RATU AGUNG SELENDANG MERAH

RATU AGUNG SELENDANG MERAH
CHAPTER 23


__ADS_3

...***...


Lukita baru saja memasuki kawasan kediaman keluarga Menanti. Sepertinya ia telah ditunggu oleh Rembung dan Cibatu.


"Sepertinya kau menikmati jalan-jalan hari ini." Rembung tersenyum kecil menyambut kedatangan Lukita. "Apakah kau menikmati suasana di sekiranya?." Itulah pertanyaan darinya.


"Hanya sedikit. Karena aku baru saja mendapatkan beberapa informasi yang sangat menarik." Lukita duduk di hadapan Rembung dan Cibatu.


"Informasi apa yang kau dapatkan?. Apakah begitu menarik? Sehingga senyuman mu seperti itu." Cibatu menyerahkan segelas air minum untuk Lukita.


"Ya, sangat menarik. Sehingga aku tidak dapat menahan senyumanku ini." Lukita tersenyum lembut, tangannya mengambil gelas itu. "Sungguh sangat menarik dan tidak akan membuat kalian bosan." Lanjutannya, setelah itu ia minum dengan santainya.


"Jadi dia benar-benar mendapatkan informasi yang lebih menarik?." Dalam hati Rembung merasa kagum dengan Lukita. "Wanita kepercayaan gusti ratu agung untuk mengamati apa yang terjadi di negeri ini?. Ternyata gusti ratu agung memiliki rencana yang sangat besar untuk memperbaiki negeri ini." Dalam hatinya mengingat bagaimana usaha Ratu Agung Selendang Merah untuk membersihkan negeri ini dari kaum yang ingin menindas orang-orang lemah.


"Lalu bagaimana dengan kalian?. Apakah kalian menemukan sesuatu selama berada di sini?." Lukita balik bertanya pada Rembung dan Cibatu. "Tentunya ada hal yang sangat menarik untuk dibahas, bukan?." Lukita dapat menangkap itu dari sorot mata keduanya yang telah memiliki pengalaman.


Cibatu malah terlihat menghela nafasnya dengan lelahnya. "Hanya mendengarkan rencana mereka yang sangat tidak manusiawi, serta kebanggaan mereka sebagai kaum bangsawan yang memiliki kekuasaan yang dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan." Cibatu tidak lelah mendengarkan ucapan mereka. "Aku benar-benar tidak habis pikir dengan cara hidup mereka yang seperti itu. Hanya memikirkan penderita orang lain saja, merasa bersenang-senang dengan penderita orang lain." Ucapannya kali ini begitu menusuk hatinya sendiri. Padahal ia berkata seperti itu ia tujukan pada mereka yang selalu bersikap tidak mau peduli dengan penderitaan orang lain.


"Itulah yang ingin gusti ratu agung musnahkan dari negeri ini. Karena negeri ini sudah terlalu lama menangis. Terutama di kawasan kumuh, kawasan yang hanya menjadi pelampiasan orang-orang agung terhormat yang gila akan kekuasaan." Lukita menahan amarahnya. Hatinya terasa sangat sakit mengingat itu semua.

__ADS_1


"Kami akan membantu gusti ratu agung untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya." Rembung berkata dengan pelan, supaya hanya Lukita dan Cibatu saja yang mendengarnya.


"Kalau begitu mari kita lakukan dengan baik." Cibatu terlihat bersemangat.


Mereka bertiga telah memutuskan akan melakukan pekerjaan itu dengan baik. Ini semua demi mengembalikan negeri ini ke arah yang lebih baik lagi. Apakah mereka bisa melakukan itu?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.


...***...


Di istana Timur


Ratu Agung Selendang Merah dan Penasihat Raja Agung Dewandaru saat ini sedang menunggu beberapa orang yang dipanggil untuk menghadap.


"Maafkan hamba gusti ratu agung." Ia memberi hormat. "Hamba hanya cemas saja, jika mereka akan melakukan kekerasan pada gusti ratu agung jika mereka mengetahui ini hanyalah sebuah jebakan." Itulah yang ia khawatirkan saat ini.


