RATU AGUNG SELENDANG MERAH

RATU AGUNG SELENDANG MERAH
CHAPTER 57


__ADS_3

...***...


Di sisi lain.


Kembali ke istana.


Mereka semua tidak tahu harus berbuat apa, ketika Ratu Agung Selendang Merah hampir saja mengayun pedang Naga Merah pencabut nyawa ke arah kepala Yangka Patari. Jika saja Penasihat Raja Agung Dewandaru tidak mencegahnya. Mereka semua sangat tegang saat melihat itu, sungguh sangat tidak menduga jika Ratu Agung Selendang Merah akan menggunakan cara itu untuk membuat Yangka Patari mengakui perbuatannya?.


"Tunggu dulu gusti ratu agung!." Jantungnya berdegup kencang. Kerongkongannya terasa sangat kering karena tidak tahu harus berbuat apa.


"Kegh!." Yangka Patari sendiri terpaku di tempat. Kepalanya terasa sangat sakit, tulangnya terasa tidak kuat lagi menopang tubuhnya, sehingga ia menjatuhkan dirinya. "Ini adalah ancaman bagiku!." Dalam hatinya sangat ketakutan dengan itu semua.


"Mohon bersabarlah gusti ratu agung. Mari kita dengarkan keputusan dari dewan agung." Penasihat Raja Agung Dewandaru pernah mendengarkan cerita dari Raja Agung, akan berbahaya jika Ratu Agung Selendang Merah tidak bisa mengendalikan dirinya. "Hamba yakin dewan agung sedang memikirkan jalan terbaiknya." Penasihat Raja Agung Dewandaru mencoba untuk tersenyum walaupun ia sendiri takut melihat kemarahan sang Ratu.


Ratu Agung Selendang Merah melihat wajah memohon dari Penasihat Raja Agung Dewandaru. Setelah itu ia menghela nafasnya, ia memberikan pedang itu pada Lukita. "Lanjutkan sidangnya. Karena semua bukti yang kami kumpulkan telah memberatkan kesalahannya." Ratu Agung Selendang Merah menatap tajam ke arah Dewan Agung. "Hasilnya jangan sampai mengecewakan aku." Ratu Agung Selendang Merah terlihat sangat marah.


"Akan kami kerjakan gusti ratu agung." Mereka semua tidak berani melawan. Hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh Ratu Agung Selendang Merah. Bagaimanapun juga saat ini kekuasaan tertinggi terletak pada Ratu Agung Selendang Merah, jadi tidak ada alasan mereka untuk tidak patuh padanya.


Ratu Agung Selendang Merah kembali duduk di kursinya. Ia hanya ingin melihat bagaimana tanggapan mereka semua jika ia melampiaskan kemarahannya. Apakah mereka masih berani membantah perintah yang telah ia putuskan?.

__ADS_1


Sepertinya Dewan Agung telah memutuskan hukuman apa yang akan mereka berikan  pada Yangka Patari yang telah melakukan kesalahan. Tetapi, tetap saja ia tidak menerima keputusan itu. Bahkan ia melawan?.


"Tuan yangka patari!. Begitu banyak masalah yang telah kau lakukan selama ini!." Perwakilan Dewan Agung membacakan keputusan yang telah mereka tetapkan. "Kau telah mengambil uang yang telah diberikan oleh ratu agung kepada rakyat kawasan kumuh!. Dengan apa yang telah kau lakukan itu, secara tidak langsung kau telah mencemarkan nama baik gusti ratu agung!. Serta gusti raja agung yang sebelumnya telah mengeluarkan dana untuk kawasan kumuh." Dengan suara lantang ia membacakan kesalahan yang telah diperbuat oleh Yangka Patari.


"Ratu kurang ajar!. Berani sekali dia mengancam mereka semua untuk menghukum ku." Dalam hati Yangka Patari masih tidak terima dengan apa yang ia dapatkan.


