
...***...
Malam harinya, Pangeran Arzaguna Basukarna saat ini sedang menuju istana Barat. Dimana Ratu Agung Selendang Merah tinggal. Ia tidak tahan lagi dengan apa yang akan dilakukan oleh keluarganya sendiri. Sehingga ia datang secara diam-diam ke istana barat untuk bertemu dengan Ratu Agung Selendang Merah?.
"Maafkan saya, karena saya tidak datang sidangnya tidak bisa dilanjutkan. Sungguh maafkan saya." Hanya kata itu yang bisa ia katakan saat memulai pembicaraan. "Saya sangat menyesal karena tidak bisa datang." Hatinya saat itu sangat kecewa.
"Adik pangeran tidak perlu cemas. Lagipula tidak baik terburu-buru untuk mengadili seseorang." Ia mengerti dengan keadaan Pangeran Arzaguna Basukarna saat ini. "Kita perlu persiapan yang sangat matang untuk melakukan itu semua. Supaya apa yang kita lakukan nantinya tidak salah, karena lawan kita memiliki mental baca untuk lepas dari hukuman." Ratu Agung Selendang Merah menjelaskan itu dengan senyuman lembut.
Pangeran Arzaguna Basukarna merasa bersalah. Ia sangat sedih dengan apa yang ia rasakan saat ini. "Saya hanya merasa tidak berguna saja sebagai seorang pangeran, ketika istana ini dihadapi oleh masalah yang sangat berat, dan ayunda ratu agung melakukan itu sendirian." Ucapnya dengan perasaan sangat sesak.
"Jangan sedih adik pangeran." Ratu Agung Selendang Merah hanya tidak ingin Pangeran Arzaguna Basukarna tertekan. "Semuanya akan baik-baik saja." Balas Ratu Agung Selendang Merah. "Lagi pula, aku tidak bekerja sendirian saat ini. Ada adik pangeran yang membantuku saat ini." Senyumannya sangat tulus, sehingga menyentuh hati Pangeran Arzaguna Barsukarna.
"Yunda gusti ratu agung." Ingin rasanya ia mencurahkan semuanya.
"Terkadang kita ada dipihak yang berseberangan. Karena itulah adik pangeran harus kuat." Berat memang hidup ini. "Tidak semuanya satu arah, dan bahkan sering terjadi bentrokan yang tidak diinginkan." Lanjutnya.
Pangeran Arzaguna Basukarna hanya tertunduk saja. Ratu Agung Selendang Merah seakan-akan memahami apa yang ia rasakan saat ini. "Mereka berkata, orang-orang agung adalah orang yang sempurna. Akan tetapi dengan mudahnya mereka saling menyakiti satu sama lain." Hatinya sangat sedih. "Bagaimana menurut yunda gusti ratu agung mengenai masalah ini?." Ia bertanya sebagai sesama keluarga. "Apakah yunda gusti ratu agung menghukum mereka suatu hari nanti?." Tatapan matanya sangat sedih. "Ibunda memilik niat yang sangat jahat pada yunda ratu agung." Hatinya kembali sedih mengingat apa yang telah terjadi.
"Adik pangeran. Ini semua hanyalah ambisi semata. Ambisi yang sangat menyesatkan yang sedang membuncah di dalam diri mereka." Ratu Agung Selendang Merah tidak ingin mengadili seseorang dari satu pandangan saja. "Apalagi mereka sampai hati melukai rakanda gusti raja agung." Hatinya sangat sakit.
"Melukai rakanda raja agung?." Dalam hati Pangeran Arzaguna Barsukarna sedikit terkejut dengan apa yang ia dengar saat itu.
