
...***...
Sementara itu, Selir Kamala Hastanti saat ini sedang menuju Istana Barat. Kediaman utama Ratu Agung serta Raja Agung. Sepertinya ia memiliki tujuan yang sangat penting, sehingga ia ingin bertemu dengan Ratu Agung Selendang Merah.
"Aku ingin bertemu dengan nanda ratu agung!. Di mana dia?!." Dengan nada tinggi ia berkata pada prajurit yang berjaga di halaman istana Barat.
"Mohon maaf yaitu selir raja agung. Akan tetapi gusti ratu agung saat ini sedang berada di luar istana. Saat ini gusti ratu agung berada di istana timur untuk menyelesaikan masalah." Prajurit tersebut menjelaskan padanya.
"Apakah sepenting itu masalah yang dihadapi?!. Sehingga aku ibunda dari nanda raja agung?!. Tidak bisa bertemu dengan menantuku sendiri?!." Selir Kamala Hastanti semakin marah.
"Mohon ampun sekali lagi gusti selir, kami tidak berani melawan perintah gusti ratu agung. Karena gusti ratu agung yang berpesan, jika beliau tidak ada di istana ini, tidak diperbolehkan satupun yang memasuki istana ini tanpa izin dari beliau." Prajurit satunya lagi menjelaskan awalannya.
"Lancang!." Ia membentak sambil mendorong prajurit itu dengan kesalnya. Ia sama sekali tidak suka dengan apa yang mereka katakan. Hingga ia menganiaya kedua prajurit yang mencoba untuk memberikan penjelasan padanya.
Sedangkan prajurit lainnya yang melihat itu merasa geram, tidak senang dengan apa yang dilakukan Selir Kamala Hastanti. "Kurang ajar!. Sudah aku katakan jangan menghalangi aku untuk masuk ke istana ini!." Dengan sikap kasar itu memperlakukan kedua prajurit tersebut. "Prajurit hina seperti kalian!. Berani sekali menghalangi ku untuk masuk!."
Kedua prajurit tersebut hanya bisa menahan sepakan, serta tendangan keras dari Selir Kamala Hastanti. Mereka tidak melawan sama sekali, karena mereka tidak memiliki kekuasaan untuk melawan orang-orang agung.
"Cepat lawan dia!. Aku tidak tahan lagi!." Sedangkan mereka lainnya yang melihat itu sudah tidak tahan lagi. Para dayang serta prajurit yang di sana sangat tidak tahan lagi.
"Kenapa orang-orang agung seperti mereka sangat tidak manusiawi sekali."
"Kenapa mereka suka sekali menganiaya kami seperti ini?. Apa kesalahan kami?. Kami hanya menjalankan tugas saja. Tapi kenapa kami yang tersiksa seperti ini?."
Hati mereka sangat sedih, sangat sedih mengingat apa saja yang telah mereka dapatkan setelah mengabdi sepenuh hati. Apakah memang seperti itu cara dan sikap orang-orang agung dalam memperlakukan orang yang telah bersedia mengabdi padanya?. Simak terus ceritanya.
...***...
Di kediaman keluarga Menanti.
Saat itu Teru Menanti sedang melihat kepergian ketiga anak buahnya yang akan melakukan tugas mereka malam ini.
"Pergilah!. Segera bunuh mereka malam ini juga." Dengan perasaan yang bahagia ia berkata seperti itu. "Dan kembali lah dengan kabar yang membuat aku merasa lebih baik." Senyuman itu sangat lebar, namun terlihat sangat menyeramkan.
"Baik tuan." Mereka bertiga memberi hormat.
__ADS_1
"Jika ada waktu, bawahan kepala bedebah jendral kuasa padaku. Supaya dia tidak menjadi gangguan bagi kami nantinya." Ia memikirkan rencana jahat.
"Siap tuan!. Akan saya lakukan dengan senang hati!." Cibatu malah bersemangat mendengar nama Jendral Kuasa menjadi target mereka.
Deg!!!.
