RATU AGUNG SELENDANG MERAH

RATU AGUNG SELENDANG MERAH
CHAPTER 45


__ADS_3

...***...


Sidang masih berlanjut, saat itu Karalieva datang dengan membawa dua orang yang menjadi saksi bagi mereka semua. Sementara itu dewan agung dari tadi memperhatikan mereka sidang itu dengan baik. Namun belum ada juga tanggapan dari mereka semua. Hanya menyimak saja apa yang mereka lihat pada saat itu.


"Mereka adalah dua saksi yang telah menyeludupkan senjata pada kelurga menanti. Mereka yang telah melakukannya." Karalieva menjelaskan pada mereka semua.


"Jelaskan pada kami semua!. Bagaimana kalian melakukan itu?. Jelaskan dengan sejelas-jelasnya supaya tidak terjadi kesalahpahaman nantinya. Aku masih memiliki stok kesabaran untuk tidak memenggal kepala kalian, jika berani berkata dusta. Akan tetapi kalian akan selamat jika kalian berkata dengan jujur."


"Baiklah kami akan bertanya dengan jujur." Jin dan Masuaki terpaksa mengiyakan apa yang dikatakan oleh Karalieva, karena tatapan wanita itu terlihat sangat menyeramkan.


"Kami mendapatkan tugas dari ketua kami, jika kami harus mengantar senjata api ini keluarga menanti yang berada di kerajaan tiga warna. Kami telah berjanji akan bertemu di goa hitam timur. Tapi kami tidak menyangka akan ditangkap oleh wanita itu!." Masuaki mengatakan kebenaranya pada mereka semua.


"Ya, padahal kami hanya ingin mengantar barang itu tanpa ketahuan siapapun, tapi wanita itu malah malah menangkap kami." Jin sangat emosi ketika ia hendak masuk ke dalam goa itu, ia malah bertemu dengan orang yang sama sekali tidak diharapkan.


"Intinya senjata itu memang untuk keluarga menanti, bukan?." Karalieva tersenyum kecil pada mereka berdua.


"Ya!. Aku kan telah mengatakannya padamu!. Jika kami hanya mengantar saja!. Tetapi kenapa kau malah menangkap kami!." Jin sangat marah, hingga ia ingin mencakar wajah Karalieva dengan tangannya yang terasa sangat gatal.


"Lepaskan kami!. Karena kami hanya mengantar senjata itu saja!." Masuaki sangat kesal, mereka diperlakukan sebagai penjahat besar.

__ADS_1


"Nah?. Hadirin semua. Kalian bisa mendengarkan apa yang kedua orang ini katakan. Bahwa senjata itu memang untuk keluarga menanti, mereka yang memesan senjata itu?." Karalieva tidak menggubriskan kemarahan yang mereka rasakan, namun ia malah melempar pertanyaan dan sugesti pada mereka semua agar berpikir bahwa jika yang melakukan  itu semua memang Keluarga Menanti.


Suasana menjadi ribut karena mereka telah mendengarkan semuanya dengan baik, akan tetapi pada saat itu Keluarga Menanti masih tidak terima dengan apa yang menjadi bukti kejahatan mereka. Hingga Dewan Agung yang meminta bukti lainnya untuk memberatkan mereka semua.


"Tidak mungkin!. Bisa jadi mereka bersengkokol dengan kedua orang itu untuk menjadi saksi atas apa yang telah kami lakukan!." Merekah menanti sama sekali tidak terima dengan itu.


"Ya, itu benar!. Bisa jadi kedua orang itu telah mereka bayar untuk membuat kami bersalah dalam kasus itu!." Teru Menanti juga tidak terima.


"Kami tidak terima dengan cara busuk yang mereka lakukan!." Muntari Menanti terlihat sangat marah.


"Jangan memberikan kesan yang buruk pada kami!. Hanya karena orang kumuh itu mati dengan senjata yang ada simbol keluarga kami!." Boushe Menanti juga sangat marah, sehingga ia hampir saja melampiaskan amarahnya.