"Jika kita menghukum mereka, menyadarkan apa yang telah mereka lakukan itu adalah perbuatan yang salah, maka mereka akan terjebak di dalam dosa kesalahan yang mereka perbuat." Ratu Agung Selendang Merah menekan perasaannya. "Kita yang masih normal ini jangan sampai terbawa arus kejahatan mereka. Itu sangat tidak baik." Lanjutnya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan. Apakah benar?. Mereka yang telah mencelakai rakanda raja agung?." Pangeran Arzaguna Basukarna tidak dapat lagi menahan tangisnya. "Ibunda telah merencanakan kejahatan untuk mencelakai yunda gusti ratu agung?. Rakanda raja agung?." Hatinya semakin sesak dengan perasaan itu. *Saya tidak tahan lagi mendengarkan rencana mereka terhadap yunda gusti ratu agung. Apalagi mereka telah berani mencelakai rakanda raja agung!." Tangisnya begitu pilu dan sakit. "Karena itulah yunda sesegera mungkin harus memberikan hukuman pada mereka." Ya, hatinya sudah tidak tahan lagi. "Jangan biarkan mereka melakukan hal yang lebih jahat lagi." Sungguh, hatinya sangat pedih setelah mengetahui, jika keluarganya terlibat dalam komanya Raja Agung?.
"Adik pangeran sungguh sangat baik. Sangat baik." Ratu Agung Selendang Merah tidak tega mendengarnya. "Untuk rencana ini, adik pangeran tenang saja. Aku memiliki rencana yang khusus akan akan aku gunakan untuk menghukum mereka." Ratu Agung Selendang Merah sangat menyayangi Pangeran Arzaguna Basukarna.
"Apakah itu benar yunda gusti ratu agung?. Apakah benar yunda gusti ratu agung memiliki rencana untuk menghukum mereka semua?." Pangeran Arzaguna Basukarna sedikit bersemangat. Ia menghapus air matanya.
"Asalkan adik pangeran berjanji tidak akan dendam padaku. Karena aku tidak ingin adik pangeran bersedih dan berakhir dendam." Hanya ingin memastikannya saja.
"Saya tidak akan mungkin dendam pada yunda gusti ratu agung. Saya berjanji akan bersama yunda gusti ratu agung dalam kebaikan." Hatinya telah siap akan hak itu. "Saya bersumpah akan melindungi yunda gusti ratu agung jika terjadi sesuatu nantinya pada yunda gusti ratu agung." Itu adalah sumpahnya. "Mereka harus menerima hukuman yang sangat berat, atas apa yang telah mereka lakukan pada rakanda raja agung." Hatinya seperti sedang diisi oleh kebencian yang sangat mendalam saat itu.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu adik pangeran untuk saat ini pulanglah. Besok pagi bersiap-siaplah untuk sidang. Saya akan menjemput adik gusti pangeran untuk sidang pertama yang akan adik pangeran lakukan besok." Ratu Agung Selendang Merah senang mendengarnya.
"Terima kasih yunda gusti ratu agung. Sungguh saya sangat bersemangat untuk besok." Pangeran Arzaguna Basukarna memberi hormat. "Saya akan mengingat kebaikan yunda gusti ratu agung pada malam ini." Lanjutnya. "Saya tidak akan melupakannya. Bagi saya, orang yang dapat saya percayai selain rakanda raja agung, dan juga ayahanda raja agung adalah yunda ratu agung. Karena itulah, saya sangat percaya dengan apa yang akan yunda ratu agung lakukan." Dengan raut wajah yang sangat polos ia berkata seperti itu.
"Terima kasih, karena adik pangeran sangat percaya padaku." Ratu Agung Selendang Merah sangat senang mendengarkan ucapan itu.
"Kalau begitu saya pergi dulu." Pangeran Arzaguna Barsukarna langsung pergi dari sana.
"Berhati-hatilah. Aku yang akan mengantarmu dari jauh." Diam-diam Ratu Agung Selendang Merah menyiapkan elang ajaib yang akan menjadi pengawal Pangeran Arzaguna Barsukarna.
Apakah mereka bisa melakukan kebaikan dalam satu langkah?. Apakah benar Pangeran Arzaguna Basukarna akan sanggup melakukan itu?. Karena yang ia hadapi suatu hari nanti adalah ibunda kandungnya sendiri. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu Pangeran Arzaguna Barata saat ini masih memikirkan apa yang telah diperlihatkan Ratu Agung Selendang Merah. Hatinya sangat gelisah, apa yang haru ia lakukan untuk menghadapi wanita itu?.
