RATU AGUNG SELENDANG MERAH

RATU AGUNG SELENDANG MERAH
CHAPTER 4


__ADS_3

...***...


...Di Istana Barat tempat diadakan pertemuan....


Ratu Agung Selendang Merah berkumpul bersama beberapa orang bangsawan serta perdana Mentri untuk membahas beberapa masalah yang belum bisa diselesaikan oleh Raja Agung. Ratu Agung Selendang Merah ingin mengetahui beberapa hal dari sidang pertama yang mereka lakukan.


"Kita berkumpul hari ini bukan membahas masalah pantas atau tidak menggantikan raja agung. Tapi ada beberapa dokumen yang harus kita selesaikan." Ratu Agung Selendang Merah memperhatikan mereka semua. "Saya mengambil beberapa dokumen yang telah ditulis oleh gusti raja agung untuk kita bahas hari ini." Matanya mengamati mereka satu persatu. Ada beberapa orang yang tidak hadir, entah itu dari menteri itu sendiri, atau dari bangsawan.


"Katakan pada kami apa saja dokumen itu gusti ratu agung. Semoga kita dapat membahasnya dengan baik."


"Benar gusti ratu agung. Dari pada bertanya kenapa raja agung memilih anda. Lebih baik kita segera membahas dokumen yang ditinggalkan raja agung."


"Terima kasih atas kehadiran tuan-tuan sebelumnya." Ratu Agung Selendang Merah tersenyum kecil di balik cadar merah itu. "Saya pernah membahas ini sebelumnya bersama raja agung mengenai ada pihak orang dalam yang mencoba mematik api untuk membuat rakyat kawasan kumuh berontak." Ratu Agung Selendang Merah mulai membahasnya.


"Pihak orang dalam yang mencoba mematik api untuk membuat kawasan kumuh berontak?." Mereka semua tidak menduga, bahwa Ratu Agung akan membahas masalah itu.


"Benar sekali." Ratu Agung Selendang Merah dapat merasakan hawa yang berbeda dari mereka. "Sebelum raja agung tidak sadarkan diri, kami membahas masalah ini. Saat itu ada yang mengintip serta mendengarkan apa yang kami bicarakan. Kemungkinan besar, setelah ini target berikutnya adalah saya."


Suasana rapat itu semakin riuh, karena mereka tidak menyangka bahwa ternyata Raja Agung benar-benar diincar oleh beberapa kelompok yang menginginkan hancurnya negeri ini.

__ADS_1


"Lalu apa yang akan kita lakukan gusti ratu agung?. Tentunya kita tidak bisa berdiam diri saja. Keselamatan gusti ratu agung serta gusti raja agung harus segera dilakukan. Negeri ini masih membutuhkan kebaikan gusti berdua."


"Benar itu gusti ratu agung. Kita tidak bisa membiarkan mereka menghancurkan negeri ini. Kita harus mengembalikan keadilan yang telah diucapkan oleh gusti raja agung ketika pengangkatan raja agung."


"Untuk saat ini raja agung telah berada di tempat yang aman. Hanya aku dan penasehat raja saja yang mengetahui keberadaan raja agung." Ratu Agung Selendang Merah tidak ingin mereka terlalu mencemaskan keadaan Raja Agung saat ini.


"Lalu bagaimana dengan gusti raja agung sendiri?. Jika gusti ratu agung terluka, siapa lagi yang bisa dipercayai raja agung?."


"Itu sangat benar gusti ratu agung. Untuk saat ini gusti ratu agung jangan pergi kemana-mana. Jika butuh bantuan kami untuk menyelesaikan suatu masalah. Kami akan bergerak dengan cepat, termasuk menangkap siapa orang dalam yang telah memicu api pemberontakan itu."


"Demi keselamatan gusti ratu agung, kami semua akan memperketat penjagaan istana ini."


