RATU AGUNG SELENDANG MERAH

RATU AGUNG SELENDANG MERAH
CHAPTER 41


__ADS_3

...***...


Kediaman Keluarga Menanti.


Kedatangan Ratu Agung Selendang Merah tentunya membuat keluarga Menanti sangat terkejut. Apakah ini memang rencana yang telah dibuat Ratu Agung Selendang Merah untuk menjebak mereka semua?.


"Sebaiknya kalian tidak melawan. Karena kalian telah melakukan kejahatan yang tidak bisa diampuni lagi." Ratu Agung Selendang Merah membuat lingkaran sihir merah yang dapat mengikat mereka semua. "Apakah kalian tidak malu sama sekali atas apa yang telah kalian lakukan?!." Suara Ratu Agung Selendang Merah terdengar sangat keras, sehingga membuat mereka semua mendengarkan itu dengan sangat baik.


"Kegh!."


Keluarga Menanti yang terkena serangan itu tidak bisa melawan lagi, karena mereka benar-benar telah terikat oleh kekuatan besar milik Ratu Agung Selendang Merah. Sungguh mereka tidak menduganya sama sekali, jika Ratu Agung Selendang Merah ternyata memiliki kekuatan sebesar itu?.


"Lepaskan!."


Mereka semua mencoba berontak, namun semakin mereka berontak, tali gaib sihir itu semakin kuat mengikat mereka semua.


"Heh!. Tidak ada gunanya kalian berontak atas kekuatan yang dimiliki gusti ratu agung." Jendral Kuasa langsung membawa Teru Menanti dengan paksa. "Sebaiknya kalian menyerahkan diri dari pada melakukan hal yang sia-sia." Jendral Kuasa sangat kesal melihat sikap berontak mereka.


"Kau akan mendapatkan balasan dariku nantinya jendral rendahan!." Teru Menanti masih sempat memaki Jendral Kuasa. "Akan aku bunuh kau!." Amarahnya sangat memuncak karena itu.


Bletak!.


Saking kesalnya, Jendral Kuasa menjitak kepala belakang Teru Menanti. "Diam!. Kau yang akan aku buat menyesal karena telah menghina diriku. Juga kau telah menghina gusti ratu agung!." Jika ia tidak ingat tempat, mungkin saja telah ia lampiaskan semua kemarahan yang ia rasakan.


Setelah itu keluarga Menanti telah bawa ke gerbong bedati kuda. Mereka semua telah berhasil diamankan, tidak ada perlawanan lagi.


"Bawa mereka ke penjara istana. Setelah ini kami akan menyusul ke istana." Itulah perintah Ratu Agung Selendang Merah.


"Akan kami laksanakan gusti ratu agung." Kedua kusir bedati itu langsung menjalankan perintah dari Ratu Agung Selendang Merah. Setelah itu mereka meninggalkan kediaman keluarga Menanti. Namun saat mereka berada di luar, mereka yang tadinya sangat penasaran sangat terkejut ketika melihat seluruh keluarga menanti dibawa dari kediaman mereka. Mereka semua langsung masuk, karena penasaran dengan apa yang terjadi.


"Gusti ratu agung." Mereka yang melihat keberadaan ratu Agung Selendang Merah langsung memberi hormat.


"Ternyata mereka semua diringkus oleh gusti ratu agung."


"Terima kasih gusti ratu agung telah menangkap mereka semua. Karena memang mereka telah melakukan banyak kejahatan, dan merusak nama baik kaum bangsawan."

__ADS_1


"Kami sangat berterima kasih pada gusti ratu agung yang bertindak dengan sangat tepat."


Mereka mengeluh-eluhkan apa yang telah dilakukan oleh Ratu Agung. "Saya hanya datang sebentar. Namun yang berjasa dalam penangkapan itu adalah mereka." Ratu Agung Selendang melihat ke arah sisi lain. Sehingga mereka juga melihat ke arah yang dilihat Ratu Agung Selendang Merah.


"Bukankah anda jendral kuasa?."


"Anda adalah menteri keuangan jibat?."


Mereka semua tidak menyangka jika dua orang agung itu ikut dalam penangkapan itu?. Dan satu orang yang sama sekali tidak mereka kenali?.


"Kami hanya melakukan tugas yang diperintahkan oleh gusti ratu agung." Jendral Kuasa dan Mentri Keuangan Jibat memberi hormat pada mereka semua.


"Wah. Tidak disangka tuan berdua melakukannya dengan baik."


"Kami sangat menghargainya."


"Kami sangat senang karena tuan berdua yang bertindak dengan cepat."


Mereka sangat kagum dengan apa yang dilakukan oleh Jendral Kuasa dan Mentri Keuangan Jibat.


