
...***...
Di kediaman Hasedoki Muritachi.
Utusan Ratu Agung Selendang Merah datang memberikan surat panggilan. Akan tetapi sepertinya ia tidak terima dengan panggilan dari Ratu Agung Selendang Merah.
"Saya utusan dari gusti ratu agung. Tentunya membawa surat panggilan untuk tuan." Indusakti, prajurit yang mewakili Ratu Agung Selendang Merah memberikan sebuah gulungan surat itu pada Hasedoki Muritachi.
"Atas dasar apa aku dipanggil oleh gusti ratu agung?!." Dengan kasarnya ia mengambil surat itu. Tatapannya begitu tajam ke arah Indusakti, seakan-akan ia hendak menelan prajurit tersebut.
"Tuan bisa membacanya. Di dalam surat itu terlihat jelas, apa yang menyebabkan tuan dipanggil oleh gusti ratu agung." Dengan sikap yang masih ramah ia mempersilahkan Hasedoki Muritachi untuk membacakan surat itu.
"Sial!. Dia telah mengetahui apa yang telah aku lakukan?!. Secepat itukah dia mengetahuinya?." Dalam hati Hasedoki Muritachi sangat mengutuk Ratu Agung Selendang Merah yang telah mengetahui apa apa yang telah ia lakukan selama ini?. "Bagaimana mungkin wanita itu bisa mengetahuinya?." Dalam hatinya bertanya-tanya. Apalagi surat yang ia baca memang menjelaskan alasan kenapa ia sampai dipanggil oleh Ratu Agung Selendang.
"Jika tuan telah membacanya dengan seksama, maka dengan kerelaan hati tuan segera ikut dengan kami." Indusakti kembali berkata dengan nada ramah.
"Jika aku tidak mau?. Kau mau berbuat apa?!." Suara Hasedoki Muritachi tiba-tiba saja meninggi. Sepertinya lelaki itu tidak mau menuruti apa yang dikatakan oleh Indusakti.
"Tuan jangan mempersulit tugas kami. Gusti ratu agung akan marah jika tuan tidak mau ke istana dengan baik!." Indusakti juga hampir naik darah karena melihat sikap Hasedoki Muritachi yang sama sekali tidak ramah.
"Kau ini hanyalah seorang prajurit suruhan!. Berani sekali kau meninggikan suaramu padaku!. Hyaah!." Hasedoki Muritachi malah menyerang Indusakti. Tentunya ia menghindarinya dengan melompat ke belakang. Karena serangan itu sepertinya cukup mematikan jika dadanya tidak mau tembus oleh serangan itu.
__ADS_1
Terjadi pertarungan di sana. Prajurit yang diperintahkan oleh Ratu Agung Selendang Merah untuk menangkap Hasedoki Muritachi malah melawan. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.
...***...
Istana Utama.
Turisuti baru saja masuk ke dalam ruangan ratu agung sambil membawa minuman herbal untuk Ratu Agung Selendang Merah. Turisuti yang biasanya berada di istana Barat, saat ini dipercayai oleh Ratu Agung Selendang Merah untuk membuatkan minumannya. Ia takut ada pihak yang ingin mencelakainya, itulah alasan kenapa Turisuti berada di sini.
"Maaf gusti ratu, hamba masuk." Dengan sopannya ia meminta izin masuk.
"Silahkan masuk." Balas Ratu Agung Selendang Merah dari dalam.
Saat itu Ratu Agung Selendang Merah bersama Penasihat Raja Agung sedang membahas sesuatu. Turisuti mengamati itu dengan sangat baik. Ia tidak mau mengganggu mereka yang sedang bekerja mati-matian untuk membangun kembali negeri yang hampir tenggelam ini.
"Sama-sama gusti ratu agung." Dengan senang hati ia membalas ucapan Ratu Agung Selendang Merah. Senyumannya sangat sumringah, hingga giginya terlihat.
"Silau sekali senyumannya itu." Dalam hati Ratu Agung Selendang Merah dan Penasehat Raja Agung sambil menutupi mata mereka, saking silaunya senyuman itu. Akan tetapi pada saat itu Ratu Agung Selendang Merah merasakan hal yang tidak enak sama sekali. Tentunya membuat Penasihat Raja Agung Dewandaru dan Turisuti terkejut, mereka sangat takut jika Ratu Agung Selendang Merah marah.
