
...***...
Kediaman keluarga Selir Indraswari Jayanti.
Setelah sidang itu selesai, mereka langsung meninggalkan istana. Tidak ada satu pun dari mereka yang tinggal di sana. Mereka masih bingung dengan apa yang telah terjadi. Mereka tidak menduga jika Ratu agung Selendang Merah benar-benar melakukan tugasnya dengan baik sebagai Ratu Agung?. Tapi sepertinya mereka masih tidak menyerah dengan apa yang akan mereka lakukan pada Ratu agung Selendang Merah.
"Ternyata wanita licik itu memiliki kepandaian yang tidak kita ketahui sebelumnya." Selir Indraswari Jayanti bingung mau berkata apa lagi. "Tubuhku masih terasa sakit setelah terkena dampak kekuatan yang ia gunakan tadi." Lanjutnya lagi, ia masih merasakan tekanan hawa yang sangat kuat.
"Kita harus tetap menjatuhkan wanita pengganggu itu. Karena dia tidak berhak untuk mendapatkan gelar ratu agung. Rasanya aku sangat muak dengan apa yang ia lakukan akhir-akhir ini." Kemuning Indraswari sangat takut dengan kekuatan itu, tapi ia keinginannya untuk menjatuhkan Ratu Agung Selendang Merah masih sangat kuat.
"Kau benar sekali adik. Wanita licik itu harus segera disingkirkan. Karena jika tidak segera kita singkirkan, bisa jadi dia yang menguasai kerajaan ini, dan dia berniat ingin menyingkirkan rakanda gusti raja agung suatu hari nanti." Pangeran Arzaguna Barata juga masih merasakan apa yang ia rasakan pada saat itu. Tubuhnya benar-benar sangat kaku dan kebas setelah menerima dampak dari jurus Seribu tekanan telapak tangan dewa. "Itu jurus yang sangat berbahaya untuk menjatuhkan musuh." Dalam hatinya berkata seperti itu, karena baru kali ini ia merasakan langsung salah satu jurus yang sangat menakutkan untuk dirasakan. "Bahkan rakanda gusti raja agung tidak memiliki jurus itu. Dari mana wanita itu mendapatkan jurus itu?." Dalam hatinya bertanya-tanya mengenai itu, rasanya sangat aneh dan mencurigakan.
"Kita harus segera mungkin menyingkirkan wanita itu. Dia sangat meresahkan jika hanya dibiarkan begitu saja." Selir Indraswari Jayanti merasakan perasaan yang tidak karuan. Ia merasa terancam dengan adanya Ratu Agung Selendang Merah.
"Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini?. Apakah kita bisa melukainya suatu hari nanti?." Kemuning Indraswari sampai bertanya pada ibunda dan kakaknya mengenai rencana yang akan mereka gunakan untuk mengalahkan Ratu Agung.
"Kita harus bisa menyingkirkan wanita itu. Karena aku sama sekali tidak sudi memiliki menantu seperti itu." Amarahnya mendadak bergejolak. Selir Indraswari Jayanti sangat tidak terima jika wanita muda bercadar itu adalah menantunya.
"Ya, ibunda sangat benar. Kita harus segera menyingkirkan wanita itu dari istana ini." Kemuning Indraswari seperti orang kehilangan akal.
"Sudah saatnya keturunan asli dari ayahanda gusti raja agung yang harus memimpin negeri ini." Pangeran Arzaguna Barata sepertinya memiliki rencana besar.
"Ya. Tentu saja seperti itu." Selir Indraswari Jayanti sangat tidak sabar.
Tapi rasanya mereka hanya berbicara berputar-putar saja. Pikiran mereka sangat kabar, tidak bisa memikirkan hal yang lain lagi. Rasa benci dan perasaan tidak suka sangat tergambar jelas pada saat itu juga.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah masalah itu bisa diatasi dengan baik?. Bagaimana caranya mereka menyelesaikan kasus itu?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Simak terus ceritanya, mohon dukungannya ya pembaca tercinta. Salam penuh cinta.
__ADS_1
...***...
...Kembali ke istana Utama....
Ratu Agung Selendang Merah menjelaskan pada mereka semua mengenai apa yang akan mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah saat ini sangat serius menimpa negeri ini.
"Kasus yang pertama, masalah keuangan yang harusnya diselesaikan oleh menteri keuangan jibat bersama lukita." Ratu Agung langsung memberikan tugas pada Menteri Keuangan Jibat dan Lukita.
"Akan hamba laksanakan dengan baik gusti ratu agung." Dengan senang hati menteri keuangan Jibat akan melaksanakan tugas itu dengan sangat baik. Apalagi berduaan dengan Lukita, itu adalah hadiah tugas yang wajib ia kerjakan.
"Eh?. Lalu bagaimana dengan hamba gusti ratu agung?." Sepertinya Jendral Kuasa tidak terima, ia tidak terima jika Lukita tugas bersama dengan Lukita, wanita yang ia cintai.
"Kau, bersama adik pangeran segera tangkap orang-orang yang telah membuat lubang di hutan kawasan kumuh." Ratu Agung Selendang Merah menatap serius ke arah Jendral Kuasa yang hendak protes. "Jika tidak segera diatasi, takutnya akan terjadi longsor di sana. Jika longsor terjadi, maka kawasan kumuh akan tenggelam oleh tanah. Aku tidak mau lagi ada korban karena masalah itu." Ratu Agung Selendang Merah sangat memohon pada mereka agar segera mengatasi masalah itu dengan baik.