"Kenapa wanita itu bisa mengetahui apa yang kami rencanakan?." Dalam hatinya bertanya-tanya. Bahkan sampai larut malam ia tidak bisa tertidur karena memikirkan itu. "Apa yang akan aku katakan pada ibunda?. Jika dia telah mengetahui semua rencana yang telah kami susun dengan baik?." Hatinya sangat tidak tenang, memikirkan apa saja yang ia lihat.
"Aku hanya ingin menjadi raja. Ibunda juga menginginkan aku menjadi raja." Ia masih ingat dengan apa yang dikatakan oleh ibundanya pada saat itu. "Sedangkan ayahanda gusti raja agung menginginkan rakanda pangeran arzaguna aswangga yang menjadi raja." Hatinya sangat gelisah. "Kenapa ayahanda gusti raja agung memilih rakanda pangeran?. Apa bedanya kami?." Terkadang ia bertanya-tanya dimana letak perbedaannya mereka sehingga yang dipilih adalah kakaknya?. Bukan dirinya?. Bahkan yang dipilih untuk menggantikan kakaknya malah Ratu Agung, bukan dirinya?. "Apa yang salah sebenarnya pada diriku ini?. Kenapa aku tidak bisa menjadi raja?." Hatinya sangat sakit mengingat itu semua.
...***...
Ratu Agung Selendang Merah saat ini sedang menatap suami yang ia cintai. Perasaan suasana hatinya sangat tidak menentu. Tapi setidaknya suaminya telah mengalami kemajuan. Meskipun kesadarannya belum bisa ia belum ia pulihkan. Karena racun yang masuk ke dalam tubuh suaminya sangat ganas.
"Rakanda gusti raja agung. Apakah rakanda gusti raja agung tidak merindukan saya?." Ia genggam tangan suaminya dengan eratnya. "Saat ini saya sedang mencoba untuk membuat mereka membayar apa yang telah mereka lakukan. Karena itulah berikan saya kekuatan untuk terus melangkah. Saya sangat rapuh saat ini tanpa adanya rakanda gusti raja agung di samping saya." Air matanya tidak dapat lagi ia tahan. Karena kesedihan yang ia rasakan sangat dalam. "Kuatkan diri kanda untuk tetap bertahan. Saya bersumpah akan terus menjadi orang yang akan menjaga rakanda gusti raja agung dalam keadaan apapun." Perasaannya semakin sesak, hingga ia tidak dapat lagi menahan tangisnya. "Mari kita sama-sama menyelesaikan masalah di negri ini." Hatinya sangat sakit.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah Ratu Agung Selendang Merah mampu berjalan dengan baik?. Apakah Ratu Agung Selendang Merah masih bisa bertahan dengan segala masalah yang terjadi di negeri ini?. Bahkan ketika semua orang ingin mengambil tahta kerajaan ini?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Simak terus ceritanya, jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...
Sementara itu.
Buzara Keshwari saat itu sedang bertemu dengan Selir Kamala Hastanti. Sepertinya mereka saat itu sedang membicarakan hal yang sangat serius, sehingga mereka terlihat sangat seram.
__ADS_1
"Apakah sebagai seorang selir yang bertanggung jawab atas keselamatan menantunya, kau tidak perhatian pada pada anakku?." Ucapnya dengan sedikit kesal.
"Apakah seperti ini tanggapanmu sebagai besanku?." Selir Kamala Hastanti tentunya tidak ingin merasa dipersalahkan. "Anakmu saja yang memang jarang datang ke istana. Jadi jangan terlalu menyalahkan aku." Ia seakan-akan memberikan kode agar jangan terlalu lancang padanya. "Selain itu kau juga tidak datang di saat anakku ananda raja agung sedang sakit." Hatinya memang tidak terima dengan itu semua.
"Lantas?. Bagaimana dengan nasib istri sah dari ananda raja agung?. Aku dengar dia telah menjadi ratu agung sementara saat ini." Ternyata ia telah mendengarkan kabar itu. "Kenapa dia yang dijadikan ratu agung?. Bukankah masih ada yang lainnya?." Saat itu hatinya sedang dipenuhi dengan tanda tanya yang sangat luar biasa.
