
...***...
Masih berlanjut.
Sementara itu Dewan Agung yang memutuskan hukuman saat ini sedang berunding. Keluarga menanti semuanya telah diamankan agar tidak lagi membuat keributan yang dapat merugikan mereka semua.
"Bagaimana keputusan dari dewan agung?. Apakah bukti yang dikeluarkan oleh mereka semua masih belum cukup untuk menghukum orang-orang yang telah mereka lakukan?." Ratu Agung Selendang Merah bertanya langsung pada Dewan Agung Selendang Merah. "Apakah harus saya tunjukkan semua bukti yang semakin memberatkan mereka?." Ratu Agung Selendang Merah semakin marah.
"Baiklah gusti ratu agung." Perwakilan Dewan Agung akhirnya menyerah. "Karena masalah yang mereka perbuat sangat berat. Telah menghilangkan nyawa manusia yang tidak berdosa, maka hukuman yang akan mereka terima adalah hukuman mati!." Setelah melakukan perundingan, itulah hasil keputusan yang dapat mereka keluarkan.
Itulah keputusan dewan Agung pada saat itu. Ada yang menerima itu dengan baik, dan ada yang merasa geram dengan keputusan yang dilakukan oleh Dewan Agung.
"Kami tidak terima!. Bagaimana mungkin kami dihukum mati!. Kenapa kalian memperlakukan kami seperti ini!." Teru Menanti sangat tidak tidak terima, akan tetapi gerakannya ditahan oleh Menteri Keuangan Jibat.
"Berani sekali kalian memperlakukan kami seperti ini!." Muntari Menanti juga tidak terima, ia berusaha untuk melepaskan diri. Kedua tangannya di rantai dengan sangat kuat.
"Kami adalah bangsawan yang telah membayar pajak dengan banyak!. Jika kalian menghukum kami dengan hukuman mati!. Maka kalian akan kehilangan penghasilan pajak!." Merekah Menanti terlihat sangat ketakutan karena ancaman hukuman mati. Perasaannya tidak karuan karena keputusan Dewan Agung.
"Apakah kalian yakin dengan itu, hah?!." Boushe Menanti juga berteriak keras, hatinya sangat sakit mendengarkan keputusaan Dewan Agung. Ia tidak ingin mati muda hanya karena masalah yang dilakukan oleh keluarganya.
Namun pada saat itu mereka malah mendapatkan lemparan dari perwakilan orang-orang kawasan kumuh. Sepertinya mereka sangat tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh keluarga Menanti. Penjahat yang telah menghilangkan banyak nyawa, apakah masih bisa mereka maafkan hanya karena keluarga Menanti membayar pajak paling tinggi?.
"Untuk apa kami menerima hasil pajak!. Jika kelakuan kalian seperti ini!. Lebih baik kalian mati saja!."
__ADS_1
"Ya!. Lebih baik kalian mati saja!. Dari pada kami merasa sedih karena kehilangan orang-orang yang kami cintai!."
"Pajak yang kalian bayar tidak akan bisa menghidupkan keluarga kami yang telah tiada!."
"Kalian lebih baik mati!. Supaya orang-orang jahat seperti kalian berkurang!."
"Kami lebih bersyukur kalian mati!. Karena sikap kalian sangat tidak manusiawi."
Keluarga Menanti sangat sedih mendengarkan itu. Ternyata mereka mendapatkan hukuman mati setelah apa yang mereka lakukan selama ini?. Apalagi mereka kawasan kumuh sangat emosi saat ini, mereka telah kehilangan banyak sanak saudara akibat perbuatan keluarga Menanti.
"Gusti ratu agung. Sebaiknya bubarkan saja pertemuan ini. Karena akan berbahaya." Penasihat Raja Agung Dewandaru melihat ada yang ingin bermain dari belakang dalam masalah yang terjadi.
"Ya, aku akan membubarkan mereka semua. Karena mereka tidak seharusnya bermain belakang seperti itu." Amarah Ratu Agung Selendang Merah masih memuncak. Apalagi melihat tatapan orang-orang yang tidak terikat dengan keputusan yang diambil oleh Dewan Agung.
Apakah yang akan terjadi setelah ini?. Simak terus ceritanya. Jangan sampai ketinggalan lanjutannya ya pembaca tercinta.
...***...
Seorang wanita bertopeng hitam telah meronda sampai ke sana. Ia ingin melihat keadaan sekitar, karena ia takut terjadi sesuatu jika ia tidak ada yang menjaganya dengan baik. Sepertinya matanya terus mencari dan menemukan sesuatu yang mungkin mencurigakan.
Dan benar, ketika matanya menangkap hitam kawasan kumuh. Ia melihat ada lima orang aneh yang sedang menggali tanah yang berada tak jauh dari kawasan kumuh. Tepatnya di hutan kawasan kumuh, kawasan yang agak berbukit. Tempat yang hampir tidak pernah dijamah oleh siapapun, termasuk oleh orang-orang kawasan kumuh.
