
...***...
Di sisi lain.
Seekor elang terbang mengitari daerah yang sangat terpencil. Matanya terus mengamati di bawahnya. Matanya yang menangkap beberapa orang yang saat ini sedang melakukan penyeludupan senjata api. Setelah itu ia hinggap di sebuah pohon yang tak jauh dari mereka yang sedang melakukan aktivitas gelap itu.
Syuuh!!!.
Sekali kibas kepakan sayangnya memberikan sedikit angin, untuk menutupi keberadaannya. Apalagi ketika seseorang melihat ke arahnya, sehingga ia bertingkah layaknya elang normal pada umumnya. Tidak ada kecurigaan pada saat itu, karena elang sejenis itu memang terbang di daerah kawasan itu.
"Ada apa jin?. Kenapa kau malah melihat ke arah elang itu?." Seorang wanita bertanya pada temannya. "Apakah elang itu terlihat aneh menurutmu?." Wanita itu bingung dengan sikap temannya itu.
"Oh, hanya elang biasa. Mungkin dia sedang berburu. Karena kawasan ini banyak tikus liar yang berkeliaran." Pemuda yang dipanggil jin tersenyum kecil. "Tadi aku merasakan kekuatan aneh dari elang itu. Ya sudah, lupakan saja. Itu mungkin karena aku terlalu waspada." Dalam hatinya menepis perasaan buruk sangka tentang kehadiran Elang aneh itu. "Mungkin hanya perasaan ku saja." Dalam hatinya mencoba menghilangkan perasaan aneh itu.
"Baiklah, jika telah selesai mari kita segera berangkat. Karena senjata ini harus segera digunakan oleh mereka. Jangan sampai kita terlambat mengantarnya." Wanita itu tersenyum lebar sambil menepuk pundaknya.
"Ok!. Mari kita selesaikan pekerjaan ini dengan cepat." Jin juga terlihat bersemangat.
Sementara itu elang yang mengamati mereka mencoba menjaga jarak agar terus bisa mengikuti kemana senjata itu diseludupkan. Hewan yang sungguh sangat mencurigakan, tidak biasanya mengamati apa yang sedang dilakukan oleh manusia. Sosok apa yang sebenarnya memasuki elang tersebut?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1
Di Istana Timur.
Sepertinya beberapa orang yang telah dipanggil oleh Ratu Agung Selendang Merah telah menemuinya di sana. Wajah mereka terlihat sangat senang, ketika mendapat gulungan itu.
"Sepertinya ini akan menjadi batu loncatan, karena gusti ratu agung memanggil kami." Amakami terlihat sangat senang. "Tidak biasanya kita dipanggil oleh ratu agung." Amakami terlihat seperti seorang bocah yang akan mendapatkan mainan atau hadiah yang sangat menarik dari seseorang.
"Sepertinya ini sedikit membingungkan. Untuk apa gusti ratu agung memanggil kami dengan cara menyerahkan gulungan itu, jika ia hanya ingin mengetahui siapa orang dalam yang telah memicu perang besar-besaran di kawasan kumuh?." Rintoki merasa heran, kenapa Ratu Agung Selendang Merah melakukan itu?. "Ini sedikit mencurigakan." Rintoki merasa ada yang aneh dengan panggilan seperti itu?.
"Aku harus apa?. Jika gusti ratu menyuruh kami membawakan surat gulungan ini?." Dalam hati Yumaru merasa heran. Dan ia memberi hormat pada Ratu Agung Selendang Merah. Begitu juga dengan tiga temannya yang lainnya yang memberi hormat.
"Aku harap ini bukan bencana, setelah selama ini kami bersembunyi dengan baik." Dalam hati Kurakuri sedikit waspada.
"Ya, aku terima hormat kalian." Balasnya sambil memberi kode pada mereka untuk duduk di kursi yang telah ia siapkan.
"Ternyata mereka benar-benar datang." Dalam hati Penasihat Raja Agung Dewandaru merasa kagum, tidak menyangka jika keempat orang yang dipanggil ternyata benar-benar datang. "Aku ingin melihat, apakah mereka bisa menghindarinya atau tidak." Ia hanya tersenyum kecil menyapa mereka. "Aku hanya ingin menjadi saksi, apakah gusti ratu agung bisa mengatasi masalah ini dengan baik?. Kita lihat saja kedepannya akan jadi seperti apa." Dalam hatinya akan memperhatikan itu dengan sangat baik.
