
...**...
Ratu Agung Selendang Merah saat itu sedang bersama Perdana menteri pertahanan Bazura Keshwari dan Selir Kamala Hastanti yang saat itu terlihat panas?. Apakah yang akan dilakukan Ratu Agung Selendang Merah terhadap mereka?.
"Apakah yang membuat perdana menteri pertahanan buzara keshwari dan ibunda selir datang ke sini?. Rasanya ini sangat tidak biasa." Ratu Agung Selendang Merah memberi kode pada pelayan istana untuk menyiapkan makanan.
"Kau tidak usah banyak berkata seperti itu padaku." Entah kenapa ia malah memanas. "Saat ini aku masih kesal padamu atas apa yang telah kau lakukan padaku tempo hari!." Hatinya memang panas, dan ia genggam kuat gelas yang ada di tangannya saat itu. "Jika saja aku melakukan itu, maka aku hajar dia saat ini." Dalam hatinya sangat geram itu.
"Sepertinya mereka sedang memanas." Dalam hati Perdana Menteri Pertahanan Buzara Keshwari merasa heran dengan apa yang ia lihat saat itu.
"Menjadi orang pendendam itu sangat tidak baik. Nanti cepat tua, karena selalu memikirkan bagaimana caranya memberi hukuman pada orang lain." Pelan, tapi menusuk.
"Diam kau!." Bentak Selir Kamala Hastanti dengan emosi. "Kami datang hari ini untuk memberitahu padamu!. Bahwa menantu kesayangan ku selir manik keshwari saat ini sedang hamil tingga minggu!." Dengan sangat percaya diri ia berkata seperti itu. "Apakah kau tahu artinya itu?!." Dengan nada penuh penekanan itu berkata seperti itu. "Artinya istana timur akan digunakan untuk kediaman selir selama mengandung." Lanjutnya.
Saat itu mereka semua yang dengarkan ucapan itu terdiam sejenak. Entah itu Ratu Agung Selendang Merah dan para pelayan istana yang pada saat itu mendengarkan ucapan itu, mereka semua sedang mencerna apa yang telah mereka dengar saat itu. Ratu Agung Selendang Merah memberi kode pada pelayan istana agar tidak menghidangkan makanan saat itu.
"Putriku manik keshwari saat ini sedang mengandung anak dari ananda raja agung. Jadi kau harus bergegas meninggalkan istana ini." Kali ini Perdana Menteri Pertahanan Buzara Keshwari yang berbicara.
"Bfffh!." Ratu Agung Selendang Merah pada saat itu secara alami tertawa pada saat itu akan tetapi ia telah berusaha untuk menahannya.
Mereka semua melihat ke arah Ratu Agung selendang merah yang saat itu tertawa?. Apakah ada salah dari ucapan Perdana Menteri Pertahanan Buzara Keshwari?. Sehingga membuat Ratu Agung selendang merah tertawa?.
"Kau sangat tidak sopan!. Kurang ajar!. Bedebah!." Umpat Perdana Menteri Pertahanan Buzara Keshwari dengan penuh emosi yang sangat luar biasa. "Apa yang kau tertawakan?!. Apakah ucapanku ini sangat lucu untuk kau tertawakan?!." Ucapnya dengan amarah yang tidak bisa ia tahan lagi.
"Jangan bercanda kau!." Selir Kamala Hastanti pada saat itu kita terbawa amarah melihat tanggapan yang diperlihatkan oleh Ratu Agung Selendang Merah saat itu.
__ADS_1
"Kalian lah yang bercanda padaku. Perutku sampai terasa sakit mendengarkan ucapan kalian." Balasnya.
Hawa yang yang ditunjukkan oleh Ratu Agung selendang merah pada saat itu membuat suasana ruang tamu itu terasa sangat mencekam.
"Apakah ini kemarahan gusti ratu agung?." Setidaknya di dalam hati mereka bertanya-tanya seperti itu?.
"Apa kau bilang?!." Selir Kamala Hastanti dan Perdana Menteri Pertahanan Buzara Keshwari berkata seperti itu bersamaan.
"Heh!." Ratu Agung Selendang Merah mendengus kesal. "Aku katakan dengan tegas pada kalian agar mengerti!." Tatapan matanya saat itu berubah menjadi lebih tajam.
