RATU AGUNG SELENDANG MERAH

RATU AGUNG SELENDANG MERAH
CHAPTER 58


__ADS_3

...***...


Setelah sidang itu selesai, Ratu Agung Selendang Merah masih berbincang-bincang dengan Menteri Keuangan Jibat dan Lukita. Karena masalah keuangan telah selesai, tentunya ada hal penting yang harus mereka lakukan setelah itu. Sedangkan Dewan Agung Istana telah istirahat duluan.


"Terima kasih atas apa yang tuan jibat lakukan. Dengan begitu tugas tuan jibat telah selesai, dan tuan bisa kembali bekerja mengelola keuangan negara dengan baik." Ratu Agung Selendang Merah berkata seperti itu.


"Hamba juga sangat berterima kasih pada gusti ratu agung." Ia memberi hormat pada Ratu Agung Selendang Merah. "Dengan selesainya masalah ini hamba bisa bernafas dengan lega. Mungkin gosip tentang hamba akan menghilang perlahan-lahan. Sungguh hamba ucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Karena gusti ratu telah memberikan kepercayaan pada hamba.


"Syukurlah kalau begitu." Ratu Agung Selendang Merah ikut senang mendengarnya. "Masalah keuangan aku percayakan dengan baik padamu tuan jibat." Ratu Agung Selendang sangat percaya, jika Menteri Keuangan Jibat dapat dipercaya. "Dan aku harap tidak ada masalah nantinya." Ratu Agung Selendang Merah hanya berharap seperti itu saja.


"Akan hamba laksana dengan baik gusti ratu agung. Hamba berjanji tidak akan mengkhianati gusti ratu." Penasihat Raja Agung Dewandaru berjanji untuk itu. "Hamba akan melakukan tugas hamba dengan sangat baik." Ucapnya sambil memberi hormat pada Ratu Agung Selendang Merah. "Terima kasih atas kepercayaan yang gusti ratu agung berikan pada hamba." Senyuman itu terlihat sangat tulus.


"Semoga saja seperti itu. Aku akan selalu memperhatikan apapun yang kalian lakukan." Ratu Agung Selendang Merah tentunya melakukan semuanya secara diam-diam tanpa mereka ketahui. "Bekerjalah dengan sepenuh hati, supaya menghasilkan kebaikan yang tulus nantinya." Ratu Agung Selendang Merah sangat senang masalah keuangan telah diselesaikan dengan baik.


"Akan hamba lakukan gusti ratu agung." Itulah janji mentri keuangan Jibat.


"Untukmu nona lukita. Karena masalah di sini telah selsai. Teruskan tugasmu di sana. Terus pantau keadaan. Jika terjadi sesuatu di sana, maka segera laporkan padaku dengan cepat." Ratu Agung Selendang Merah  kali ini menatap kearah Lukita.


"Akan hamba lakukan dengan baik gusti ratu agung." Lukita memberi hormat pada Ratu Agung Selendang Merah.


"Jadi lukita kembali ke kawasan kumuh?. Sangat disayangkan sekali." Dalam hati Menteri Keuangan Jibat sedikit gelisah. Entah kenapa ia tidak  rela jika Lukita kembali ke sana. "Padahal aku masih ingin bersamanya." Entah kenapa ia sangat ingin mengenali Lukita lebih baik lagi. Wanita cantik yang memiliki kemampuan yang sangat luar biasa.


"Baiklah. Dengan begitu kalian boleh istirahatlah." Ratu Agung Selendang Merah mempersilahkan mereka untuk segera beristirahat. "Aku harap kalian akan terus seperti ini. Membela keadilan dengan tangan kalian sendiri demi melindungi negeri ini." Ratu Agung Selendang Merah hanya memiliki harapan dalam hatinya. "Semoga saja kita dapat memperbaiki negeri ini." Ratu Agung Selendang Merah hanya tidak ingin negeri ini semakin kacau.l

__ADS_1


"Kami akan menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan yang kami miliki gusti ratu. Terima kasih atas kesempatan baik ini gusti ratu agung." Menteri keuangan Jibat kembali memberi hormat. "Kalau begitu kami pamit undur diri." Menteri keuangan Jibat tentunya memiliki urusan lainnya setelah ini.


"Salam hormat penuh cinta untuk gusti ratu agung." Ucap keduanya dengan sangat tulus.


Setalah memberi hormat, keduanya benar-benar pergi meninggalkan ruangan itu. Hanya tinggal Ratu Agung Selendang Merah dan Penasehat Raja Agung Dewandaru.


"Apakah gusti ratu masih ingin melakukan sidang lagi?." Penasihat Raja Agung Dewandaru bertanya karena penasaran. "Hamba akan memanggil jendral jibat, serta pangeran arzaguna basukarna untuk melakukan sidang. Jika memang ratu ingin melanjutkan sidangnya." Penasihat Raja Agung Dewandaru melihat ada bentuk semangat yang dirasakan oleh Ratu Agung Selendang Merah.


"Tidak usah." Hanya dua kalimat yang ia ucapkan.