"Sepertinya wajah tuan-tuan terlihat sumringah sekali." Dengan senyuman yang ramah ia masih menyapa mereka semua. "Apakah karena saya telah memberikan surat rahasia itu?. Sehingga tuan-tuan tampak bahagia." Ratu Agung Selendang Merah sedikit berbasa-basi di depan mereka.
"Tentunya ini adalah sebuah kehormatan bagi kami gusti ratu agung." Mereka memberi hormat pada Ratu Agung Selendang Merah. "Ini suatu keberkahan bagi kami." Lanjut mereka dengan kompaknya. Bahkan mereka menunjukkan raut wajah penuh kebahagiaan di hadapan Ratu Agung Selendang Merah.
"Benar-benar manusia tidak tahu diri." Dalam hati Penasihat Raja Agung Dewandaru sangat muak dan jijik melihat raut wajah mereka. "Rasanya aku ingin muntah melihat mereka yang seperti itu." Dalam hatinya berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja, meskipun perutnya terasa sangat mual.
__ADS_1
"Tuan-tuan yang terhormat tidak melihat isinya sebelum saya perintahkan untuk melihatnya bukan?." Ratu Agung Selendang Merah bertanya dengan santainya pada mereka. "Tuan-tuan tentunya akan membuka sesuai dengan apa yang telah saya katakan." Ratu Agung Selendang Merah masih terlihat tenang.
"Kami tidak mungkin berani melanggar perintah dari gusti ratu agung." Dengan kompaknya mereka berkata seperti itu.
"Kami akan dikutuk oleh dewata yang agung, jika kami telah berani menolak atau melanggar perintah dari gusti ratu agung." Kembali dengan kompaknya mereka berkata seperti itu. "Kami akan menerima ganjaran, jika kami berani melanggar perintah dari gusti ratu agung." Lanjut mereka dengan sangat meyakinkan.
"Cih!. Dasar penjilat laknat!." Dalam hati Penasihat Raja Agung Dewandaru benar-benar tidak tahan. Sedangkan Ratu Agung Selendang Merah hanya diam saja, meskipun ia dapat melihat bagaimana reaksi Penasihat Raja Agung Dewandaru yang seakan-akan tidak suka dengan ucapan mereka.
"Baiklah, saya percaya jika tuan-tuan telah melakukan apa yang telah saya perintahkan. Terima kasih banyak atas kesetiaannya." Ratu Agung Selendang Merah masih bersikap santai, karena ia urat sabarnya masih belum putus. "Kalau begitu bukalah gulungan itu, bacakan dengan keras siapa nama-nama orang yang saya tulis di dalamnya." Ratu Agung Selendang Merah memerintahkan mereka untuk membacakan nama-nama yang tertulis di sana.
"Akan kami laksanakan dengan baik perintah gusti ratu agung." Dengan semangatnya mereka ingin melakukannya.
"Aku harap jantung kalian masih aman setelah membuka gulungan itu." Dalam hati Penasihat Raja Agung Dewandaru tersenyum aneh ketika melihat mereka membuat itu. "Jangan coba-coba lari dari tanggung jawab atas apa yang telah kalian lakukan." Dalam hatinya tidak sabar melihat bagaimana reaksi mereka ketika membuka gulungan surat itu.
"Mari kita lihat bagaimana reaksi mereka nantinya." Dalam hati Ratu Agung Selendang Merah sambil memperhatikan bagaimana dengan anggunnya mereka membuka gulungan surat itu. "Perlihatkan padaku bagaimana kalian yang sebenarnya." Dalam hatinya masih mengamati mereka dengan sangat baik.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah benar Ratu Agung Selendang Merah saat ini sedang menguji mereka semua?. Apakah ia bisa mengatakan kebenaran itu dengan baik pada mereka semua?. Hanya waktu yang akan menjawab semua itu. Temukan jawabannya.
Next.
...***...
__ADS_1