
...***...
Di kediaman Hasedoki Muritachi.
Masih berlanjut pertarungan antara Indusakti dan Hasedoki Muritachi. Sepertinya mereka ingin menunjukkan apa yang mereka miliki?. Kepandaian yang mereka miliki sangat luar biasa. Sehingga mampu melukai musuh mereka?.
DUAKH!.
Mereka saling mengadu tendangan yang sangat kuat, sehingga mereka terjajar beberapa langkah. Namun bukan hanya sekedar sampai di sana saja, keduanya masih mampu mengeluarkan beberapa jurus untuk dimainkan. Kepalan tinju, serta aliran tenaga dalam mereka saling berbenturan. Sehingga apa saja yang ada di ruangan itu hancur menerima tenaga dalam mereka yang sangat kuat.
"Sebaiknya kau jangan melawan. Ini adalah perintah langsung dari gusti ratu agung!. Maka kau harus mendengarkan apa yang aku katakan?." Dengan penuh amarah itu berkata seperti itu.
Indusakti melompat ke arah belakang Hasedoki, setelah itu ia arahkan sebuah batu nirmala berwarna merah sehingga cahaya merah dari batu nirmala itu mengenai tubuhnya.
"Egkhakh!." Hasedoki Muritachi kesakitan karena punggungnya dihantam benda yang cukup kerasa. Namun bukan hanya itu saja, tubuhnya sangat kaku. Sehingga ia tidak bisa bergerak.
Tap!.
Indusakti menepuk pundak Hasedoki Muritachi dengan pelan. "Kau telah berani melawan perintah gusti ratu agung. Maka kau akan menerima hukuman yang lebih berat lagi."
"Diam kau!." Bentak Hasedoki Muritachi dengan suara yang sangat keras. Hatinya sangat memanas karena ia tidak bisa melepaskan diri. "Lepaskan aku!. Jika kau berani maka lawan aku secara jantan!." Bentaknya lagi. Ia tidak terima diperlakukan seperti itu oleh prajurit rendahan.
Plak!.
"Berani sekali kau berkata padaku melawan secara jantan?." Dengan santainya Indusakti memukul kepala Hasedoki Muritachi yang kini masih kaku seperti orang sawahan. "Memangnya apa yang kau lakukan selama ini secara jantan?." Ia bertanya karena ia merasa sangat kesal. Sungguh sangat mereka baginya. "Manusia tidak berguna seperti kau berani mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas." Ucapnya penuh dengan penekanan.
"Beraninya kau!." Hasedoki Muritachi juga tersulut emosi karena ucapan itu. Ingin rasanya ia membunuh Indusakti yang seperti sedang mengejeknya saat ini.
"Heh!." Indusakti mendengus dengan kasarnya. "Tidak usah banyak bicara!. Terima saja hukuman atas apa yang telah kau lakukan. Gusti ratu agung telah menunggu di istana. Kau akan diadili setelah ini." Dengan nada yang tinggi ia berkata seperti itu. "Kau hanya menambah beban saja." Gerutunya dengan kesalnya. "Kau benar-benar tidak berguna!." Meskipun ia adalah seorang prajurit, namun jika atas perintah Ratu Agung Selendang Merah, tentunya ia tidak akan takut melakukan apapun juga.
Indusakti tidak mau membuang-buang waktu lagi. Ia segera membawa paksa Hasedoki dari sana. Karena pekerjaan yang ia lakukan telah selesai. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1
Di Istana Utama.
Lukita dan mentri keuangan Jibat telah sampai di istana. Mereka membawa laporan untuk Ratu Agung Selendang Merah.
"Hormat kami untuk ratu agung selendang merah." Lukita dan mentri keuangan Jibat memberi hormat pada Ratu Agung Selendang Merah.
"Aku terima hormat kalian." Balasnya dengan nada ramah. Meskipun wajahnya tidak terlihat, namun pancaran matanya menunjukkan ketulusan dalam menyambut kedatangan mereka. "Sepertinya kalian telah berhasil membawanya kemari. Ke istana utama untuk segera diadili." Ratu Agung Selendang Merah sangat senang atas apa yang telah mereka lakukan. "Kalian telah melakukan tugas dengan sangat baik." Ratu Agung Selendang Merah senang melihat bisa kembali dengan aman.
