
...Sementara itu di Istana Barat....
Ratu Agung Selendang Merah dan Pangeran Arzaguna Basukarna saat ini sedang sarapan bersama. Mereka tidak menyangka jika pelayan hari ini masak besar, sehingga keduanya terlihat terkejut ketika makanan begitu banyak untuk disantap dua orang saja.
"Tidak biasanya kalian masak dalam jumlah yang besar. Apakah kalian sedang melakukan sesuatu yang aneh dibelakang ku?." Ratu Agung Selendang Merah menatap mereka penuh penyelidikan. Tentunya membuat mereka semua gugup.
"Ka-kami hanya senang gusti ratu baik-baik saja." Santasu terlihat gugup dengan tatapan Ratu Agung Selendang Merah.
"Hum?. Apakah memang seperti itu?." Ratu Agung Selendang Merah masih belum percaya.
"Ka-kami sungguh sangat menyayangi gusti ratu agung. Karena hasil panen melimpah, kami membuat masakan yang enak hari ini." Mitusa sangat takut jika Ratu Agung Selendang Merah tidak suka dengan apa yang ia buat.
"Kami tidak melakukan hal yang jahat gusti ratu agung." Turisuti bahkan ada di sana. Ia sangat takut jika Ratu Agung Selendang Merah memang marah pada mereka semua.
"Gu-gu-susti ratu harus memakan makanan yangs sehat, supaya bisa memimpin negeri ini dengan baik." Menikati semakin gugup, bahkan suaranya hampir saja tidak terdengar saking kecilnya.
"Mo-mo-mohon ampun jika rasanya makanan yang kami hidangkan kurang enak." Musi juga ikut menjelaskan pada Ratu Agung Selendang.
Sedangkan Pangeran Arzaguna Basukarna malah tertawa lucu melihat Ratu Agung Selendang Merah mencurigai sikap mereka semua. "Mereka hanya ingin melayani yunda ratu agung dengan baik. Tidak mungkin mereka melakukan hal yang sangat berbahaya untuk tidak gusti ratu agung." Pangeran Arzaguna Basukarna tertawa kecil melihat bagaimana ketakutannya mereka saat ini.
"Gusti pangeran memang terbaik." Dalam hati mereka sangat senang karena mendapatkan pembelaan dari Pangeran Arzaguna Basukarna.
"Ternyata pangeran basukarna memang sangat baik." Dalam hati mereka sangat bersyukur dapat pembelaan dari Pangeran Arzaguna Basukarna. "Kami cinta pangeran dengan sepenuh hati." Lanjut mereka sambil memberikan kode hati yang dipenuhi oleh cinta.
__ADS_1
Sedangkan Ratu Agung Selendang Merah hanya pasrah dengan apa yang mereka lakukan saat ini. Ratu Agung Selendang Merah menghela nafasnya yang terasa sangat lelah.
"Baiklah. Aku terima kebaikan kalian semua." Ratu Agung Selendang tersenyum kecil dibalik cadar merahnya. "Terima kasih aku ucapkan atas kebaikan kalian semua." Lanjut Ratu Agung Selendang Merah.
Namun setelah itu?.
Boooffh!!!.
Ratu Agung Selendang Merah berubah menjadi ke wujud lain, tentunya sebagai wanita cantik. Mereka semua sangat terkejut melihat perubahan itu. Termasuk Pangeran Arzaguna Basukarna yang sama sekali tidak menyangka akan melihat perubahan itu.
"Gusti ratu agung?." Mereka semua hampir tidak berkedip melihat bagaimana paras cantik gusti ratu agung.
"Yunda gusti ratu agung?." Dalam hati Pangeran Arzaguna Basukarna sangat tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "Apa yang yunda ratu agung lakukan?." Secara spontan Pangeran Arzaguna Basukarna bertanya seperti itu.
"Karena tidak mungkin rasanya aku makan membuka tutup cadar ku, jadi beginilah aku makan." Ratu Agung Selendang Merah tersenyum kecil menatap mereka semua. "Tapi tetap saja aku tidak bisa memperlihatkan wajah asliku pada kalian semua. Maaf saja ya?." Setelah berkata seperti itu, Ratu Agung Selendang Merah langsung menyantap makanan itu dengan lahapnya.