"Kau jangan menguji kesabaranku!." Perdana menteri pertahanan Buzara Keshwari terlihat sangat geram.
"Jangan terlalu kau turuti hawa kemarahan mu. Nanti takutnya kau sendiri yang akan merugi." Ucapan itu seperti sebuah peringatan yang sangat keras untuk perdana menteri pertahanan Buzara Keshwari.
Apakah yang akan disampaikan oleh Ratu Agung Selendang Merah pada mereka?. Simak terus ceritanya.
...**...
Saat itu, Jendral Kuasa sedang bersama Lukita. Ada perasaan yang menggeliti hatinya untuk melihat wanita muda yang cantik itu. Entah kenapa pada saat itu ia merasa dirinya yang berbeda ketika bersama Lukita.
"Nona lukita. Kau terlihat aneh hari ini." Ia memperhatikan bagaimana wajah Lukita saat itu.
"Tuan jendral lah yang terlihat aneh." Sebenarnya pada saat itu ia melihat teman-temannya yang berada di belakang Jendral Kuasa.
"Aku?. Apa yang aneh padaku?." Karena Jendral Kuasa merasa heran, dan tidak mengerti.
__ADS_1
"Lihatlah mereka semua." Lukita menunjuk ke arah belakangnya, di mana teman-temannya melihat aneh pada Jendral Kuasa.
"Hiye!." Jendral Kuasa sangat terkejut dengan apa yang ia lihat pada mereka semua yang hendak menusuknya dari belakang.
Saat itu mereka diserbu dengan pertanyaan-pertanyaan yang menusuknya.
"Sejak kapan tuan jendral dekat dengan lukita?!." Warakai sangat kesal.
"Bukankah selama ini kau hanya berdiri di depan gerbang saja?!." Dengan amarah yang membara ia berkata seperti itu. "Bagaimana mungkin sekarang kau masuk?!." Sangat kesal, hingga ia meninggikan suaranya. "Dan sekarang tuan jendral malah terlihat sangat akrab?. Sangat aneh sekali." Hatinya semakin kesal. Zamar sangat kesal dengan apa yang terjadi selama ini.
"Apakah tuan berniat jahat padanya?." Nauri langsung mencurigai Jendral Kuasa.
"Jangan-jangan tuan ingin melakukan sesuatu pada teman kami?!." Suriati menatap tajam ke arah Jendral Kuasa.
"Diam kalian semua!." Jendral Kuasa sangat kesal dengan itu. "Berani sekali kalian berbicara seperti itu padaku!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras. Sehingga mereka semua menutup telinga mereka. "Sepertinya mereka tidak mengetahui, jika nona lukita adalah mata-mata yang diutus gusti ratu agung untuk mengawasi tempat ini." Dalam hatinya berkata seperti itu. Jika dilihat dari gelagat itu, memang sangat polos.
"Lukita!. Katakan sesuatu pada kami!." Mereka semua kali ini melihat ke arah Lukita yang mencoba berpura-pura tidak melihat itu. "Sejak kapan jendral tidak berguna ini kenal denganmu?!." Zamar berkata seperti itu.
"Kau?!." Dengan sangat kesalnya ia menarik kerah baju Zamar, hingga pemuda itu meringis. "Berani sekali berkata seperti itu padaku!." Dengan sangat kesalnya ia menatap tajam ke arah Zamar.
"Hei!. Hei!. Hei!. Jangan main kekerasan pada kami!." Mereka semua melerai itu, sedangkan Lukita hanya geleng-geleng kepala saja.
"Ini lah alasan kenapa aku melarang mu untuk berdekatan denganku tuan jendral." Dalam hatinya merasa heran dengan sikap Jendral Kuasa dengan herannya. Sungguh, ia tidak menduga jika Jendral Kuasa benar-benar berani menemuinya di kawasan kumuh. Matanya hanya melihat bagaimana perdebatan antara Jendral Kuasa dengan teman-temannya.
Apakah yang akan mereka lakukan setelah ini?. Apakah yang akan dilakukan Lukita pada mereka?. Mereka yang selama ini tidak akrab sama sekali, mereka yang selama ini ibaratkan air dan minyak. Apakah yang terjadi selanjutnya?. Simak dengan baik kisah ini.
__ADS_1
...***...