"Kenapa malah bersemangat seperti itu?!. Kau benar-benar gila!." Dalam hati Rembung sangat terkejut saat melihat reaksi dari Cibatu. "Ingin rasanya aku membunuhnya sekarang juga!." Ya, itulah yang ia rasakan saat ini.
"Ahaha!. Sudahlah, sebaiknya aku tidak perlu ikut campur dengan pertengkaran mereka." Salah hati Lukita merasa heran dengan kekuatan mereka berdua.
"Bagus, itulah yang sangat aku harapkan. Bubar!." Teru Menanti senang melihat betapa semangatnya salah satu anak buahnya ini.
"Kami pergi dulu tuan." Lukita mewakili keduanya.
Setalah itu mereka berangkat menuju kawasan kumuh. Mereka berangkat sebelum senja menyapa, sehingga mereka sampai di kawasan kumuh di malam hari. Apakah yang akan mereka lakukan setelah ini?. Temukan jawabannya.
...***...
Kembali ke istana Barat.
Selir Kamala Hastanti masih saja menyiksa kedua prajurit yang sama sekali tidak mau membuka pintu istana itu. Ia sangat marah, hingga menyiksa kedua prajurit tersebut hingga terluka. Sedangkan prajurit dan dayang lainnya tidak sanggup lagi melihat itu. Mereka ingin melawan, akan tetapi pada saat itu mereka terkejut dengan apa yang tejadi.
"Egkhakh!."
Mereka semua terkejut mendengarkan suara jeritan kesakitan dari Selir Kamala Hastanti sambil menyentuh kakinya. Dan yang lebih membuat mereka terkejut adalah, ketika mereka melihat kedatangan Ratu Agung Selendang Merah.
"Hormat kami gusti ratu agung." Mereka semua bersujud di hadapan Ratu Agung Selendang Merah dengan nada sedih.
"Apa yang terjadi selama saya tidak ada di istana barat?. Kenapa ada penampakan yang tidak menyenangkan seperti ini terjadi di depan mata saya?." Hawa merah kembali menyelimuti tubuhnya, membuat mereka semua takut melihat ke arahnya.
"Ananda ratu agung!. Ada seseorang yang telah menyerangku!. Aku ingin menuntut balas apa yang telah dia lakukan pada kakiku!." Selir Kamala Hastanti tampak merintih kesakitan. Kakinya terasa keram setelah menerima serangan yang sama sekali tidak ia ketahui dari mana asalnya.
"Mohon ampun gusti ratu agung. Kami semu tidak berani melakukan itu. Ampuni kami gusti ratu agung."
Mereka semua berwujud di hadapan Ratu Agung Selendang Merah. Memelas memohon pengampunan.
__ADS_1
"Kami hanya menjalankan tugas dari ratu agung, jika tidak ada yang boleh masuk ke dalam istana barat, jika gusti ratu agung tidak ada di dalam istana ini."
"Benar gusti ratu agung. Kami hanya menjalankan perintah saja."
Mereka hanya berharap belas kasihan, hanya menuntut sikap yang adil. Mereka hanyalah suruhan saja. Ratu Agung Selendang Merah dapat merasakan itu. "Mereka ini. Sangat kasihan sekali." Dalam hati Ratu Agung Selendang Merah sangat bersimpati akan kejujuran yang mereka miliki.
"Nanda ratu agung!. Mereka yang telah bersalah karena mereka tidak melihat siapa yang ingin masuk ke dalam istana ini!." Selir Kamala Hastanti masih saja ingin membela dirinya.
"Ibunda selir kamala hastanti." Ratu Agung Selendang Merah menatap ke arah Selir Kamala Hastanti. "Sebaiknya ibunda diam saja. Jika tidak?. Ibunda akan mendapatkan lemparan batu ini lagi dari saya!." Ia memainkan beberapa kerikil yang ia simpan.
Mereka semua terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ratu Agung Selendang Merah. Mereka tidak menduganya sekali.
