
...***...
Ratu Agung Selendang Merah tentunya memikirkan apa yang terjadi sebenarnya. Sungguh, ia merasa sangat kasihan dengan apa yang telah terjadi saat ini. Sungguh, hatinya tidak bisa menerima begitu saja atas apa yang telah terjadi. Ketika suaminya yang merupakan sebagai seorang raja tidak bisa menggunakan kekuasaannya untuk memperbaiki negeri ini.
"Begitu banyak masalah yang terjadi. Entah itu di kawasan kumuh, ataupun di istana ini." Suasana hatinya saat itu benar-benar sangat sedih membayangkan apa yang telah terjadi. "Terutama di kawasan kumuh. Mereka yang ingin menyingkirkan tempat itu. Mereka yang hidup di bawah tekanan hidup yang sangat luar biasa." Hatinya semakin iba mengingat apa yang telah terjadi di sana.
Seorang wanita muda sedang berdiri di atas sebuah pohon tinggi yang berada di kawasan itu. Matanya menatap semua yang ada di kawasan itu. Semuanya terlihat dari atas pohon itu, apa saja yang dilakukan oleh orang-orang di bawah. Termasuk ketika Jendral Kuasa yang saat ini sedang melakukan tugas pengawasan di daerah sekitar.
"Heh!. Hanya lewat seperti itu saja. Semua orang pun bisa melakukan itu. Bahkan kawasan kumuh seperti ini saja masih memiliki banyak masalah. Kau sama sekali tidak berguna jendral kuasa." Ia mendengus kesal melihat Jendral Kuasa yang selalu dihormati oleh orang-orang kawasan Kumuh. "Jika kau tidak becus dalam melakukan tugas, sebaiknya kau berhenti saja menjadi seorang jendral. Tidak berguna sama sekali dalam menjaga keamanan kawasan ini." Wanita muda itu cukup lama tinggal di kawasan ini. Ia selalu memperhatikan semuanya yang ada di sana. Termasuk siapa saja yang telah bertugas mengamankan kawasan Kumuh. Ia sangat tidak suka dengan cara kerja mereka semua, hanya sekedar berjalan saja sambil lewat sebentar.
"Dia adalah lukita. Seorang pendekar wanita yang aku perintahkan untuk mengawasi bagaimana kondisi di sana. Karena aku sangat khawatir dengan kondisi kawasan kumuh." Ratu Agung Selendang Merah terpaksa melakukan itu. Ia tidak punya pilihan lain selain mempercayai seseorang untuk melakukannya. "Meskipun memiliki seorang jendral yang sangat hebat untuk mengawasi tempat itu, tapi tetap saja tidak bisa melakukan itu. Sungguh, hatiku sangat sesak, dan tidak nyaman atas apa yang telah terjadi di sana. Seakan-akan di sana adalah neraka dunia bagi orang-orang lemah. Orang-orang yang lahir dari orang tua yang tidak memiliki harta apapun untuk bertahan hidup." Hatinya semakin sesak mengingat itu semua. Seroang jendral yang diperintahkan oleh Raja Agung untuk mengawasi daerah itu, menjaga keamanan di sana, akan tetapi sama sekali tidak menjalani tugasnya dengan baik.
Jendral kuasa baru saja meninggalkan kawasan kumuh. Tapi sepertinya orang-orang di sekitar sana memang tidak menyukainya terlihat setelah melihat pergi mereka sama sekali ini tidak peduli apakah dia akan kembali atau tidak karena kawasan ini tetap saja akan menjadi tempat yang sangat sangat menyeramkan musik mereka tinggali.
__ADS_1
Tapi berita tentang raja agung yang saat ini sedang sakit telah tersebar di tiga kawasan. Sehingga mereka semua semakin terlihat waspada, apalagi ketika kabar ratu agung naik tahta telah disampaikan melalui pemberitahuan polisi-polisi setempat. Berita itu tersebar dengan cepatnya. Mereka telah mengetahui bahwa saat ini kerajaan tiga warna dipimpin oleh seorang ratu. Apakah mereka akan menerima begitu saja?. Jika istana kerajaan tiga warna saat ini dipimpin oleh seorang wanita?. Sebenarnya apa yang terjadi di kerajaan ini saat dipimpin oleh seorang wanita?.
"Aku akan melakukannya dengan baik. Akan aku jaga kawasan ini dengan baik." Wanita muda itu tersenyum kecil, ia menatap semuanya dengan matanya yang masih jernih. Ia seperti seekor elang yang mengamati apa saja yang berada di bawahnya.
"Aku hanya bisa mengamati saja, sebelum aku benar-benar bertindak." Perasaan gelisah yang menghantuinya saat itu, benar-benar membuatnya merasakan kegelisahan yang sangat dalam. "Belum lagi masalah mereka yang ingin merebut kekuasaan kerajaan ini dengan pikiran kotor mereka." Ratu Agung Selendang Merah tidak habis pikir dengan ambisi buruk mereka.
