
...***...
Hari ini diadakan sidang untuk kasus pengambilan dana yang telah diberikan Ratu Agung Selendang Merah pada rakyat Kawasan Kumuh. Jendral Jibat dan Lukita melakukan sidang untuk menuntut apa yang telah dilakukan Yangka Patari. Tentunya mereka ingin meminta keadilan untuk Yangka Patari yang telah melakukan kerugian bagi negara, juga rakyat kawasan kumuh.
"Hormat pada gusti ratu agung." Penasihat Raja Agung kali ini berperan sebagai pembawa acara dalam sidang agung. "Hormat pada dewan agung selalu dewan keputusan tertinggi di istana kerajaan tiga warna." Ia memberi hormat pada mereka semua. "Terima kasih karena telah datang pada hari ini sebagai dewan agung yang telah diberi kepercayaan gusti ratu agung untuk memberikan keputusan." Penasihat Raja Agung Dewandaru memberi salam pembuka. "Hari ini saya sebagai penasihat raja agung akan membawakan sidang untuk menuntut atas apa yang telah dilakukan tuan yangka patari terhadap prajurit istana yang telah membawa uang serta bahan makanan ke kawasan kumuh." Ia mulai masuk pada permasalahan yang telah mereka hadapi. "Namun sebelum memasuki kawasan kumuh, mereka dibujuk oleh tuan yangka patari." Penasihat Raja Agung Dewandaru memberikan sedikit gambaran pada mereka semua. "Dalam tindakan itu yangka patari bertidak sebagai tuan untuk mereka, sedangkan mereka bertindak untuk mengambil uang tersebut." Lanjutnya. "Bagaimana pendapat tuan dewan agung?. Silahkan berikan tanggapan." Ia meminta pendapat dari Dewan sidang Agung yang hadir dalam sidang keputusan hukuman.
"Fitnah!. Saya telah difitnah!." Yangka Patari sama sekali tidak terima dengan apa yang dibacakan oleh Penasihat Raja Agung Dewandaru. "Tidak mungkin saya melakukan itu!." Hatinya sangat membuncah karena tuduhan itu?.
Srakh!!!.
"Jika kau berani menghindar dari tanggung jawab yang telah kau lakukan, maka aku tidak segan-segan untuk membunuhmu saat ini juga." Mentri keuangan Jibat sangat kesal dengan apa yang dikatakan Yangka Patari.
"Turunkan pedangmu!." Ia hampir saja kehilangan nyawanya. "Kau akan aku tuntut karena kau telah berani menggunakan kekerasan padaku!." Ia mencoba untuk mengancam mentri keuangan Jibat.
"Sungguh sangat memalukan sekali. Masih saja belum mau mengakui perbuatanmu?." Pedangnya hampir saja menebas kepala Yangka Patari, jika ia tidak bisa menahan dirinya.
"Memangnya apa yang telah aku lakukan?. Sehingga aku diperlakukan seperti ini?!." Ia malah bertanya seperti itu?.
A
"Kau harus membayar atas apa yang telah kau lakukan!. Kau jangan berpura-pura tidak ingat atas apa yang telah kau lakukan!." Hatinya sangat sakit, dan ingin rasanya ia membunuh Yangka Patari saat itu juga, jika saja ia tidak ingat saat itu ia berada di mana.
"Heh!. Apa yang kau bicarakan?. Mana mungkin aku mau mengakuinya." Ia masih bisa tersenyum licik?.
"Aku benar-benar akan membunuhmu, jika kau masih saja tidak mau mengakui perbuatanmu!." Ujung pedangnya sudah sangat gatal ingin menusuk kepala Yangka Patari.
"A-apa yang kau katakan?. Memangnya kau berani?!. Lakukan saja jika kau memang berani!." Yangka Patari malah menantang Menteri Keuangan Jibat agar bertindak lebih nekat di depan Dewan Sidang Agung.
__ADS_1
"Tentu saja aku berani. Asalkan membunuh orang yang tidak berguna seperti kau!. Maka akan aku lakukan!. Aku tidak akan keberatan di penjara, jika aku berhasil membunuh orang bodoh seperti kau!." Ancam mentri keuangan Jibat sambil menyeringai lebar.
"Bajingan kau!." Yangka Patari sangat sangat sakit mendengarkan ucapan itu.