"Benar gusti ratu agung. Kami telah mengecek dengan benar. Bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Terutama tuan yangka patari yang merupakan tuan dari mereka." Mentri keuangan Jibat memberi hormat. "Mereka semua telah bersekongkol untuk mengambil itu dengan cara mengalihkan perhatian. Tuan yangka patari yang sengaja mengajak prajurit untuk berbincang-bincang, sedangkan pembantunya mengambil uang yang ada di dalam kotak penyimpanan." Mentri keuangan Jibat sedikit menjelaskan bagaimana situasinya saat itu. "Dan yang lebih parahnya lagi adalah, mereka sampai menaburi racun ke bahan makanan yang gusti ratu agung berikan." Ada perasaan cemas yang ia perlihatkan pada saat itu.
"Seperti yang dikatakan nona lukita, bahwa mereka memang telah berbuat seperti itu. Tempo hari prajurit yang meninggal itu aku rasa juga karena korban dari yangka patari." Ratu Agung Selendang Merah masih ingat dengan kejadian itu.
"Hamba rasa memang seperti itu gusti ratu agung." Mentri keuangan Jibat juga mengetahui masalah itu.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas kerja keras kalian berdua untuk menangkap siapa pelakunya." Ratu Agung Selendang Merah tersenyum kecil dibalik cadar merahnya itu.
"Kami melakukannya dengan segenap hati kami gusti ratu agung." Lukita dan Jibat memberi hormat.
"Kami juga berharap bisa membantu mengubah negeri ini menjadi lebih baik lagi, gusti ratu agung." Lukita dan Jibat kembali memberi hormat. Tentunya mereka tahu harus berbuat apa pada mereka yang telah melakukan kejahatan.
"Kalau begitu kalian segeralah istirahat. Karena besok kita akan mengadakan rapat agung bersama dewan agung, yang akan memutuskan hukuman untuk mereka." Ratu Agung Selendang Merah mempersilahkan mereka untuk untuk beristirahat. "Tapi lakukan persiapkan dengan matang untuk besok, aku yakin dia akan menggunakan berbagai macam cara untuk melarikan diri dari tanggung jawabnya." Ratu Agung Selendang Merah tidak tahan lagi dengan apa yang akan ia lakukan besok.
"Tentunya kami akan melakukan persiapan yang matang, supaya ia bertanggung jawab atas apa telah ia lakukan gusti ratu agung." Jibat tidak akan akan membiarkan itu terjadi. "Jika dia berani menghindar dari tuduhan itu, maka kita harus menggunakan berbagai cara agar membuatnya mengakui perbuatannya itu." Ia tidak ingin usahanya sia-sia nantinya.
"Ya. Harus seperti itu." Ratu Agung Selendang Merah tersenyum puas dibalik cadar merahnya. "Kalau begitu silahkan istirahat." Ucapnya sambil mempersilahkan mereka untuk segera pergi meninggalkan tempat.
"Terima kasih ratu agung. Kami pamit dulu." Lukita dan Jibat pergi meninggalkan ruangan itu setelah memberi hormat.
Sementara itu Ratu Agung Selendang Merah dan Penasehat Raja Agung Dewandaru memperhatikan mereka yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Sepertinya mereka telah melakukan tugas mereka dengan sangat baik." Dewandaru tersenyum penuh kebanggaan atas apa yang telah dilakukan oleh keduanya. "Lalu apa yang akan gusti ratu agung lakukan setelah ini?." Karena penasaran ia bertanya seperti itu.
"Hanya tinggal satu orang lagi." Jawabnya. "Tidak akan lama lagi. Satu oran itu akan sampai." Lanjutnya sambil menunggu seseorang?.
__ADS_1
"Satu orang lagi?." Dewandaru segera memeriksa apa yang dikatakan oleh Ratu Agung Selendang Merah dalam catatan siapa saja yang akan ia panggil. "Maksud gusti ratu agung adalah hasedoki muritachi?." Dewandaru hanya ingin memastikannya. Jika ia tidak salah dalam mengenali seseorang.