"Um, sangat enak. Sangat enak seperti biasanya." Dengan santainya ia menikmati makanan yang telah disajikan oleh pembantu istana. "Terima kasih atas hidangan enak ini, ya?. Kalian memang sangat baik sekali." Ratu Agung Selendang Merah memang sangat menikmati makanan yang terhidang di hadapannya saat ini. Ia mengunyah makana yang terhidang dengan baik tanpa menghina, namun malah memujinya.
Jika saja itu wajah palsu, namun senyuman itu sangat nyata. Hingga tanpa sadar mereka ingin menangis melihat ketulusan Ratu Agung Selendang Merah berkata seperti itu pada mereka semua.
"Yunda gusti ratu agung." Pangeran Arzaguna Basukarna sangat terpesona akan kecantikan kakak iparnya saat ini. "Meskipun wajah tiruan, tapi itu sangat cantik luar biasa." Dalam hatinya berdebar-debar melihat kecantikan Ratu Agung Selendang Merah.
"Hiks, hiks, hiks. Rasanya aku ingin terus memasak makanan yang sangat lezat untuk gusti ratu agung." Dalam hati Santosa merasa sangat senang melihat reaksi baik dari Ratu agung Selendang Merah.
__ADS_1
"Aku tidak akan melupakan semuanya gusti ratu agung yang sangat luar biasa ini." Menikati sangat terpesona dengan senyuman manis Ratu Agung Selendang Merah.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu.
Di kawasan kumuh.
Zamar dan teman-temannya yang lainnya sedang berada di tempat biasa mereka berkumpul. Akan tetapi pada saat itu mereka sama sekali tidak melihat keberadaan Lukita.
"Apa mungkin dia sedang menyusup ke istana?." Warakai sangat cemas dengan sikap nekat Lukita jika telah bertindak.
"Aku harap itu tidak terjadi." Mazumi takut membayangkan sesuatu pada Lukita. "Akan berbahaya jika dia sampai tertangkap oleh pengawal istana. Apalagi sampai tertangkap oleh jendral kuasa." Lanjutnya dengan raut wajah penuh ketakutan.
"Anak itu selalu saja bertindak sendirian." Suriati ingat bagaimana nekatnya Lukita ingin membongkar kejadian racun itu. "Aku sangat takut, jika dia sudah bertindak." Suriati sangat kenal bagaimana sikap Lukita.
"Lantas apa yang akan kita lakukan?. Apakah kita akan ke sana untuk menjemputnya?." Nauri juga semakin takut mendengarkan ucapan teman-temannya.
"Kalian ini bicara apa?." Zamar menatap mereka semua. Dari tadi ia hanya mendengarkan apa yang dikatakan teman-temannya. "Lukita tidak akan ceroboh, sembarangan dalam bertindak." Sorot matanya terlihat sangat meyakinkan sekali. "Mungkin saat ini dia sedang melihat bagaimana keadaan sekitar istana dengan kemampuan menyamarnya itu. Aku yakin dia akan kembali dengan aman. Jadi kita di sini tetap waspada, karena kita tidak boleh membiarkan orang luar membantai keluarga kita seperti kejadian waktu itu." Zamar hanya bisa percaya dengan apa yang dilakukan Lukita. "Percayakan semuanya pada lukita. Aku yakin dia akan membawakan perubahan pada kawasan kumuh. Percayalah!. Jika dia akan memberikan tempat yang aman untuk kita." Lanjutnya dengan senyuman kecil.
Teman-temannya mencoba untuk tersenyum, mencoba mempercayai apa yang telah dikatakan oleh Zamar. Mereka hanya bisa berharap, dan berharap. Memang seperti itulah nasib seseorang yang tinggal di kawasan kumuh. Dimana kau akan mengalami seleksi alam yang sangat mematikan hanya untuk bertahan hidup. Tidak ada belas kasihan bagi para kawasan kumuh yang dijadikan budak oleh para bangsawan yang memiliki harta untuk melakukan apa saja terhadap mereka.
__ADS_1
Next.
...***...