Deg!!!.
"Ada apa gusti ratu?. Apakah minumannya tidak enak?." Dengan hati-hati Turisuti bertanya. Karena sorot mata Sang Ratu terlihat sangat menyeramkan dari yang biasanya. "Gusti ratu baik-baik saja, kan?. itu karena akan berbahaya bagi keselamatanku setelah ini. Apakah aku boleh menghilang dari sini?." Dalam hatinyansaj cemas apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
__ADS_1
"Ekhm!." Ratu Agung Selendang Merah kembali bersikap normal. "Bukan itu turisuti." Ia melirik ke arah pembantunya yang terlihat takut. "Sepertinya hasedoki muritachi melakukan perlawanan. Dia tidak mau ditangkap." Lanjutnya. "Indusakti sepertinya tidak akan bisa sendirian berhadapan dengan mereka semua." Ucap Ratu Agung.
"Dia?. Apakah yang gusti ratu agung maksudkan adalah hasedoki muritachi?." Penasihat Raja Agung Dewandaru hanya ingin memastikannya.
"Siapa lagi jika bukan dia?." Ratu Agung Selendang Merah sangat kesal.
"Jadi seperti itu?. Aku pikir karena ada masalah dengan minumannya." Dalam hati Penasihat Raja Agung Dewandaru merasa sangat lega.
"Syukurlah tidak ada masalah dengan minumannya." Dalam hati Turisuti bersyukur. Jika tadi memang karena minuman yang ia berikan, maka ia tidak akan bisa melihat sinar rembulan malam ini, atau merasakan terik matahari untuk hari esok.
"Jadi dia melakukan perlawanan?. Bagaimana gusti ratu agung mengetahuinya?." Penasihat Raja Agung Dewandaru penasaran dengan itu.
"Benar juga ya?. Bagaimana caranya gusti ratu agung mengetahuinya?. Sedangkan Gustu ratu agung tidak keluar dari ruangan ini." Begitu juga dengan Turisuti yang penasaran tingkat dewa.
"Firasatku mengatakan, jika ada kendala yang terjadi. Apakah kalian tidak menyadari ini terlalu lama untuk menjemput seseorang di wilayah kawasan bangsawan?." Ratu Agung Selendang Merah tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.
"Lalu apa yang akan gusti ratu lakukan?. Apakah gusti ratu agung akan mengirim bantuan?." Penasihat Raja Agung Dewandaru bertanya.
"Kita tunggu sebentar lagi. Jika memang tidak sampai juga, maka aku sendiri yang akan menjemput mereka." Ratu Agung Selendang Merah tidak mau terburu-buru.
"Baiklah kalau begitu gusti ratu agung." Penasihat Raja Agung Dewandaru tetap waspada. Karena ia tidak mau menjadi tempat amukan Ratu Agung Selendang Merah nantinya. "Gusti ratu agung jika marah sangat menyeramkan. Rasanya aku dipanggang di tungku api yang sangat membara." Dalam hatinya berusaha untuk menyembunyikan kegelisahan yang ia rasakan saat ini.
__ADS_1
"Negeri ini segera mungkin harus diselamatkan. Aku tidak ingin mereka menikmati hasil itu sambil berpoya-poya atas penderitaan rakyat kecil." Ratu Agung Selendang Merah hanya berharap negeri ini bisa dipulihkan dengan perlahan-lahan. "Mereka ingin menguasai negeri ini dengan tidak baikĀ maka yang akan mereka hasilkan nantinya tidak akan baik juga." Hatinya sangat sakit karena perlakuan mereka selama ini. Apakah yang akan dilakukan oleh Ratu Agung Selendang Merah untuk membebaskan negeri ini dari keserakahan?. Kesengsaraan?. Kedengkian serta hal-hal yang merugikan?. "Mereka semua hanya mengikuti kata hati yang sesat saja, sehingga mereka berani melakukan itu tanpa memperdulikan bagaimana perasaan orang lain yang juga menginginkan hal yang sama" Dalam hati Ratu Agung Selendang Merah sama sekali tidak terima dengan apa yang mereka lakukan pada saat itu. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
...***...