"Kau tenang saja. Ini akan berjalan sesuai dengan rencana." Ratu Agung Selendang Merah menatap lurus ke depan. Pandangannya tidak akan salah mengenai apa yang telah ia rencanakan. "Tindakan mereka harus segera dihentikan, karena aku tidak mau mereka terus-menerus melakukan kesalahan yang sangat merugikan. Apalagi sampai membuat permusuhan dengan orang-orang kawasan kumuh." Ratu Agung Selendang Merah mengepal kuat tangannya. "Yang menjadi korban pasti lah orang-orang kawasan kumuh yang memiliki ekonomi yang sangat rendah." Hatinya terasa sangat sesak mengingat kejadian yang telah berlalu. "Kenapa negeri ini memiliki sejarah yang seperti ini?. Kenapa ada tiga kasta yang berbeda sehingga membuat salah satu kasta harus ditindas?. Apa yang salah dengan negeri ini?." Ratu Agung Selendang Merah tidak habis pikir dengan sejarah Negeri Tiga Warna ini.


"Gusti ratu agung." Penasihat Raja Agung Dewandaru terkesima mendengarkan apa yang ia dengar. "Lalu apa yang akan gusti ratu agung lakukan?. Bukankah gusti raja agung saat ini sedang tidak sadarkan diri?. Keputusan ratu agung hanyalah bisa menahan mereka, bukan untuk memberi hukuman pada mereka. Yang berhak memberikan hukuman pada mereka yang bersalah hanyalah gusti raja agung." Penasihat Raja Agung Dewandaru merasa simpati atas apa yang dilakukan oleh Ratu Agung Selendang Merah untuk menegakkan keadilan selama Raja Agung masih belum sadarkan diri. "Mereka bisa saja bebas, karena mereka merasa berkuasa atas negeri ini gusti ratu. Jadi apa yang akan gusti ratu lakukan sama saja dengan sia-sia. Bagaimana menurut gusti ratu agung setalah ini?." Penasihat Raja Agung Dewandaru hanya ingin memastikan apa yang akan dilakukan Ratu Agung jika memang seperti itu hukumnya.


"Dewandaru. Berapa lama kau menjadi penasihat raja?." Ratu Agung Selendang Merah dengan santainya bertanya kembali.

__ADS_1


"Soal itu, Tentu saja sudah sangat lama." Ia sangat ingat berapa lama ia menjadi seorang penasihat Raja Agung. "Tapi kenapa gusti ratu agung bertanya seperti itu?. Apakah gusti ratu agung meragukan hamba?." Dengan raut wajah memelas ia berkata seperti itu.


"Ya, tentunya aku ragu." Balas Ratu Agung Selendang Merah berusaha menahan tawanya.


"He?. Sangat kejam sekali." Dalam hati Penasihat Raja Agung Dewandaru merasa sedih.


"Apakah kau lupa?. Dengan pengecualian yang tertera di peraturan yang tertulis di halaman 25 tentang pengajuan penindakan hukuman jika gusti raja agung tidak ada, atau tidak bisa memutuskan perkara tersebut?. Apakah kau lupa begitu saja?. Ratu Agung Selendang Merah mengingatkan Penasihat Raja Agung Dewandaru untuk mengingat kembali tentang peraturan itu.


"Hum. Apakah memang ada pengecualian seperti itu ya?." Penasihat Raja Agung Dewandaru mencoba mengingatnya. "Apakah ada bab atau halaman yang telah aku lupakan begitu saja?." Ekspresi berpikirnya terlihat sangat lucu.


"Coba ingat lagi dewandaru. Jadilah penasihat hukum yang baik. Bukan hanya demi diri sendiri saja. Ini demi menyangkut banyak nyawa yang telah melayang sia-sia karena kejahatan yang mereka lakukan." Ratu Agung Selendang Merah kembali memancing ingatan Penasihat Raja Agung Dewandaru.


"Wah!. Benar juga!." Tiba-tiba saja ia ingat dengan peraturan itu. "Apakah gusti ratu agung akan melakukan itu untuk menghukum mereka semua?." Ia tidak menduga sama sekali.


"Tentu saja." Ratu Agung Selendang Merah tersenyum kecil.


Apakah yang akan dilakukan Ratu Agung Selendang Merah?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2