"Maaf saja, ananda raja agung telah memilihnya. Jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa." Balas Selir Kamala Hastanti. "Namun, yang aku tangkap saat ini, kau seperti memiliki dendam pada wanita bercadar merah itu." Ucapnya dengan nada menggoda.
"Dia telah berani menyentuh anakku. Jadi aku akan melakukan sesuatu padanya." Jawabnya. "Aku sama sekali tidak suka, jika ada yang berani menyentuh anakku." Dengan perasaan yang membara ia berkata seperti itu.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membantumu untuk melakukannya." Ucapnya dengan sangat senang hati.
"Benarkah kau mau membantuku?. Atau kau sedang memiliki rencana menyakitinya melalui aku?." Ada perasaan curiga yang ia rasakan saat itu.
"Tentu saja aku akan membantumu. Memangnya apa lagi?." Balasnya dengan senyuman licik. "Kau pikir aku sudi menerima wanita tidak diketahui identitasnya itu menjadi menantuku?. Sangat memalukan sekali." Ucapnya dengan penuh kebencian yang sangat dalam.
"Terima kasih. Jika kau memang bersedia membantuku." Hanya itu saja yang salah ia katakan.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu.
Pada saat itu, Pangeran Arzaguna Barsukarna telah sampai di biliknya dengan selamat. Ia tidak ketahuan sama sekali karena telah meninggalkan biliknya.
"Syukurlah, aku sangat khawatir." Dalam hatinya merasa lega dengan apa yang telah ia lalui. "Aku sangat bersyukur. Apalagi yunda ratu agung telah berjanji akan menjemput ku besok. Jadi aku tidak perlu khawatir. Aku sangat percaya, jika yunda ratu agung akan melakukan itu." Hatinya sangat berharap itu terjadi besoknya.
Pangeran Arzaguna Barsukarna mencoba untuk merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Pikirannya sangat kusut saat itu, ia harus tidur untuk sidang besok?. Tapi sayangnya pikirannya sangat terganggu setelah apa yang dikatakan Ratu Agung Selendang Merah mengenal ibundanya yang terlibat dalam penyebab koma Raja Agung. "Kenapa ibunda sampai hati melakukan itu pada rakanda raja agung?. Apa sebenarnya yang diinginkan ibunda?." Itulah yang membuatnya merasa penasaran.
Kenapa keluarganya memiliki ambisi yang sangat tidak baik?. Apa yang mereka incar sebenarnya?. "Yunda ratu agung jelas-jelas adalah wanita yang sangat baik. Jika tidak baik, tidak mungkin rakanda raja agung menikahinya. Mereka saja yang terlalu berlebihan terhadap yunda ratu agung." Dalam pikirannya yang kusut, Pangeran Arzaguna Barsukarna mencoba untuk berpikir jernih.
Ia mencoba memejamkan matanya walaupun terasa sangat sulit?. "Aku harus membantu yunda ratu agung untuk menyelesaikan masalah yang telah terjadi." Dalam hatinya sangat ingin melakukan itu. Walaupun nantinya ia akan bermusuhan dengan keluarganya sendiri. "Akan aku hadapi siapa saja yang melakukan kejahatan di istana ini." Ucapnya. "Rakanda raja agung, berikan aku kekuatan untuk membantu yunda ratu agung untuk menyelesaikan masalah yang terjadi." Dalam hatinya sangat berharap akan ada kekuatan yang dapat membantunya. "Aku sangat kasihan pada yunda agung yang selalu dimusuhi oleh mereka." Hatinya semakin tidak tega melihat apa yang dialami oleh Ratu Agung Selendang Merah. "Kali ini aku akan membantunya dengan sepenuh hatiku." Ucapnya lagi. Ia sangat berharap, akan dapat membantu Ratu Agung Selendang Merah mengatasi masalah yang terjadi, termasuk menghentikan ibundanya selir Indraswari Jayanti yang memiliki ambisi yang tidak biasa. "Tidak mungkin aku menjadi raja. Sedangkan yang lebih pantas telah ada." Dalam hatinya mengeluh.
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bisakah ia melakukannya?. Next.
...***...