
...***...
Lukita mengatakan, jika ada seseorang yang diutus oleh Ratu Agung Selendang Merah untuk memeriksa dari mana sumber senjata api itu?. "Kita hanya perlu merencanakan penangkapan mereka semua malam ini juga." Lukita terlihat sangat sangat serius, sorot matanya terlihat sangat tajam dari yang sebelumnya. "Kita juga harus segera memeriksa siapa yang telah menggelapkan dana yang diberikan gusti ratu agung. Kita tidak boleh berlama-lama di sini." Lanjutnya lagi.
"Tapi bagaimana caranya kita membuktikannya, jika orang suruhan gusti ratu agung belum berada di sini?." Rembung merasa aneh dengan ucapan Lukita.
"Ya, jika kita tidak membuktikannya malam ini, maka kita akan mendapatkan masalah yang sangat besar." Cibatu tidak bisa membayangkan, jika mereka gagal melakukan perintah Teru Menanti. Apa yang akan mereka lakukan?. "Tidak mungkin kita membongkar identitas asli kita dihadapan mereka, hanya karena kita tidak bisa membuktikan tentang senapan api itu." Cibatu sangat khawatir dengan masalah itu.
"Tenang saja. Malam ini juga orang kepercayaan gusti ratu agung akan segera sampai, dan mungkin saja akan segera bergabung dengan kita semua." Lukita terlihat sangat percaya diri, jika pendekar yang diutus Ratu Agung Selendang Merah akan membantu mereka?.
"Baiklah, jika memang itu terjadi, maka kita harus bersiap-siap." Rembung tidak lagi membantah, ia hanya percaya dengan apa yang dikatakan Lukita.
"Mari kita selesaikan masalah ini dengan segera. Rasanya aku tidak betah berlama-lama di lingkungan seperti ini." Cibatu terlihat gerah, tidak menyukai kondisi asing seperti itu.
"Baiklah. Mari kita lakukan bersama-sama." Lukita tersenyum ramah, membuat Rembung, dan Cibatu terpaku akan kecantikan Lukita.
__ADS_1
"Cantik juga dia kalau tersenyum." Setidaknya itu lah yang ada di dalam pikiran mereka ketika melihat senyuman Lukita. Tapi dalam hati mereka berusaha untuk menekan perasaan itu, karena ini bukan saatnya untuk terpesona dengan senyuman manis seseorang. Apakah mereka mampu melakukan perintah Ratu Agung Selendang Merah untuk menangkap dalang pembunuhan di wilayah kawasan kumuh?. Simak terus ceritanya.
...***...
Ratu Agung Selendang Merah baru saja keluar dari istana Timur, dan kebetulan di ia melihat Pangeran Arzaguna Barata.
"Hormat pada ayunda gusti ratu agung." Pangeran Arzaguna Barata memberi hormat, itu artinya ia masih menunjukkan sikap sopannya.
"Adik pangeran arzaguna barata." Ratu Agung Selendang Merah mendekati Pameran Arzaguna Barata. "Ada apa gerangan yang membuat adik pangeran datang ke istana timur ini?." Ratu Agung Selendang Merah sedikit penasaran. "Jika ada yang ingin disampaikan, mari kita masuk setelah penasihat raja agung dewandaru keluar membawa para pemberontak." Ucapnya sambil mempersilahkan Pangeran Arzaguna Barata agar mengikutinya.
"Bisa jadi seperti itu." Matanya menangkap sosok keempat orang yang telah berhasil diamankan Penasihat Raja Agung Dewandaru. "Bisa jadi seperti itu yang sedang terjadi pada saat ini." Sorot matanya terlihat sangat tajam pada saat itu, meskipun separuh wajahnya ditutupi oleh cadar merah.
"Mereka?. Bukankah mereka dari golongan bangsawan terhormat di kawasan pusat kota?." Pangeran Arzaguna Barata sangat terkejut melihat siapa saja yang dibawa oleh Penasihat Raja Agung Dewandaru.
