RATU AGUNG SELENDANG MERAH

RATU AGUNG SELENDANG MERAH
CHAPTER 75


__ADS_3

...***...


Entah angin apa yang membuat dua pangeran Arzaguna saat itu bersama. Keduanya yang saat itu bersama sedang membicarakan sesuatu yang jarang terjadi selama ini.


"Sepertinya kau mendapatkan perhatian banyak pasang mata, setelah apa yang kau lakukan pada tuan hasedoki muritachi." Ucapnya sambil mengingat gosip yang beredar.


"Aku juga tidak menduga itu rakanda." Ia hanya tertawa kecil saja. "Mereka seperti sangat perhatian sekali padaku, sehingga berbicara berlebihan seperti itu tentang aku." Ia merasa tidak nyaman sama sekali dengan kabar yabg beredar itu.


"Kau ini sangat polos sekali." Pangeran Arzaguna Barata menghela nafasnya dengan pelan. "Dari dulu kau sellau saja menurut pada siapa saja. Bahkan pada kakak ipar yang bisa saja sebenarnya hanya memperalat mu." Itulah yang ia pikirkan.


"Ayunda ratu agung adalah wanita yang sangat dicintai oleh rakanda raja gaung. Tidak mungkin rakanda raja agung menikah dengan sembarangan wanita." Ucapnya dengan penuh kepercayaan. "Bahkan jauh sebelum rakanda menikah, rakanda pernah bercerita padaku. Bahwa calon istrinya adalah seorang pendekar wanita yang sangat hebat, yang akan membantunya." Tentunya ia sangat ingat dengan apa yang dikatakan Raja Agung. "Bahkan jika rakanda raja agung dalam keadaan sekarat pun, istrinya tidak akan pernah berpaling darinya. Itulah yang diyakini rakanda raja agung mengenai istri yang paling ia cintai." Lanjutnya lagi.


"Meskipun aku adalah adik kandungnya, ia tidak pernah menceritakan hal yang seperti itu padaku." Dalam hati Pangeran Arzaguna Barata sedikit kesal dengan itu. "Lantas?. Apakah ratu agung pernah berkata padamu?. Jika ia akan menangkap orang-orang yang telah membuat rakanda raja agung sakit parah?." Ia ingin mendengarkan ucapan polos dari adiknya itu.


"Pernah." Balasnya dengan polosnya.


"Benarkah?." Pangeran Arzaguna Barata sedikit terkejut. "Apakah ratu agung pernah mengatakan padamu?. Siapa saja yang telah membuat rakanda raja agung sakit parah?." Rasa penasaran yang sangat dalam membuat ia bertanya seperti itu.


"Sangat disayangkan sekali,jika ayunda ratu agung tdiak mengatakan siapa saja orangnya." Ia terlihat sangat kecewa. "Akan tetapi ayunda ratu agung pernah mengatakan, jika ia akan melakukan sesutau pada sekelompok orang yang telah berniat ingin melakukan pemberontakan." Lanjutnya sambil memikirkan percakapan saat itu.


Deg!.


Pangeran Arzaguna Barata sangat terkejut dengan apa yang ia dengar. Suasana hatinya saat itu sedang bergemuruh tidak menentu mendengarkan ucapan itu. "Apakah dia telah mengetahui rencana kami?." Dalam hatinya sangat gelisah dengan apa yang ia dengar.


"Sebaiknya rakanda tidak berpikiran untuk melakukan pemberontakan, karena-." ucapannya terhenti.


"Kau tidak usah ikut campur dengan apa yang aku lakukan." Ia menatap tajam adiknya. "Jangan perna kau mengatakan jika aku akan berontak." Sorot matanya saat itu sangat tajam, lebih tajam dari pedang.

__ADS_1


"Maafkan aku, hanya saja aku sangat cemas." Balasnya.


Pangeran Arzaguna Barata hanya diam saja, ia sedang memikirkan kemungkinan yang akan ia hadapi nantinya.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.


...***...


Sementara itu, menteri keuangan Jibat sedang berjalan-jalan sambil mencoba untuk menghibur suasana hatinya yang saat itu sangat gala luar biasa.


'Aku sangat bosan sekali." Dalam hatinya mulai berkeluh kesah, sehingga ia berjalan menurut kata hatinya saja.


Aka tetapi, siapa yang menduga saat itu Jendral Kuasa melihatnya berjalan sendirian.


"Ho?. Siapa kiranya yang sedang aku lihat saat ini. Berjalan sendirian dengan raut wajah kesepian." Ucapnya dengan nada mengejek.


Bletak!.


"Kau telah berani bersikap kurang ajar padaku." Ia terlihat sangat jengkel. "Apakah kau mulai berani bersikap kasar padaku?."