"Setelah surat itu dibacakan mereka semua meninggalkan ruangan itu, hanya ada aku yang berada di sana bersama penasihat raja agung dewandaru." Ratu Agung Selendang Merah masih ingat dengan kejadian itu. "Aku hanya menatap ke arah rakanda raja agung yang saat itu sedang terbaring di tempat tidurnya. Mereka merasa simpati dengan apa yang terjadi pada raja agung saat itu." Perasaanya semakin berkecamuk, ketika ia ingat bagaimana keadaan suaminya yang terluka parah karena pengaruh racun. "Mereka yang telah melakukan itu padanya. Mereka yang telah membuat orang yang paling aku cintai menjauh dariku saat ini." Ia hampir saja menangis sedih mengingat itu semua. "Hanya dewandaru saja yang mengerti diriku. hanya dia yang tidak memusuhi aku." Ia mencoba untuk menguatkan hatinya saat itu agar benar-benar berada di tempat yang tepat.
"Apa yang akan gusti ratu agung lakukan setelah ini?. Apakah gusti ratu agung akan melakukan sesuatu akan melakukan sesuatu padaku gusti raja agung?." Penasihat Raja Agung Dewandaru bertanya.
"Kita harus segera menyembuhkan gusti raja agung. Tapi bagaimana caranya gusti ratu agung melakukan itu?." Penasihat Raja Agung Dewandaru kembali bertanya.
"Aku akan mencari cara apapun untuk menyembuhkannya. Pasti ada caranya, tapi untuk saat ini aku akan membawa rakanda gusti ratu agung ke tempat yang lebih aman." Ratu Agung Selendang Merah belum bisa memastikannya.
__ADS_1
"Itu artinya gusti ratu agung mencari perkara dengan mereka. Bagaimana jika mereka memaksa gusti ratu agung untuk mengatakan di mana keberadaan gusti raja agung?." Penasihat Raja Agung terlihat sangat cemas.
"Demi keselamatan rakanda gusti raja agung aku akan melakukannya. Meskipun mereka memasak ku untuk mengatakannya. Akan aku hadapi mereka semua dengan kekuatan ku." Ratu Agung Selendang Merah telah membulatkan tekadnya. "Untuk sementara waktu aku harus menyembunyikan keberadaan rakanda gusti raja agung." Ratu Agung Selendang Merah tidak ingin membahayakan keselamatan suaminya. "Mereka semua harus membayar apa yang telah mereka lakukan pada rakanda gusti raja agung. Akan aku cari semua bukti-bukti yang dapat memberatkan mereka untuk dihukum seberat-beratnya atas apa yang mereka lakukan pada rakanda raja agung." Ratu Agung Selendang Merah tidak terima dengan apa yang terjadi pada suaminya. "Selama ini mereka telah berani bersikap kurang ajar, menekan rakanda gusti raja agung untuk melakukan hal yang tidak seharusnya." Ratu Agung Selendang Merah telah membulatkan tekadnya untuk membalas mereka yang telah membuat suaminya tidak sadarkan diri karena racun yang ada di dalam tubuhnya.
"Hamba akan membantu gusti ratu agung. Hamba tidak akan membiarkan gusti ratu agung bekerja sendirian." Penasihat Raja Agung merasa bersimpati dengan apa yang dikatakan oleh Ratu Agung Selendang Merah. "Hamba juga tidak terima, jika gusti raja agung diperlakukan jahat oleh mereka yang serakah akan kekuasaan." Penasihat Raja Agung Dewandaru selama ini juga memperhatikan mereka semua.
"Terima kasih penasihat raja agung dewandaru. Aku sangat berterima kasih, jika kau mau membantuku." Ratu Agung Selendang Merah sangat senang mendengarnya.
"Dengan senang hati hamba akan membantu gusti ratu agung. Tidak akan hamba biasakan mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Istana ini harus bersih dari orang-orang yang berniat jahat." Penasihat Raja Agung Dewandaru sangat membenci mereka yang serakah. Ia sudah muak dengan apa yang ia lihat selama ini. Mungkin ia hanya bisa diam karena Raja Agung yang baru memerintah, sehingga mereka berlagak kuat.
Ratu Agung Selendang Merah tentunya masih ingat dengar percakapan mereka saat itu. Masih ingat apa saja yang telah mereka bicarakan saat itu demi melindungi Raja Agung dari orang-orang yang akan menyingkirkannya. "Aku tidak akan mengampuni orang-orang yang telah berani membuat suamiku menderita. Mereka akan merasakannya." Dalam hatinya telah bertekad akan membalaskan apa yang telah dialami oleh suaminya. "Pangeran arzaguna barata. Kau adalah orang yang harus bertanggung, meskipun itu adalah dorongan dari ibundamu yang haus akan kekuasaan. Tapi aku juga akan menghukumnya suatu hari nanti." Ratu Agung Selendang Merah telah mengetahui siapa saja yang telah membuat Raja Agung terluka seperti itu.
Lalu bagaimana dengan ingatannya yang lainnya sebelum ia benar-benar bertindak?. Simak terus ceritanya ya. Next.
__ADS_1
...***...