"Ya, mereka memang orang bangsawan yang berasal dari pusat kota negeri ini." Mata itu terlihat semakin tajam. "Tapi apakah adik pangeran tidak mengetahui?. Mereka adalah orang dalam yang telah berani memicu terjadinya perang antara orang istana dengan kawasan kumuh?." Ratu Agung Selendang Merah hampir saja memperlihatkan kemarahannya. "Mereka yang telah mematik api pada sekam, dengan kelakuan keji yang telah mereka lakukan." Hatinya terasa sakit mengingat semua yang ia saksikan pada masa itu. "Rakanda gusti raja agung telah lama ingin menangkap mereka. Tapi sepertinya tubuh rakanda gusti raja agung telah diracuni seseorang, sehingga tubuhnya mati rasa saat ini." Matanya kali ini melirik ke arah Pangeran Arzaguna Barata.
__ADS_1
Deg!!!.
Pangeran Arzaguna Barata sangat terkejut mendengarkan ucapan itu. "Entah kenapa, aku merasakan wanita ini seakan-akan mengetahui, jika aku adalah salah satu orang yang terlibat dalam masalah itu?. Berani sekali dia menatapku seperti itu." Amarah yang tidak biasa yang ia rasakan saat itu, hanya karena sorot mata Ratu Agung Selendang Merah yang seakan-akan telah menelanjanginya dengan sebuah kesalahan yang sangat fatal. Sungguh ia telah melakukan kesalahan karena telah datang sendirian hari ini untuk bertemu dengan Ratu Agung Selendang Merah.
"Kalau begitu mari kita masuk adik pangeran. Sepertinya mereka telah pergi. Mari kita berbicara di dalam." Dengan suara ramah, Ratu Agung Selendang Merah mengajak adik iparnya untuk berbicara di dalam.
"Maafkan saya ayunda gusti ratu agung. Sepertinya saya memiliki urusan yang sempat saya lupakan." Balasnya dengan ragu. "Saya pamit dahulu untuk melihatnya. Maafkan saya sekali lagi kakak gusti ratu agung." Pangeran Arzaguna Barata memberi hormat. "Aku tidak mau terlibat terlalu dalam dengan pembicaraan ini. Rasanya hanya akan merugikan diriku saja nantinya." Dalam hatinya mulai waspada. Ia takut Ratu Agung Selendang Merah memiliki sihir yang dapat membuat seseorang mengakui apa yang telah ia lakukan selama ini.
"Baiklah adik pangeran. Semoga saja nanti kita bisa membahas masalah di istana ini bersama-sama dengan adik pangeran nantinya." Ratu Agung Selendang Merah memahami apa yang dikatakan Pangeran Arzaguna Barata. "Jauh di lubuk hati adik pangeran yang paling dalam, adik pangeran ingin melakukan sesuatu hal yang berguna untuk negeri ini tanpa adanya kasta, serta harga diri yang tinggi." Ratu Agung Selendang Merah sengaja berkata seperti itu.
Tapi Pangeran Arzaguna Barata berpura-pura tidak mendengarkannya. "Wanita ini memang sangat berbahaya, sandiwaranya sungguh sangat mematikan sekali. Pantas saja ibunda, juga adikku tidak berkutik dihadapannya. Ia pandai sekali membaca situasi yang membuat seseorang seperti sedang takluk dihadapannya." Dalam hati Pangeran Arzaguna Barata akan berhati-hati jika berhadapan dengan Ratu agung Selendang Merah.
"Aku akan membuatmu membayar atas apa yang telah kau lakukan pada rakanda gusti raja agung. Kau salah satu orang yang menginginkan kematian rakanda gusti raja agung." Dalam hati Ratu Selendang Merah berusaha untuk menahan dirinya untuk tidak membunuh Pangeran Arzaguna Barata. "Kelak kau akan merasakan, bagaimana rasanya dikhianati oleh keluarga sendiri." Ratu Agung Selendang pergi meninggalkan istana Timur. Tentunya prajurit istana ikut bersama Ratu Agung Selendang Merah untuk kembali ke istana Barat. Apakah yang akan dilakukan oleh Ratu Agung Selendang Merah untuk menanyakan kembali kondisi kerajaan ini?. Hanya waktu yang akan menjawabnya.
Next.
__ADS_1
...***...