"Jendral kuasa. Jika memang mereka terbukti bersalah, maka tunjukkan pada kami barang bukti lainnya." Teru Menanti sepertinya sedang menguji kesabaran yang dimiliki oleh Jendral Kuasa.


"Jangan hanya satu pihak saja. Bisa jadi apa yang mereka katakan itu ada benarnya. Jika kalian menyewa dua orang ini untuk menjadi saksi palsu." Muntari Menanti sepertinya sedang memancing pemikiran mereka semua agar berpikir jika mereka hanyalah korban. Akan tetapi sepertinya beberapa kelompok bangsawan yang masih memiliki hati nurani telah mengetahui jika keluarga Menanti bukanlah keluarga yang baik.


"Mereka ini benar-benar ingin lari dari tanggung jawab." Dalam hati Penasihat Raja Agung yang dari tadi hanya diam saja memperhatikan mereka. "Memang orang-orang yang pantas langsung dibunuh saja. Hanya mempersulit keadaan saja." Ingin rasanya Penasihat Raja Agung Dewandaru menguliti mereka semua.


"Aku tidak akan membiarkan kalian hidup bebas setelah melakukan kejahatan. Ini akan sangat berbahaya jika mereka masih saja tidak mau mengakui apa yang telah mereka lakukan." Dalam hati Lukita merasa tidak nyaman.

__ADS_1


"Jangan seenaknya saja kalian berbicara!. Akan aku bunuh kalian semuanya!." Merekah Menanti masih saja tidak terima?. Apa yang ia inginkan sebenarnya?.


"Baiklah!. Jika dewan agung yang terhormat ingin bukti maka akan kami buktikan, jika apa yang kami katakan ada benarnya." Jendral Kuasa memperlihatkan gulungan rencana yang telah dibuat oleh Teru Menanti. "Mereka ini benar-benar ingin hukuman mati rupanya." Dalam hari Jendral Kuasa sangat marah dengan sikap mereka yang ingin meloloskan diri dari hukuman yang telah mereka lakukan.


"Ini adalah gulungan denah yang telah dibuat oleh Teru Menanti. Kami sendiri yang mendengarkan apa yang telah ia jelaskan pada kami." Menteri keuangan Jibat juga ikut membantu menjelaskan apa yang terjadi.


"Dia telah menjelaskan pada kami semua apa saja rencana yang ada di dalam pikiran mereka saat itu." Lukita memperlihatkan denah rencana itu. Ia serahkan pada Dewan Agung.


Dewan Agung memeriksa kebenaran kasus yang mereka tangani saat ini. Mereka meneliti dengan benar rencana yang telah dilakukan keluarga Menanti.


"Ini adalah rencana yang sangat jahat." Mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat di dalam syarat itu. Itu adalah hal yang sangat tidak wajar.


"Bukti ini sangat kuat untuk membuat kalian mengakui semua yang telah kalian lakukan!." Jendral Kuasa sangat marah karena mereka hampir saja menipu mereka dengan ucapan bodoh mereka yang ingin meloloskan diri.


"Kalian memang bedebah!. Berani sekali kalian menunjukkan rencana yang telah kami buat!." Teru Menanti berhasil meloloskan diri dari ikatan tangan kedua tangannya.


Saat itu Teru Menanti menyerang Lukita, akan tetapi dengan cepat Jendral Kuasa dan Mentri Keuangan langsung melindungi Lukita. Kejadian pada hari itu membuat semuanya tercengang tidak percaya. Sedangkan Ratu Agung Selendang Merah hanya memperhatikan itu dengan baik.


"Beraninya kalian ingin mencelakainya!." Keduanya sangat marah, begitu juga dengan mereka yang melihat itu. Hingga mereka semua berteriak dengan lantang ingin memberikan hukuman pada mereka. Pada saat itu suasana sidang sangat gaduh, hanya mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Akan tetapi mereka tidak menyadari ada hawa yang lebih besar mereka rasakan. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Terus simak cerita kisah ini dengan baik. Temukan jawabannya, jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.

__ADS_1


...***...


__ADS_2