"Ya, hanya dia." Balas Ratu Agung Selendang Merah. "Tapi sebentar lagi mereka akan sampai." Ratu Agung Selendang Merah sedang menunggu seseorang untuk melaporkan kabar yang berbahagia itu padanya.
"Syukurlah kalau begitu gusti ratu." Dewandaru sangat senang mendengarnya. "Kalau begitu untuk sementara waktu, kenapa gusti ratu agung tidak istirahat sebelum mereka datang?." Penasihat Raja Agung Dewandaru juga memperhatikan kesehatan Ratu Agung Selendang Merah. "Pastilah akan melelahkan nantinya, karena mereka adalah orang-orang yang memiliki harga diri yang sangat tinggi untuk mengakui perbuatan yang telah mereka lakukan." Tentunya ia sangat hafal bagaimana perangai orang-orang bangsawan jika ketahuan telah melakukan kejahatan.
"Hanya sebentar lagi. Aku yakin sebentar lagi dia juga akan datang. Jadi aku harus menunda istirahat sebentar, karena aku sangat yakin dia akan segera datang." Ratu Agung Selendang Merah tidak ingin membuat seseorang lupa dengan tugasnya. Karena itulah ia harus tetap sabar, apapun keadaan yang ia hadapi saat ini. "Dia telah berhasil melakukannya." Dalam hatinya merasa sangat bersyukur karena ia tidak sabar lagi.
"Baiklah. Kalau begitu kita menunggu saja saja." Dewandaru sebenarnya sedikit sedih karena Ratu Agung Selendang Merah terlalu memaksakan diri. "Hamba akan menemani gusti ratu agung di sini." Tentunya ia tidak akan membiarkan Ratu Agung Selendang Merah melakukan itu sendirian.
"Terima kasih dewandaru. Kau memang sangat baik sekali." Ratu Agung Selendang Merah tentunya mengetahui itu.
"Hamba akan selalu bersama gusti putri, apapun yang akan terjadi nantinya." Itulah sumpahnya.
Tak berselang lama setelah mereka berkata seperti itu, Indusakti datang pada mereka dengan keadaan yang sedikit kacau.
"Apakah terasa sulit untuk menangkap mereka, indusakti?." Ratu Agung Selendang Merah bertanya seperti itu?. "Kau juga terlihat sedikit kusut." Matanya memperhatikan bagaimana penampilan Indusakti.
"Maafkan hamba gusti ratu. Karena dia melawan ketika hendak hamba tangkap." Ia memberi hormat pada Ratu Agung Selendang Merah. "Hampir saja hamba melakukan hal yang sangat berbahaya." Ia masih ingat dengan apa yang terjadi pada saat itu. "Tapi setidaknya, dengan batu nirmala yang gusti ratu agung berikan, ini bisa membantu hamba dengan sangat baik." Lanjutnya.
"Kalau begitu buat dia mengakui apa yang telah ia lakukan." Ratu Agung Selendang Merah terkuat sangat marah. "Anggap saja itu adalah hukuman untuknya karena telah berani bermain-main denganku." Ratu Agung Selendang Merah telah berani mengusir seseorang dari sini?. Tidak ada tanggapan dari mereka semua.
"Kalau begitu kau istirahat lah. Karena kita akan bersiap-siap untuk besok." Ratu Agung Selendang Merah memberi waktu istirahat pada anak buah kepercayaan mereka. "Jangan biarkan dia kabur dari apa yang telah ia lakukan selama ini." Itulah harapannya.
"Akan hamba kerjakan dengan baik gusti ratu." Setelah memandu hormat ia segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Ya, aku menunggu untuk itu." Ratu Agung Selendang Merah hanya ingin mereka sadar, bahwa ambisi yang mereka lakukan hanyalah akan menyengsarakan orang lain. Ambisi yang tidak memberikan manfaat pada siapapun, dan hanya merugikan.
Apakah yang akan mereka lakukan setelah ini?. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta. Temukan jawabannya.
Next.
...***...
__ADS_1