"Tapi kau telah melakukan hal yang tidak pantas, dan kau akan mendapatkan hukuman kurungan tiga tahun penjara." Yombu Tilaga, salah satu dari perwakilan Dewan Agung membacakan keputusan yang telah ditetapkan. "Itu hukuman ringan yang dapatkan oleh orang yang telah melakukan percobaan korupsi dan kau telah melakukannya selama bertahun-tahun." Ada bentuk kemarahan yang dirasakan oleh Yombu Tilaga saat itu. "Semua harta yang kau miliki saat ini adalah milik negara, dan semaunya akan diberikan kepada kawasan kumuh sebagai balas konvensasi selama ini yang telah kau pergi." Yombu Tilaga membacakan hasil keputusan itu dengan sangat lantang, sehingga mereka semua mendengarkannya dengan baik.


"Tidak!!!." Yangka Patari saat itu sangat histeris mendengarkan keputusan itu. Masih saja tidak mau terima dengan keputusan itu?. "Saya tidak mau dihukum penjara!. Dan saya tidak mau membayar denda!. Saya tidak mau!." Hatinya sangat tidak terima dengan apa yang telah diputuskan.


"Berani berbuat!. Maka kau juga harus berani bertanggung jawab!." Ratu Agung Selendang Merah sangat marah terhadap orang-orang yang seperti itu. "Mau melarikan diri setelah kejahatan yang kau lakukan?. Maaf saja, dunia ini bukan kau yang punya." Dalam hati Ratu Agung Selendang Merah berusaha untuk menahan dirinya.


Mereka semua sangat terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Ratu Agung Selendang Merah. Memang sangat benar apa yang dikatakan oleh Ratu Agung Selendang Merah mengenai itu.


"Tangkap dan masukkan segera ia ke dalam penjara. Karena ia harus segera menjalani hukumannya." Itulah perintah Ratu Agung Selendang Merah.


"Prajurit!. Bawa tuan yangka patari ke dalam penjara!." Menteri keuangan Jibat langsung melakukan perintah Ratu Agung Selendang Merah.


"Laksanakan!." Prajurit yang berada di depan pintu yang dari tadi menyimak apa yang terjadi di ruangan itu langsung sikap cepat tanggap. Namun ketika mereka mendekati Yangka Patari berusaha untuk kabur?. Tentunya Lukita melihat itu dan mencegahnya.

__ADS_1


"Tidak!. Aku tidak mau ditangkap!." Yangka Patari berusaha untuk melarikan diri, akan tetapi Lukita segara menotok pergerakan Yangka Patari.


"Kegh!." Yangka Patari sangat terkejut, ia tidak bisa bergerak sama sekali.


"Kau masih saja mau kabur?." Menteri keuangan Jibat ingin menggorok leher Yangka Patari saat itu juga, jika ia tidak ingat dimana ia saat ini berada. "Kau harus bertanggungjawab!. Atau aku sendiri yang akan membunuhmu!." Menteri keuangan Jibat sangat marah.


"Bawa segera dia dari sini." Lukita membantu mengikat tangan Yangka Patari agar tidak melawan.


"Jangan biarkan dia kabur dari penjara. Jika perlu pasung dia, supaya tidak bisa kabur." Menteri Keuangan Jibat hampir saja tidak bisa menahan dirinya lagi.


"Akan kami laksanakan." Kedua prajurit tersebut membawa Yangka Patari yang tidak bisa melawan lagi.


"Mohon  ampun gusti ratu." Menteri Keuangan Jibat memberi hormat. "Maafkan atas kekacauan yang telah terjadi." Menteri keuangan Jibat merasa sungkan pada Ratu Agung Selendang Merah atas apa yang telah terjadi.


"Baiklah. Sidang ini telah selesai." Ratu Agung Selendang Merah sepertinya masih marah. "Terima kasih atas apa yang kalian lakukan. Saya sangat bersyukur karena kalian semua mau bekerja sama untuk mengatasi para penjahat di kerajaan ini." Ratu Agung Selendang Merah menatap mereka semua. "Jangan sampai negeri ini hancur karena hasrat tidak baik. Apakah kalian tidak memiliki hati nurani hanya untuk mendengarkan rintihan mereka yang kecil?. Untuk apa negeri ini memiliki pemerintahan jika tidak mau mendengarkan jeritan rakyatnya." Tentunya mereka merasakan apa yang dikatakan Ratu Agung Selendang Merah. Karena itu memang ada benarnya, sangat fakta untuk sebuah negeri yang maju dalam pemerintahan.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya, jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta. Salam penuh cinta untuk pembaca tercinta.


...***...

__ADS_1


__ADS_2