"Tidak usah?. Tapi kenapa?." Penasihat Raja Agung Dewandaru heran dengan apa yang ia dengar. "Tidak biasanya." Dalam sedikit waspada.


"Karena saat adik pangeran sedang ditawan ibundanya. Sehingga ia tidak bisa datang untuk melakukan sidang." Jawab Ratu Agung Selendang Merah. "Jadi kita tunda saja sidangnya sampai besok." Ia juga tidak terburu-buru.


"Tapi tenang saja. Adik pangeran akan berusaha datang. Aku yakin jika ia memiliki keberanian yang sangat tinggi untuk bertindak." Ratu Agung Selendang Merah dapat merasakan itu. "Katakan saja pada jendral kuasa, bahwa sidang akan ditunda sampai besok. Persiapkan dengan matang untuk besok. Karena lawan yang akan kita hadapi lumayan lebih keras kepala dari yang sebelumnya." Hanya itu saja pesan dari Ratu Agung Selendang Merah.


"Baiklah. Kalau begitu akan hamba sampaikan pada jendral kuasa, apa yang gusti ratu sampaikan." Penasihat Raja Agung Dewandaru langsung mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Ratu Agung Selendang Merah.


Apakah yang akan  terjadi selanjutnya?. Simaklah dengan baik kisah ini supaya lebih memahaminya dengan baik. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.


...***...


Di Kediaman Selir Kamala Hastanti.

__ADS_1


Pangeran Arzaguna Basukarna saat ini sedang memikirkan bagaimana caranya untuk melarikan diri dari rumahnya sendiri. Akan tetapi saat itu ia sedang memikirkan hal yang lain.


"Ayahanda raja agung. Apa yang harus saya lakukan untuk menghilangkan kebimbangan yang sedang saya rasakan?." Suasana hatinya saat ini sangat gelisah. Ia tidak bisa memikirkan hal yang lain selain memikirkan ayahandanya. "Katakan pada ananda yang sama sekali tidak mengerti sama sekali ayahanda raja agung." Sungguh ia tidak memiliki pegangan saat ini.


Entah itu adalah sebuah keajaiban atau ia saat itu sedang merindukan ayahandanya, rasanya ia hampir tidak percaya jika ia melihat sosok ayah yang sangat ia rindukan.


"Ayahanda raja agung?." Pangeran Arzaguna Basukarna sangat merindukan sosok ayahandanya. "Apakah ayahanda mendengarkan apa yang ananda keluhkan?." Hatinya sangat sedih dengan apa yang telah terjadi.


"Kau harus bisa membuat keputusan yang baik." Senyuman itu sangat ramah, dan sangat menawan untuk dilihat. "Jika ibunda mu tidak lagi mengatakan itu, maka kau sendiri yang bisa memutuskannya." Hanya kata-kata seperti itu saja ia katakan pada anaknya. "Akan tetapi jangan salah memutuskan. Karena satu detik berlalu tidak akan bisa dikembalikan lagi. Maka berhati-hatilah dalam bertindak." Kali ini ia memberikan masukan pada anaknya ketika bertindak.


"Ayahanda raja agung benar." Pangeran Arzaguna Basukarna mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ayahandanya. "Lalu apa yang harus saya lakukan ayahanda raja agung?. Katakan pada saya!." Tapi ia tidak mengerti mau memulai dari mana.


"Semuanya tergantung pada hati nurani kita sendiri. Apakah dia bersedia melakukan itu atau malah membiarkannya begitu saja?." Ia memang tidak bisa membantu anaknya saat ini akan tetapi bayangan itu akan selalu mengingatkan anaknya untuk menguatkan hatinya.


"Saya yang menentukan?." Pangeran Arzaguna Basukarna memikirkan apa yang dikatakan oleh ayahandanya.


"Ya, itu benar. Jika kau telah bisa memutuskan masalah itu dengan baik, maka lakukan dengan baik pula." Ia sangat senang mendengarnya.


"Saya akan melakukannya dengan baik ayahanda raja agung. Saya telah memutuskan untuk melakukan apa demi semua kebaikan yang ayahanda raja agung ajarkan pada saya." Pangeran Arzaguna Basukarna telah menguatkan dirinya, pikirannya, mentalnya, untuk menahan ke depan.


Pangeran Arzaguna Basukarna telah memutuskan akan melakukan apa. Ia telah memikirkannya dengan matang, langkah apa yang hendak ia lakukan setelah ini. "Yunda gusti ratu agung. Saya bersumpah akan membantu yunda gusti ratu agung dengan baik." Dalam hatinya telah membulatkan tekadnya. "Aku hanya ingin membantu yunda ratu agung saja. Saya sangat kasihan dengan yunda ratu agung. Apalagi rakanda gusti raja agung belum pulih. Negeri ini dalam keadaan gawat. Apalagi adanya keinginan ibunda yang menginginkan aku menjadi raja." Hatinya belum bisa menerima itu.


Apakah yang akan dilakukan Pangeran Arzaguna Basukarna selanjutnya?. Temukan jawabannya, simak terus ceritanya. Jangan lupa tambahkan ke favoritnya. Salam penuh cinta untuk pembaca tercinta.

__ADS_1


...***...


__ADS_2