
...***...
Halaman istana Utama.
Mereka semua menyimak bagaimana pertarungan Jendral Kuasa, dan Mentri Keuangan Jibat dengan Teru Menanti setelah ia menyerang Lukita?. Sempat terjadi pertarungan antara mereka, dan hampir saja pertarungan itu berubah menjadi arena pertarungan yang lebih besar lagi. Jika saja mereka tidak merasakan tekanan yang sangat berat yang ditunjukkan oleh Ratu Agung Selendang Merah pada saat itu.
Mereka semua yang ingin bergabung dalam pertarungan itu tidak bisa bergerak, termasuk mereka yang berada di dalam lingkaran itu tidak bisa bergerak semua karena tekanan yang sangat tinggi yang mereka rasakan pada saat itu. Mereka semua meringis kesakitan karena hawa tekanan itu sangat tidak biasa.
"Berani sekali mereka ingin ikut campur." Dalam hari Ratu Agung Selendang Merah sangat marah melihat beberapa orang yang hendak naik ke atas panggung yang telah disiapkan untuk tempat sidang itu.
"Kegh!. Siapa yang memiliki kekuatan sebesar ini?." Pangeran Arzaguna Barata kesulitan untuk bergerak. "Kekuatan yang sangat luar biasa sekali, bahkan kekuatan ini hampir sama dengan rakanda gusti raja agung." Ia tidak bisa menebak siapa pemilik kekuatan itu.
"Apa yang terjadi sebenarnya?. Hawa tekanan di sekitar sini terasa sangat berat." Selir Indraswari Jayanti tidak bisa menahan tekanan itu. Tubuhnya terasa sangat sakit, ia sama sekali tidak memiliki kekuatan tenaga dalam untuk melawan itu. "Siapa yang telah berani menggunakan kekuatan ini?. Apakah dia ingin membunuh kami semua?." Dalam hatinya sangat panik
"Kekuatan yang sangat tidak biasa. Tekanan hawa melumpuhkan musuh jarak jauh. Jurus seribu tekanan telapak tangan dewa." Pangeran Arzaguna Basukarna sedikit mengetahui tentang jurus itu.
"Jurus seribu tekanan telapak tangan dewa?." Mereka semua mendengarkannya dengan jelas, bahwa jurus itu memang ada.
__ADS_1
"Siapa?!. Siapa yang memiliki jurus itu?." Itulah pertanyaan yang keluar dari mereka. Karena mereka tidak tidak bisa bergerak, seakan-akan gravitasi sekitar sangat berat. Akan tetapi pada saat itu, mereka semua terkejut karena hawa kuat itu berasal dari Ratu Agung Selendang Merah, setalah mereka mendengarkan apa yang diucapkan oleh Penasihat Raja Agung Dewandaru.
"Mohon ampun gusti ratu agung. Jika gusti ratu agung menggunakan jurus itu, hamba takut terjadi sesuatu pada mereka yang tidak memiliki tenaga dalam. Hamba mohon pengampunan dari gusti ratu agung untuk kekacauan yang terjadi." Penasihat Raja Agung Dewandaru sangat memohon agar Ratu Agung Selendang Merah tidak menggunakan jurus itu untuk menekan mereka semua.
"Apa?!. Jurus seribu tekanan telapak tangan dewa adalah jurus yang dimiliki gusti ratu agung?." Siapa yang menyangka itu?.
"Jadi benar?. Wanita itu memiliki kepandaian?." Mereka sepertinya sangat tidak percaya.
"Gusti ratu agung menggunakan jurus yang sangat berbahaya." Mereka sepertinya sangat takut.
Mereka tidak menduga sebelumnya, namun hawa itu memang sangat kuat. Sehingga mereka benar-benar tidak bisa bergerak dengan bebas, saat Penasihat Raja Agung Dewandaru berkata pada Ratu Agung Selendang Merah.
Ratu Agung Selendang Merah melepaskan jurusnya, ia menghela nafasnya.
"Keghakh!."
Tubuh mereka semua berhasil bebas, karena Ratu Agung Selendang Merah mendengarkan apa yang dikatakan Penasihat Raja Agung Dewandaru.