"Gali terus, karena menurut informasi peta dari tuan hasedoki muritachi, di sini ada tambang emas yang tidak akan pernah diketahui oleh orang lain." Chumbi memerintahkan anak buahnya?. "Aku yakin ada sesuatu yang bisa kita ambil." Lanjutnya dengan nada memerintahkan mereka semua.
__ADS_1
"Jadi tujuan menggali itu untuk ini?. Sangat membingungkan sekali, dengan apa yang diinginkan mereka semua. Apakah orang kaya memang seperti itu?." Wanita bertopeng hitam mengamati dari atas pohon yang cukup tinggi yang tak jauh dari mereka. "Aku rasa tidak juga." Ia kembali mengingat beberapa orang bangsawan yang masih memiliki hati nurani. "Hanya orang kaya rakus yang melakukan hal yang seperti itu." Lanjutnya dengan kesalnya. Ia sangat tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang itu.
Kembali pada mereka yang telah melakukan hal yang aneh.
"Sepertinya kita telah menemukan lokasi yang sangat bagus." Chumbi sangat senang dengan apa yang ia temui.
"Tuan hasedoki muritachi pasti senang mendengar ini. Kita harus segera melaporkan ini padanya." Yonji juga sangat senang. Sebagai sesama bangsawan yang bekerja mencari harta mewah seperti itu tentunya itu adalah sensasi yang sangat menyenangkan bagi mereka.
"Aku setuju. Aku ingin melaporkan penemuan besar ini pada tuan hasedoki muritachi!. Aku yakin kita akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar nantinya!." Sokutoku terlihat sangat senang, hingga ia tertawa paling merasa. Tentunya teman-temannya yang lainnya ikut tertawa terbahak-bahak. Ada sensasi kebahagiaan yang ia rasakan saat ini.
Akan tetapi, mereka tidak menyadarinya, jika wanita bertopeng hitam itu telah mendengarkan apa yang mereka bicarakan, serta apa yang telah mereka lakukan pada saat itu.
"Kalian boleh saja tertawa untuk saat ini. Tapi setelah ini. Kalian akan mendapatkan masalah yang sangat besar. Karena kalian harus mempertanggungjawabkan atas apa yang telah kalian lakukan." Dalam hatinya mengutuk mereka semua.
Apakah yang akan dilakukan wanita bertopeng hitam itu?. Lalu bagaimana dengan nasib mereka semua?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Simak terus ceritanya.
...***...
Di kediaman Selir Manik Keshwari.
Setelah sidang itu berakhir, ia memutuskan untuk kembali ke Rumahnya. Ia tidak mau singgah atau melihat Ratu Agung. Apalagi setelah Ratu Agung Selendang Merah mengetahui bahwa ia telah bermain api dengan tuan muda Mengkudu Tepu. Hatinya sangat sakit luar biasa atas ancaman yang diberikan Ratu Agung Selendang Merah padanya. Bahkan kedua pelayannya tidak terlihat lagi sejak ia mengusir keduanya.
"Benar-benar sial!. Wanita jahat itu telah berani mempermainkan aku!." Dalam hatinya mengutuk Ratu Agung Selendang Merah. "Apa yang akan aku lakukan untuk menyingkirkan wanita jahat itu dari istana ini?. Lalu dimana dia menyembunyikan rakanda gusti raja agung?!." Amarahnya benar-benar meledak. Hampir saja ia tidak bisa mengendalikan durun. "Selain itu aku juga tidak bisa bertemu dengan kekasihku mengkudu tepu. Padahal aku sangat ingin bermain-main dengan kekasihku itu." Dengan sangat kesalnya ia mencakar meja di ruangannya itu.
__ADS_1
Namun saat itu ia teringat sesuatu, dan membuatnya berpikir bahwa?. "Jika wanita jahat itu mengetahui aku bermain api dengan tuan muda mengkudu tepu. Itu artinya dia telah mengirim mata-mata di rumahku!." Amarahnya semakin memuncak karena teringat dengan itu. "Berani sekali dia mengirim mata-mata ke rumahku!. Wanita jahat sial!. Akan aku temukan siapa saja orang-orang yang kau kirim ke rumahku ini!." Dengan penuh amarah ia keluar dari ruangannya. Ia ingin mengetahui siapa saja yang menjadi mata-mata yang telah berani melaporkan apa saja yang telah ia kerjakan selama ini. Meskipun ia adalah selir Raja Agung, namun selama dua tahun ini ia belum pernah bertemu langsung dengan Raja Agung. Itulah salah satu alasan dan penyebab kenapa Selir Manik Keshwari bermain api dengan laki-laki lain. Apakah ia telah melakukan kesalahan?. Sementara ia sama sekali tidak bisa bertemu dengan suaminya setelah sekian lama menikah?. Apakah itu salahnya karena melakukan itu?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Apakah ini salahnya atau salah Raja Agung yang salah?. Simak terus ceritanya.
...***...