"Kau!. Ternyata kau yang telah melakukan itu padaku?!. Lancang sekali kau memperlakukan aku seperti itu?!." Sepertinya Selir Kamala Hastanti sangat marah setelah mendengarkan penjelasan dari Ratu Agung Selendang Merah.
"Berani sekali ibunda selir memperlakukan dua orang prajurit yang telah saya perintahkan untuk menjaga istana ini?!. Apakah ibunda selir tidak menghormati saya sebagai ratu agung di istana ini?!. Apakah ibunda selir telah merasa lebih tinggi derajatnya?!. Sehingga memperlakukan mereka dengan sesuka hati?." Ratu Agung Selendang Merah tampak sangat marah. Mereka semua tidak menyangka akan melihat kemarahan Ratu Agung Selendang Merah membela kedua prajurit yang telah dianiaya oleh Selir Kamala Hastanti.
"Apa maksudnya ini nanda ratu agung?. Kenapa kau malah membela mereka?." Selir Kamala Hastanti sangat tidak terima dengan apa yang tejadi. "Kenapa kau malah membela orang rendahan!. Budak busuk seperti mereka ini!." Ucapan itu sangat tidak pantas sama sekali untuk didengar.
Ctakh!!!.
Satu buah kerikil yang cukup tajam kali ini mengenai bahu kiri Selir Kamala Hastanti. Sehingga menjerit kesakitan, sedangkan mereka yang melihat itu sangat tidak percaya.
"Ibunda selir telah berani menganiaya dua orang prajurit setia, yang melakukan semuanya sesuai dengan perintah. Tapi ibundanya malah menyiksanya sampai seperti ini?." Hatinya sedang bergejolak. "Sebaiknya ibunda selir segera pergi dari sini!. Sebelum saya lebih marah lagi pada ibunda selir." Sorot mata itu sangat tajam, sehingga Selir Kamala Hastanti terlihat ketakutan.
"Kau!." Selir Kamala Hastanti semakin marah. "Berani sekali kau mengusir aku?!. Akan aku ingat apa yang telah kalian lakukan padaku!." Selir Kamala Hastanti tidak terima itu. Hantinya sangat dipenuhi oleh kemarahan yang tidak biasa.
"Kalian, kenapa hanya diam saja ketika teman kalian diperlakukan seperti itu?. Kenapa tidak segera memberi tahu padaku?. Apa yang akan terjadi pada teman kalian jika terluak seperti ini?!." Ratu Agung Selendang Merah langsung mengingat salah satu dari prajurit yang terluka karena perbuatan Selir Kamala Hastanti tadi.
"Mohon ampun gusti ratu agung. Kami tidak berani melakukan itu. Kami hanyalah bawahan saja. Harus menerima semua takdir kami di sini." Mereka semua menangis sedih atas perlakuan orang-orang agung pada mereka.
"Ampuni kami gusti ratu agung, kami tidak berani melawan perintah gusti ratu agung. Kami hanya menjalankan apa yang gusti ratu agung katakan." Mereka semua memohon pengampunan sambil menangis penuh kesedihan.
"Tenanglah. Saya akan selalu bersama kalian. Selagi apa yang kalian lakukan itu adalah hal yang baik." Ratu Agung berkata dengan sangat jelas sekali. "Katakan saja keluhan yang kalian rasakan." Mereka benar-benar terpesona dengan yang dikatakan Ratu Agung. Mereka semua tidak menyangka akan mendapatkan perhatian dari Ratu Agung Selendang Merah seperti itu?.
"Kau!. Kau pikir masalah ini sudah selesai?!." Bentak selir Kamala Hastanti dengan amarah yang sangat luar biasa.
__ADS_1
Mereka semua melihat ke arahnya, karena pada saat itu ia memperlihatkan bagaimana kemarahan yang ia rasakan pada saat itu. "Kau akan menerima ganjaran dariku nantinya!." Amarahnya sangat meledak-ledak karena ia tidak terima dengan perlakuan Ratu Agung Selendang Merah.
...***...