"Tapi dalam kasus ini, lukita juga ikut bekerjasama dengan kami." Jendral Kuasa memperkenalkan Lukita pada mereka semua.


"Lukita?."


"Pendekar wanita dari kaum kumuh?."


"Sepertinya mereka-." Dalam hati Lukita merasa sangat canggung dengan apa yang terjadi.


Tentunya mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar, dan hampir saja tidak percaya dengan apa yang mereka denger jika saja bukan jendral kuasa dan Menteri Keuangan Jibat yang berkata seperti itu.


"Ekhm!." Ratu Agung Selendang Merah memberi kode pada mereka semua. Sehingga ia menjadi pusat perhatian mereka semua. "Sita dan larang siapa saja memasuki wilayah ini. Saya akan kembali ke istana, karena ada urusan yang harus saya kerjakan." Ratu Agung Selendang Merah sepertinya tidak ingin berlama-lama berada di sana.


"Baiklah gusti ratu agung. Akan kami kerjakan." Jendral Kuasa, Menteri Keuangan Jibat, dan Lukita memberi hormat.


Boooffh!!!.

__ADS_1


Mereka semua sangat terkejut karena Ratu Agung Selendang Merah berubah menjadi elang merah yang sangat cantik. Setelah itu terbang meninggalkan mereka semua dengan tatapan tidak percaya.


"Sial!. Aku lupa jika elang ajaib itu tidak terlihat!." Dalam hati Jendral Kuasa ingat sesuatu yang hampir terlupakan.


"Oh iya ya. Itu tadi elang ajaib ya?. Aku memang pelupa gara-gara fokus dengan rencananya. Sial!." Dalam hati Menteri Keuangan Jibat mengutuk kebodohan yang ia miliki. Bagaimana mungkin ia lupa jika disaat pertarungan mereka harusnya mengetahui jika Elang ajaib berubah wujud menjadi Ratu Agung Selendang Merah agar bisa mengancam mereka. Tapi kenapa ia sampai lupa dengan masalah itu?.


"Oh?." Namun di dalam kebingungan yang mereka rasakan pada saat itu. Ada seorang pemuda yang mendekati Lukita dengan tatapan sangat kagum.


Lukita menghela nafasnya dengan lelah, ia sangat tidak nyaman dengan tatapan penuh kekaguman dari pemuda yang pernah bertemu dengannya itu.


"Apa yang kau inginkan?." Lukita bertanya dengan nada malas.


"Aku tidak menyangka jika kau adalah pendekar hebat. Aku ingin menjadi murid mu." Tanpa perasan malu ia berkata seperti itu.


Lukita hanya diam saja. Ia tidak menanggapinya sama sekali. Apakah yang akan terjadi setelah ini?. Simak terus ceritanya.


...***...


Sementara itu di lingkungan istana.


Ketika Ratu Agung Selendang Merah dan Pangeran Arzaguna Basukarna hendak masuk ke halaman istana Utama, Selir Kamala Hastanti datang menghadang mereka semua.


"Ibunda?." Pangeran Arzaguna Basukarna sangat terkejut melihat kedatangan ibundanya dengan raut wajah yang sangat tidak menyenangkan.


"Kau!. Benar-benar wanita rendahan!." Tanpa alasan dan sebab akibat, Selir Kamala Hastanti malah memaki Ratu Agung Selendang Merah. Tentunya membuat mereka semua yang berada di halaman istana Utama sangat terkejut.


"Ibunda?. Apa yang ibunda katakan?. Jaga ucapan ibunda!." Pangeran Arzaguna Basukarna sangat malu dengan apa yang dilakukan oleh ibundanya sendiri.


"Lihat?. Putraku berani membentak aku!. Dia telah membela wanita busuk itu!." Amarah Selir Kamala terlihat sangat tidak wajar.


"Ibunda!." Pangeran Arzaguna Basukarna sangat malu, dan hampir kehilangan urat malunya.


"Kau apakan anakku!. Sehingga dia tidak pulang ke rumah!. Dan dia bahkan berani membentak ku!. Kau memang wanita rendahan yang sangat tidak tahu malu!." Selir Kamala Hastanti memang tidak bisa lagi mengendalikan amarahnya.


"Ibunda!. Apakah ibunda tidak sadar atas apa yang ibunda katakan!." Pangeran Arzaguna Basukarna juga telah kehilangan kesabarannya karena mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ibundanya sendiri tentang Ratu Agung Selendang Merah.

__ADS_1


Begitu juga dengan yang mereka yang ikut mendengarkan ucapan Selir Kamala Hastanti. Apakah yang akan terjadi setelah ini?. Simak dengan baik lanjutnya, jangan lupa dukungannya agar author yang tidak berwujud ini semangat.


...***...


__ADS_2