"Aku bahkan sangat tidak sabar ingin membunuhmu!. Karena kau telah berani menggunakan dana negara dengan tamak, serta membuat aku bekerja tidak becus dihadapan gusti ratu agung." Itulah alasan kenapa ia ingin segera membunuh Yangka Patari. "Karena tindakan busuk mu itu, aku hampir saja mendapatkan hukuman dari gusti ratu agung. Jadi, demi membersihkan namaku kembali, membunuhmu itu adalah pilihan terbaik." Ia berusaha bersikap tenang saat itu. "Jadi kau jaga lah sikap mu, jika kau tidak ingin mendapatkan hukuman mati atas kasus pengambilan dana yang kau lakukan. Tentunya gusti ratu agung akan mengabulkan keinginan ku, jika aku mengatakan pada beliau bahwa kau telah berani merendahkan diri beliau dengan tindakan yang lakukan." Dengan senyuman penuh kemenangan ia berkata seperti itu.
"Kegh!." Ia sangat kesal. "Dia ini memang bajingan busuk!. Dia cukup pandai sekali mengancamku." Dalam hatinya tidak terima, ia tidak bisa bertindak sembarangan saat ini. Apalagi ia tidak memiliki dukungan dari manapun. "Akan aku balas perbuatanmu suatu hari nanti!." Dalam hatinya sangat mengutuk atas apa yang telah dikatakan mentri keuangan Jibat.
"Lanjutkan sidangnya." Menteri Keuangan Jibat mempersilahkan mereka untuk melanjutkannya. "Maafkan kami jika telah melakukan kesalahan." Lanjutnya sambil menghormati mereka semua.
"Baiklah. Silahkan lanjutkan untuk diskusinya, kami akan menunggu keputusan dari dewan agung." Penasihat Raja Agung Dewandaru mempersilahkan untuk melanjutkan sidang. Ia juga dapat merasakan kemarahan Ratu agung Selendang Merah. Hawa yang sangat tidak biasa, sehingga ia harus berhati-hati supaya Ratu Agung Selendang Merah tidak marah, dan menghancurkan ruangan itu?. Bisa gawat nantinya.
Lima Anggota Dewan Agung saat ini sedang memutuskan perkara serta hukuman apa yang akan diterima oleh Yangka Patari serta anak buahnya karena kejahatan yang mereka lakukan.
...***...
"Hari ini kau aku larang untuk keluar rumah." Selir Kamala Hastanti terlihat sangat marah. "Jadi jangan berani-berani untuk meninggalkan rumah ini walaupun satu langkah saja." Hatinya merasa panas setelah apa yang terjadi?.
"Apa yang ibunda katakan?. Kenapa saya tidak boleh keluar rumah?. Apa lagi menuju istana utama?. Apa alasan ibunda melarang saya untuk tidak ke sana?." Tentunya ia bertanya karena ia penasaran dengan tindakan ibundanya yang terlihat aneh, dan tidak masuk akal baginya.
Belum ada tanggapan dari Selir Kamala Hastanti, karena ia memang tidak berbuat berdebat dengan anak laki-lakinya itu. Sungguh, anak bungsunya itu telah berani menjawabnya?.
"Hari ini saya akan mengadakan sidang perdana saya." Ia sangat kecewa jika ia melewatkan itu. "Sidang yang harus saya ikuti, saya bekerja untuk istana. Karena itulah saya harus ke sana." Lanjutnya.
"Aku tidak peduli sama sekali!. Kau harus mendengarkan apa yang aku katakan!. Jangan membantah apa yang aku katakan!." Amarahnya semakin bertambah karena anaknya membantah apa yang ia katakan. "Apakah kau tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan?!." Hatinya semakin panas mendengarkan ucapan anaknya.
"Sebagai seorang pangeran, saya memiliki kewajiban untuk itu!." Pangeran Arzaguna Basukarna tetap pada pendiriannya. "Jika ibunda tidak suka, maka ibunda sebaiknya tidak melakukan hal yang aneh seperti ini." Tentunya itu terasa aneh bangunan. "Kenapa ibunda tidak memperbolehkan saya untuk melakukan sidang?." Kembali ia bertanya. Tidak mungkin ibundanya melarangnya tanpa adanya alasan yang jelas.
__ADS_1
"Kau ini benar-benar anak durhaka!. Dengarkan apa yang aku katakan!. Kau tidak akan aku izinkan untuk pergi ke istana utama!." Selir Kamala Hastanti benar-benar tidak dapat lagi menahan amarahnya. "Kau hanya akan menjadi budaknya saja!. Tunggu hingga saat aku berhasil menguasai negeri ini, dan kau yang akan menjadi raja agung!." Itulah ambisi yang ia miliki saat ini. "Apakah kau tidak mengerti dengan apa yang aku katakan?!. Kedudukan pangeran tidak akan membuatmu menjadi lebih baik!." Entah itu ambisi pribadi atau memang untuk anaknya?. Tidak ada yang tahu.
