telah menyakiti suaminya.


Mereka semua terdiam, tentunya mereka semua menyadarinya. Mereka semua mengetahui, jika Ratu Agung adalah wanita yang sangat setia pada suaminya. Melayani suaminya dengan sangat baik. Tapi kenapa masih saja keadaan Raja Agung sakit parah hingga tidak sadarkan diri seperti ini?. Mereka semua ingin bertanya seperti itu. Tapi saat itu mereka melihat ada urusan yang membawa Raja Agung untuk diamankan di sebuah tempat. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Hanya waktu yang akan menjawabnya.

__ADS_1


...***...


Kembali di kawasan kumuh.


Jendral kuasa baru saja meninggalkan kawasan kumuh. Tapi sepertinya orang-orang di sekitar sana memang tidak menyukainya terlihat setelah melihat pergi mereka sama sekali ini tidak peduli apakah dia akan kembali atau tidak karena kawasan ini tetap saja akan menjadi tempat yang sangat sangat menyeramkan musik mereka tinggali.


Tapi berita tentang raja agung yang saat ini sedang sakit telah tersebar di tiga kawasan. Sehingga mereka semua semakin terlihat waspada, apalagi ketika kabar ratu agung naik tahta telah disampaikan melalui pemberitahuan polisi-polisi setempat. Berita itu tersebar dengan cepatnya. Mereka telah mengetahui bahwa saat ini kerajaan tiga warna dipimpin oleh seorang ratu. Apakah mereka akan menerima begitu saja?. Jika istana kerajaan tiga warna saat ini dipimpin oleh seorang wanita?. Sebenarnya apa yang terjadi di kerajaan ini saat dipimpin oleh seorang wanita?.


"Aku akan melakukannya dengan baik. Akan aku jaga kawasan ini dengan baik." Wanita muda itu tersenyum kecil, ia menatap semuanya dengan matanya yang masih jernih. Ia seperti seekor elang yang mengamati apa saja yang berada di bawahnya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?.Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.


...***...


Kembali di istana utama.


Setelah surat itu dibacakan mereka semua meninggalkan ruangan itu, hanya ada Ratu Agung Selendang Merah yang berada di sana bersama penasihat Raja Agung Dewandaru. Keduanya menatap Raja Agung yang saat ini sedang terbaring di tempat tidurnya. Mereka merasa simpati dengan apa yang terjadi pada raja agung saat ini.


"Apa yang akan gusti ratu agung lakukan setelah ini?. Apakah gusti ratu agung akan melakukan sesuatu akan melakukan sesuatu padaku gusti raja agung?." Penasihat Raja Agung Dewandaru bertanya.


"Aku akan membawa rakanda gusti raja agung ke suatu tempat yang sangat aman, aku ingin menyembuhkan kondisinya. Saat banyak racun yang berada di dalam tubuhnya, aku sama sekali tidak mengetahui bagaimana caranya mengeluarkan racun itu di dalam tubuh rakanda gusti raja agung." Perasaannya begitu sangat cemas, takut tidak bisa menyelamatkan suaminya.


"Kita harus segera menyembuhkan gusti raja agung. Tapi bagaimana caranya gusti ratu agung melakukan itu?." Penasihat Raja Agung Dewandaru kembali bertanya.


"Aku akan mencari cara apapun untuk menyembuhkannya. Pasti ada caranya, tapi untuk saat ini aku akan membawa rakanda gusti ratu agung ke tempat yang lebih aman." Ratu Agung Selendang Merah belum bisa memastikannya.


"Itu artinya gusti ratu agung mencari perkara dengan mereka. Bagaimana jika mereka memaksa gusti ratu agung untuk mengatakan di mana keberadaan gusti raja agung?." Penasihat Raja Agung terlihat sangat cemas.


"Demi keselamatan rakanda gusti raja agung aku akan melakukannya. Meskipun mereka memasak ku untuk mengatakannya. Akan aku hadapi mereka semua dengan kekuatan ku." Ratu Agung Selendang Merah telah membulatkan tekadnya. "Untuk sementara waktu aku harus menyembunyikan keberadaan rakanda gusti raja agung." Ratu Agung Selendang Merah tidak ingin membahayakan keselamatan suaminya. "Mereka semua harus membayar apa yang telah mereka lakukan pada rakanda gusti raja agung. Akan aku cari semua bukti-bukti yang dapat memberatkan mereka untuk dihukum seberat-beratnya atas apa yang mereka lakukan pada rakanda raja agung." Ratu Agung Selendang Merah tidak terima dengan apa yang terjadi pada suaminya. "Selama ini mereka telah berani bersikap kurang ajar, menekan rakanda gusti raja agung untuk melakukan hal yang tidak seharusnya." Ratu Agung Selendang Merah telah membulatkan tekadnya untuk membalas mereka yang telah membuat suaminya tidak sadarkan diri karena racun yang ada di dalam tubuhnya.


"Hamba akan membantu gusti ratu agung. Hamba tidak akan membiarkan gusti ratu agung bekerja sendirian." Penasihat Raja Agung merasa bersimpati dengan apa yang dikatakan oleh Ratu Agung Selendang Merah. "Hamba juga tidak terima, jika gusti raja agung diperlakukan jahat oleh mereka yang serakah akan kekuasaan." Penasihat Raja Agung Dewandaru selama ini juga memperhatikan mereka semua.


"Terima kasih penasihat raja agung dewandaru. Aku sangat berterima kasih, jika kau mau membantuku." Ratu Agung Selendang Merah sangat senang mendengarnya.


"Dengan senang hati hamba akan membantu gusti ratu agung. Tidak akan hamba biasakan mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Istana ini harus bersih dari orang-orang yang berniat jahat." Penasihat Raja Agung Dewandaru sangat membenci mereka yang serakah. Ia sudah muak dengan apa yang ia lihat selama ini. Mungkin ia hanya bisa diam karena Raja Agung yang baru memerintah, sehingga mereka berlagak kuat.


Apakah yang akan terjadi setelah ini?. Apakah yang akan  dilakukan oleh Ratu Agung Selendang Merah untuk melindungi istana kerajaan?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2