RATU AGUNG SELENDANG MERAH

RATU AGUNG SELENDANG MERAH
CHAPTER 42


__ADS_3

...***...


Istana Utama.


Sepertinya Ratu Agung Selendang Merah dan Pangeran Arzaguna Basukarna sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh selir Kamala Hastanti. Mereka tidak menduga jika Selir raja berkata seperti itu?.


"Ternyata ibunda telah menunjukkan sikap asli ibunda pada mereka semua. Apakah ibunda tidak malu sedikitpun?." Pangeran Arzaguna Basukarna sangat tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Kau adalah anakku!. Kenapa kau berkata seperti itu padaku!." Dengan amarah yang sangat membara ia membentak mereka semua. Ia sangat marah karena mereka sama sekali tidak menghargai dirinya, termasuk anaknya sendiri.


"Jika ibunda sedang marah, sebaiknya ibunda pulang dulu. Kasihan yang lainnya melihat kemarahan ibunda. Apakah ibunda tidak malu dilihat seperti itu?." Pangeran Arzaguna Basukarna memohon pada ibundanya.


"Kalian lihat saja nanti!. Terutama kau!. Kau yang telah mengubah anakku seperti ini!." Dengan amarah yang tidak bisa ia kendali, akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari sana. Tidak ada yang membela dirinya selain tatapan penuh kebencian.


"Maaf yunda ratu agung. Mungkin itu karena ibunda cemas. Lagi pula ini salah saya, karena saya tidak mengatakan pada ibunda akan menginap di istana." Pangeran Arzaguna Basukarna merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi.


"Adik pangeran tidak perlu meminta maaf. Mari kita sama-sama masuk ke dalam." Ratu Agung Selendang Merah memahami apa yang terjadi.


"Terima kasih yunda gusti ratu agung." Pangeran Arzaguna Basukarna sangat senang dengan apa yang ia denger. Setelah itu mereka semua masuk ke dalam istana Utama. Tempat segala kebijakan diputuskan, serta menerima saran apa saja yang masuk. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.


...***...


...Di jalan menuju Istana Utama....


Rembung dan Cibatu sama sekali tidak terlihat ceria sama sekali meskipun mereka telah berhasil menangkap keluarga besar Menanti.

__ADS_1


"Apa yang membuat raut wajah tuan-tuan seperti ini?. Apakah ada sesuatu yang tuan-tuan khawatirkan?." Lukita terlihat heran dengan sikap mereka hari ini.


Namun belum ada tanggapan dari keduanya. Padahal mereka saat ini sedang naik gerobak bedati di satu tempat yang sama. Lukita menghela nafasnya dengan pelan. Lebih tetap nya nafas lelah melihat mereka dengan sikap aneh. Tapi siapa sangka, setelah itu mereka malah merangkul Lukita yang kebetulan duduk diantara keduanya.


"Eh?."


Lukita sangat terkejut dirangkul seperti itu. Apalagi ketika matanya melihat raut wajah penuh dengan memelas. "Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian?. Rasanya sangat aneh sekali." Lukita tidak habis pikir lagi.


"Setelah kita menyelesaikan kasus itu, apakah kita masih akan bertemu lagi lukita?. Rasanya aku masih ingin bersamamu untuk menyelesaikan beberapa masalah." Dengan tampang yang gahar itu, Jendral Kuasa ternyata bisa menunjukkan kesedihan yang ia rasakan.


"Benar itu lukita. Aku ingin  menyelesaikan masalah bersamamu. Karena kau adalah wanita yang sangat kuat. Jadinya aku ingin kau terus berada di sisiku." Menteri Keuangan Jibat bahkan ikutan merengsek karena keberatan berpisah dengan Lukita.


Lagi, Lukita menghela nafas panjang. Ia benar-benar lelah dengan apa yang dikeluhkan oleh mereka.


"Aku tidak peduli dengan apa yang kalian tangisan." Lukita merasa heran dengan apa yang terjadi pada keduanya.


...***...


Setelah masuk ke dalam istana, tentunya ruangan itu terbagi-bagi. Sehingga ada batasan tempat ruangan mereka berkerja di bidang apa?.