"Tidak ibunda!. Harusnya ibunda yang mendengarkan apa yang saya katakan!." Pangeran Arzaguna Basukarna masih bersikeras dengan pendapatnya. "Ini adalah hal yang benar!. Tapi kenapa ibunda malah menghalangi saya menjalankan tugas saya sebagai putraku mahkota?!." Pangeran Arzaguna Basukarna tidak percaya jika ibundanya memiliki pikiran yang lain?. Apa yang diinginkan ibundanya sebenarnya?.
"Itu karena kau telah dibawah pengaruh wanita itu!. Sehingga dengan mudahnya patuh padanya, dan kau tidak menuruti apa yang aku katakan padamu!." Ia sudah tidak tahan lagi. "Kau bahkan berani melawanku sejak kau dekat dengannya!." Ia dapat merasakan perubahan anaknya.
"Ibunda!. Ini tidak ada hubungannya dengan yunda ratu agung!. Ibunda jangan berkata yang tidak-tidak tentang yunda gusti ratu agung. Karena yang saya lakukan berdasarkan hati nurani saya!. Bukan dipengaruhi yunda gusti ratu agung!." Pangeran Arzaguna Basukarna malah membela Ratu Agung Selendang Merah dihadapan ibundanya.
PLAK!!!.
Karena tidak dapat lagi menahan dirinya, serta amarah yang telah membuncah di dalam dirinya, ia menampar kuat pipi anaknya. Tentunya itu adalah sebuah guncangan bagi Pangeran Arzaguna Basukarna. Karana ibundanya tidak pernah main kekerasan padanya, namun apa yang terjadi pada hari ini?.
"Lihat?. Betapa besarnya nyalimu berani meninggikan suaramu padaku!." Setelah menampar anaknya, ia masih bisa menahan amarah yang berkumpul di kepalanya?. "Apakah kau pikir kau berbicara dengan siapa?!. Hah?!" Kali ini ia melampiaskan untuk sesaat. Karena kedengkian yang ia rasakan telah mengalahkan segalanya.
Pangeran Arzaguna Basukarna hanya menahan amarahnya setelah ia menerima tamparan keras itu. Hatinya sakit, fisiknya juga sakit. Perasaannya saat ini bercampur aduk tidak menentu karena sikap yang ditunjukkan oleh ibundanya.
"Jika kau berani meninggalkan rumah ini satu langkah saja. Maka aku tidak akan mengakuimu sebagai anak lagi, jangan panggil aku ibunda lagi." Itulah ancaman yang ia layangkan pada anaknya sendiri.
Deg!.
"Apa ini maksudnya?." Dalam hati Pangeran Arzaguna Barsukarna sangat terkejut dengan apa yang ia dengar saat itu.
"Pikirkan dengan baik, jika kau tidak ingin kehilangan ibundamu." Setelah berkatas seperti itu ia pergi meninggalkan anaknya. "Aku tidak ingin kau melibatkan diri dengan wanita busuk itu." Ia ingin menenangkan dirinya setelah ia menampar kuat anaknya. Apakah itu tadi adalah dirinya?. Entahlah!.
"Ternyata ibunda memang berniat jahat pada yunda gusti ratu agung. Agung tidak akan memaafkannya. Ibunda telah berani melakukan hal yang tidak baik." Ia sempat mendengarkan apa yang direncanakan adik dan ibundanya. "Aku pasti akan melindungi yunda gusti ratu agung dari kalian semua. Terutama dari ibundaku. Sendiri". Dalam hatinya tidak menduga jika ibundanya sendiri berniat ingin melakukan suatu kejahatan pada Ratu Agung Selendang Merah. "Kalian semua telah melakukan kejahatan yang tidak bisa diampuni." Pangeran Arzaguna Basukarna sangat geram. "Aku akan membicarakan masalah ini dengan yunda gusti ratu agung setelah sidang pertamaku selesai." Pangeran Arzaguna Basukarna telah memutuskan akan melakukan tindakan apa setelah ini. Ia tidak akan membiarkan istri dari kakaknya terluka karena rencana jahat yang mereka miliki. Termasuk dari kejahatan yang telah direncanakan oleh ibundanya sendiri. Ia harus menghentikan kejahatan itu demi kebaikan. Apakah yang akan dilakukan Pangeran Arzaguna Basukarna untuk melindungi Ratu Agung Selendang Merah?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1