__ADS_1
"Kalian semuanya, dengar!." Suara Ratu Agung Selendang Merah terdengar tinggi. Pertanda bahwa sang Ratu sedang marah besar. "Sebagai ratu agung, istri sah!. Dari rakanda gusti raja agung!. Saat ini saya mewakili rakanda gusti raja agung sedang menegakkan keadilan!." Dengan nada penuh penekanan ia berkata seperti itu. "Apakah kalian tidak melihat dengan benar?. Bagaimana kejahatan yang telah dilakukan oleh keluarga menanti?!." Amarahnya telah memuncak. "Bahkan tuan muda teru menanti telah berani menyerang orang kepercayaan saya!. Apakah kalian masih tidak menyadari jika itu telah bertindak tidak sopan?." Ia melihat ke arah Lukita yang diserang oleh Teru Menanti. Sedangkan mereka hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ratu Agung Selendang Merah. Mereka semua tidak berani untuk membantah apa yang dikatakan sang Ratu. Apalagi hawa yang ditunjukkan Ratu Agung Selendang Merah membuat mereka semua bergidik negri. "Bahkan saya sendiri menyaksikan bagaimana mereka pernah membantai dua orang penduduk wilayah kawasan kumuh karena melewati jalan yang sama menuju halaman istana ini?. Apakah menurut kalian itu adalah hal yang manusiawi?! Jawab saya jika kalian masih manusia yang normal yang memiliki akal yangs sehat!. Apakah kalian berani melakukan itu di hadapan saya untuk membela yang salah?!." Ratu Agung Selendang Merah telah melampiaskan kemarahannya dalam sidang Agung itu. Ia hanya ingin membuka mata mereka agar tidak berlaku sewenang-wenang terhadap orang lain. Apalagi mereka yang memiliki derajat yang lebih rendah dari yang lainnya.
Mereka semua terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Ratu Agung Selendang Merah. Memang benar ada kejadian yang tidak mengenakkan pada saat itu. Namun keluarga istana menutupi kejadian itu dengan memberikan santunan pada mereka yang ditinggalkan oleh dua orang korban tersebut. Sebagian orang-orang kawasan kumuh sangat ingat dengan kejadian itu.
"Dia itu. Apa yang ia inginkan sebenarnya dari kedudukannya sebagai ratu agung?. Apakah dia benar-benar akan membela rakyat jelata itu?." Dalam hari Selir Kamala Hastanti tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ratu Agung Selendang Merah.
"Sungguh sia-sia sekali apa yang dia lakukan. Hanya untuk memberikan kesan yang baik pada rakyat jelata, dia malah melakukan hal yang tidak berguna sama sekali." Selir Indraswari Jayanti malah merendahkan Ratu Agung.
"Dia ini memang sangat pintar dalam bertindak. Namun siapa sangka dia memiliki kepandaian yang luar biasa." Selir Manik Keshwari membenci apa yang dilakukan oleh Ratu Agung. "Jurus seribu tekanan telapak tangan dewa, jurus yang bukan sembarangan orang yang mempelajarinya. Sebenarnya dia ini menyembunyikan apa dibalik topeng serta pakaian yang ia kenakan saat ini?." Selir Manik Keshwari semakin mencurigai ada maksud yang tidak bisa ia tebak dari apa yang dilakukan Ratu Agung Selendang Merah.
"Yunda gusti ratu agung. Yunda telah melakukan hal yang sangat benar. Aku pasti akan mendukung yunda." Pangeran Arzaguna Basukarna malah kagum dengan apa yang dilakukan Ratu Agung. "Aku pasti akan membantunya dengan baik setelah ini." Ia bertekad akan membantu kakak iparnya dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi negeri ini.
"Wanita ini memang sangat pintar menggunakan kepandaian yang ia miliki. Sangat luar biasa sekali." Kemuning Indraswari juga menatap rendah pada Ratu Agung Selendang Merah. "Drama yang ia mainkan sangat bagus, sehingga aku ingin memberikan karangan bunga kematian padanya. Benar-benar wanita yang sangat hebat dalam memerankan drama dalam sebuah kisah klasik." Entah kenapa ia merasa tidak suka dengan apa yang dilakukan Ratu Agung Selendang Merah.
"Licik!. Dan sangat berhati-hati dalam bertindak." Begitu juga dengan Dyatmika Kamala yang sangat jijik melihat apa yang dilakukan Ratu Agung. "Heh!. Wanita ini banyak akal juga untuk menjatuhkan musuhnya. Tapi aku yakin setelah ini dia akan menjadi incaran bagi siapa saja yang membencinya. Aku harap ada orang yang mau membunuhnya dalam waktu dekat ini." Dalam hati Dyatmika Kamala malah mendoakan hal yang buruk tentang Ratu Agung Selendang Merah.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bagaimana keputusan Dewan Agung setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ratu Agung Selendang Merah?. Temukan jawabannya dalam kisah ini.
__ADS_1
...***...