"Akan kami laksanakan dengan baik." Jendral Kuasa terpaksa mengiyakan apa yang dikatakan oleh Ratu Agung Selendang Merah.
"Eh?. Rasanya aku tidak ikhlas jika jibat malah berduaan dengan lukita. Kenapa aku malah bersamaan pangeran arzaguna basukarna?." Dalam hati Jendral Kuasa sangat tidak terima dengan itu. "Kau harusnya menyelesaikan masalahmu sendiri!. Kenapa kau malah merepotkan nona lukita?." Sorot matanya menatap tajam ke arah Menteri Keuangan Jibat, seakan-akan ia baru saja memberi kode pada Menteri Keuangan Jibat.
"Kau mau apa dengan menatapku seperti itu?. Jika kau tidak suka aku berduaan dengan lukita, maka katakan langsung pada gusti ratu agung. Jangan melihat ke arahku dengan tatapan yang menjijikkan!." Menteri keuangan Jibat dapat merasakan tatapan Jendral Kuasa yang sangat tidak terima jika ia berduaan dengan Lukita.
"Hadeh!. Mereka ini sebenarnya sedang melakukan apa?." Lukita hanya pasrah saja. Rasanya tidak mungkin keduanya memiliki perasaan apapun padanya.
"Kalau begitu kami semua pamit gusti ratu agung." Mereka semua memberi hormat, termasuk Pangeran Arzaguna Basukarna yang menerima tugas itu.
"Ya. Aku mohon pada kalian agar kembali secepatnya." Hanya itu harapan dari Ratu Agung Selendang Merah.
"Kami mengerti gusti ratu agung." Setelah memberi hormat, mereka semua pergi meninggalkan ruang Pribadi Raja Agung. Kecuali Pangeran Arzaguna Basukarna yang masih ingin menyampaikan sesuatu pada Ratu Agung.
__ADS_1
"Terima kasih saya ucapkan pada yunda gusti ratu agung telah memberikan saya kesempatan untuk menyelesaikan masalah yang sangat penting ini." Pangeran Arzaguna Basukarna tersenyum kecil menatap Ratu Agung Selendang Merah.
"Sama-sama adik pangeran." Ratu Agung Selendang Merah sangat senang dengan apa yang dilakukan oleh Pangeran Arzaguna Basukarna saat ini. "Semoga adik pangeran bisa melakukannya dengan baik. Aku akan sangat senang jika adik pangeran dapat melihat kejadian kerajaan ini dengan mata yang dapat melihat, serta mata batin untuk merasakan bagaimana kesedihan dirasakan oleh orang lain." Ratu Agung Selendang Merah tersenyum kecil dibalik cadar merahnya.
"Kalau begitu saya pamit yunda gusti ratu agung." Rasanya tidak ada lagi yang hendak ia sampaikan pada Ratu Agung Selendang Merah. Setelah itu ia pergi meninggalkan ruangan itu. Karena baginya menyelesaikan masalah saat ini sangat penting.
"Berhati-hatilah adik pangeran. Saya selalu mendoakan keselamatan adik pangeran dimana pun adik pangeran berada." Ratu Agung Selendang Merah sebenernya sangat takut dengan keterlibatan Pangeran Arzaguna Basukarna dalam masalah itu, tapi ia harus tetap melakukan itu dengan baik.
"Dewandaru. Buatkan surat panggilan kepada tuan hasedoki muritachi. Dia yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi." Ucapnya setelah mereka semua pergi dari ruangannya.
"Jadi gusti ratu agung telah mengetahui siapa yang telah melakukannya?." Penasihat Raja Agung Dewandaru tercengang.
"Taun hasedoki muritachi adalah salah satu keluarga bangsawan yang memiliki harta dengan menambang emas. Ia mengira akan ada emas di kawasan kumuh menurut alat canggih yang ia gunakan untuk menemukan keberadaan tambang emas itu." Jawab Ratu Agung Selendang Merah dengan kesalnya.
"Lalu apa yang membuat gusti ratu agung ingin menangkapnya?. Apakah itu tidak apa-apa nantinya?." Ia ingin mengetahui tindakan seperti apa yang akan dilakukan Ratu Agung Selendang.
"Tentu saja tidak apa-apa. Karena menambang tanah sembarangan, apalagi sampai membawa kerusakaan itu sangat tajam bisa dimaafkan." Ratu Agung Selendang Merah semakin marah. "Apakah mereka tidak menyadari jika melakukan itu akan memberikan dampak yang sangat buruk nantinya?." Ia seperti bertanya pada diri sendiri mengenai apa yang terjadi.
"Gusti ratu agung benar. Akan sangat berbahaya jika tidak segera dicegah." Penasihat Raja Agung Dewandaru sangat setuju.
"Kalau begitu katakan pada dewan sekretaris agar mencatat dengan baik pesan yang aku sampaikan pada mereka." Ratu Agung Selendang Merah memberi perintah.
"Akan hamba kerjakan dengan baik gusti ratu agung." Dewandaru juga meninggalkan ruangan itu untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Ratu Agung Selendang Merah padanya.
Apakah yang akan mereka lakukan setelah ini?. Simak terus ceritanya.
...***...
__ADS_1