"Yang mengatur gajimu itu adalah aku!." Tegasnya. "Jik aku mau, aku bisa saja memotong setengah gajimu itu. Akan aku sumbangkan setengah gajimu itu untuk membantu orang miskin di kawasan kumuh." Ucapnya dengan sangat kesal bercampur ancaman yang tidak main-main.


"Hah?!. Atas dasar apa kau berani melakukan itu?!." Sangat kesal, itulah yang ia rasakan saat itu.


"Sudah sangat jelas, itu karena selama ini kau sama sekali tidak becus menjaga keamanan di sana. Sehingga gusti ratu agung memerintahkan wanita muda untuk mengawas daerah itu. Kau ini sungguh sangat memalukan sekali sebagai seorang jendral yang dipercayai raja agung untuk menjaga keamanan sebuah tempat." Ungkapnya dengan perasaan yang sangat membuncah. "Harusnya kau malu dengan dirimu."


"Kau jangan mengungkit kejadian masa laluku!." Ia sangat tidak suka dengan itu. "Kau sendiri juga melakukan hal yang sangat memalukan!." Ia sangat marah. "Kau diberi kepercayaan untuk mengatur keuangan negara. Tapi kau sendiri telah melakukan keteledoran yang sangat tidak bisa dimaafkan." Bentaknya. "Harusnya kau dipecat!. Tapi karena kebaikan dari gusti ratu agung ku masih memegang jabatan itu, harusnya kau malu pada orang lain!." sungguh ia sangat dendam dengan ucapan menteri keuangan Jibat.

__ADS_1


"Ho?. Kau sekarang mau beradu nasib denan aku?." Ia tampak kesal.


"Kau lah yang memulai duluan, jad jangan salahkan aku." Ucapnya dengan nada mengejek.


"Itu karena aku sangat kesal denganmu!." Bentaknya. "Kau memiliki banyak kesempatan untuk melihat nona lukita setiap harinya!. Sedangkan aku?!." Ia terlihat sangat frustasi. "Aku malah terkurung dengan rasa takut setiap membayangkan kau berduaan dengan nona lukita. Kau itu kan jahat!. Bisa saja kau melakukan sesuatu pada nona lukita di sana!." Teriaknya dengan suara yang sangat keras.


"Hah?!." Jendral Kuasa sangat terkejut dengan apa yang ia dengar. "Diam kau jibat sialan!." Balasnya dengan perasaan marah yang sangat membuncah. "Kau pikir aku ini adalah seorang lelaki mesum yang dengan mudahnya melakukan itu?. Hah?!." Hatinya sangat memanas. "Apa masalahmu?. Sehingga kau berpikir seperti itu tentang aku!. Bentaknya dengan suara yang sangat keras.


"Masalahnya adalah?!. Aku sangat keberatan jika kau berani mendekati nona lukita!. Hanya aku yang berhak untuk bersamanya!." Dengan suara yang sangat keras ia berkata seperti itu.


"Heh!. Kau ini bicara apa jibat?. Kau sedang bermimpi di mana?. Sehingga kau berani melarang aku mendekati nona lukita." Ucapnya dengan marah. "Tidak ada aturan yang melarang aku untuk bersama nona lukita." Lanjutnya sambil mendengus kesal. "Jika kau menginginkannya, maka lakukan dengan benar." Ucapnya sambil mengeluarkan sebuah lembaran lamaran.


"Aku pasti akan mendapatkan nona lukita dengan cara yang sangat benar." Ucapnya sambil mengeluarkan lembaran lamaran juga.


"Belum tentu. Karena aku yang akan melamar nona lukita duluan. Jadi kau sebaiknya mengalah saja padaku." Ucapnya dengan penuh percaya diri.


"Heh!. Jangan mimpi kau kuasa. Aku lah yang duluan bertemu dengannya. Jadi kau lah yang minggir, dan lihat diriku bersanding dengan nona lukita." Balasnya dengan sangat yakin.


"Kalau begitu kita bertarung. Siapa yang akan mendapatkan nona lukita." Ucapnya menantang menteri keuangan Jibat.


"Aku tidak yakin kau akan mendapatkan nona lukita." Ujarnya dengan nada mengejek.


"Jangan terlalu percaya diri dulu. Aku takut, kau akan malu nantinya." Ia malah tertawa mengejek.


"Aku tidak takut sama sekali, karena aku sangat yakin, jika nona lukita akan memilih aku menjadi suaminya." Dengan senyuman percaya diri ia berkata seperti itu.


Apakah yang akan mereka lakukan untuk mendapatkan Lukita?. Simak terus ceritanya.

__ADS_1


Next.


...***...


__ADS_2