"Sampai disini dulu yunda ratu agung. Saya akan ke ruangan lainnya memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja." Pangeran Arzaguna Basukarna memberi hormat.


"Baik adik pangeran. Semangat dalam berkerja." Ratu Agung Selendang Merah mengerti apa yang dikatakan oleh Pangeran Arzaguna Basukarna.


Mereka berpisah ruang kerja yang berbeda. Sehingga mereka tidak bisa berbicara dengan santai. Namun saat itu Ratu Agung Selendang Merah melihat Selir Manik Keshwari telah menunggunya di ruangan itu bersama Penasihat Raja Agung Dewandaru. Ratu Agung Selendang Merah mencoba mengabaikannya untuk sementara waktu, setelah ia duduk di kursinya.

__ADS_1


"Selamat pagi selir raja agung." Dengan suara yang ramah ia menyapa Selir Raja Agung.


"Kau tidak usah banyak basa-basi lagi. Aku sudah muak dengan apa yang kau lakukan selama ini!." Sepertinya Selir Manik Keshwari tidak bersahabat sama sekali. Ia terlihat sangat marah, dan ada hal yang ingin ia sampaikan?.


"Tidak baik pagi-pagi marah seperti itu. Nanti lekas tua." Ratu Agung Selendang Merah berkata dengan nada bercanda. Akan tetapi Penasihat Raja Agung Dewandaru hampir saja tertawa terbahak-bahak, jika ia tidak menyadari bagaimana situasi saat ini.


"Diam kau!. Jangan banyak bicara!. Aku tidak butuh kata apapun darimu!." Selir Manik Keshwari langsung mendekati Ratu Agung Selendang Merah.


BRAKH!.


Ia gebrak meja itu dengan sangat kuat. Matanya melotot dengan tajamnya, memancarkan api permusuhan dengan Ratu Agung Selendang Merah. "Apa maksudmu mengirimkan aku surat peringatan seperti itu?." Akhirnya ia mengatakan tujuannya. Ya, tentunya saja surat gulungan yang dikirim ratu Agung Selendang Merah padanya.


"Wanita ini?. Apakah dia tidak menyadari kesalahan yang telah ia perbuat?." Dalam hati Penasihat Raja Agung Dewandaru merasa kesal melihatnya. Akan tetapi Ratu Agung Selendang Merah masih tetap tenang.


"Tentunya kau harusnya mengetahui dengan baik. Jika seorang tuan putri yang menjadi selir raja harus menahan dirinya agar tidak melihat ke arah lain, saat suaminya sedang berjuang melawan rasa sakit yang ada di dalam tubuhnya. Tapi kau?. Kau sendiri berbuat apa untuk rakanda gusti raja agung?." Ratu Agung Selendang Merah berusaha untuk menahan dirinya agar tidak mengeluarkan emosinya stelah mengingat apa yang terjadi.


"Kau-!." Selir Manik Keshwari sangat tidak terima, dan ia hampir saja menampar pipi Selir Manik jika ia tidak merasakan ada hawa sekitar yang mendekat.


Gluk!.


Penasihat Raja Agung Dewandaru hampir saja lupa cara bernafas jika ia aja Ratu Agung Selendang Merah tidak menahan dirinya.


"Wanita jahanam ini!." Dalam hari Selir Manik Keshwari sangat gugup tadinya. Ia tidak menduga sama sekali  jika Ratu Agung Selendang Merah hampir saja menamparnya?.


"Lebih baik kau pergi saja dari sini. Karena aku memiliki tiga orang tamu yang sangat penting, jadi kau pergi lah segera." Sorot mata Ratu Agung Selendang Merah terlihat sangat menyeramkan. Membuat Selir Manik Keshwari terpaku di tempat. "Lain kali aku akan mencari mu, karena urusan kita belum selesai sama sekali." Ratu Agung Selendang Merah menatap benci pada Selir Manik Keshwari.

__ADS_1


"Heh!." Hatinya sangat sakit mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ratu Agung Selendang Merah. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah masalah yang ada di negeri ini biasa diatasi dengan baik?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya.


...***...


__ADS_2