Mereka semua benar-benar mencemaskan keselamatan Ratu Agung Selendang Merah, jika memang itu yang akan terjadi. Tapi pada saat itu Ratu Agung Selendang Merah berkata lain pada mereka semua.


"Jadi gusti ratu agung telah mengetahui siapa orang dalam yang telah berusaha untuk memicu pemberontakan itu?."


"Apakah itu benar gusti ratu agung?. Apakah benar gusti ratu agung telah mengetahuinya?."


"Saya akan mengatakannya melalui surat. Saya akan sampaikan siapa nama-nama orang dalam itu. Temui saya di kediaman istana ratu agung bagian timur, jika tuan-tuan telah menerima surat itu nantinya." Matanya memperhatikan bagaimana reaksi mereka semua. "Sampaikan juga pada bangsawan yang lainnya yang tidak hadir pada rapat kali ini."

__ADS_1


"Baiklah gusti ratu agung. Ucapan gusti ratu akan kami laksanakan." Mereka semua memberi hormat pada Ratu Agung Selendang Merah, namun siapa yang mengetahui isi hati mereka.


"Jika masih ada masalah yang akan dibahas, sampaikan saja pada kami gusti ratu agung." Mereka terlihat berbasa-basi sekali terhadap Ratu Agung Selendang Merah.


"Untuk saat ini saya mau bertanya masalah dana yang katanya masuk ke pembukuan istana. Dalam laporan tersebut, bahwa uang tersebut digunakan untuk membantu kawasan kumuh yang mengalami kelaparan. Akan tetapi, kenapa dua hari yang lalu masuk laporan ada keluhan dari mereka?. Katakan pada saya kemana dana itu pergi?." Ratu Agung Selendang Merah langsung membahas masalah yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.


"Masalah itu tentunya bisa gusti ratu agung tanyakan pada menteri keuangan istana. Kami tidak berani menyingung masalah keuangan negara yang keluar, dan digunakan untuk apa saja." Jawabnya tanpa adanya perasaan beban?.


"Benar gusti ratu agung. Mungkin gusti ratu agung bisa menanyakan masalah itu pada menteri keuangan." Itulah jawaban mereka pada saat itu. Melemparkan jawaban itu pada menteri keuangan yang seharusnya bertanggung jawab, kenapa uang negara bisa hilang tanpa ada yang mengetahui kemana uang itu pergi?. Bukankah itu adalah hal yang sangat lucu bagi sebuah negara jika ia tidak mengetahui kemana uang yang ia keluarkan?.


"Baiklah, kalau begitu hanya itu saja masalah yang mungkin akan dibahas dalam rapat kali ini. Saya akan mengirimkan surat setelah saya mencari tahu kebenaran tentang kemana dana yang seharusnya digunakan untuk membantu kawasan kumuh." Ratu Agung Selendang Merah tidak mau menimbulkan kecurigaan pada mereka. Apalagi mereka yang tidak hadir pada rapat pertama ini.


"Hormat pada ratu agung." Mereka semua memberi hormat pada Ratu Agung Selendang Merah. Setelah itu mereka pergi meninggalkan ruangan rapat itu. Kini yang tinggal hanya Ratu Agung Selendang Merah dan Penasehat Raja Agung Dewandaru.


"Apakah gusti ratu agung yakin rencana penangkapan orang dalam yang mencoba memicu pemberontakan itu akan berhasil?." Penasehat Raja Agung Dewandaru tersenyum kecil, ia mengingat bagaimana rencana yang dibuat oleh Ratu Agung Selendang Merah saat itu. "Itu sama saja gusti ratu agung telah membahayakan diri sendiri. Apakah gusti ratu agung tidak takut sewaktu-waktu mereka malah gusti ratu agung?." Penasihat Raja Agung Dewandaru sangat cemas.


"Saya percaya rencana ini akan berhasil. Meskipun ini adalah permulaan dari semuanya. Tapi ini telah menentukan bagaimana nasib kita setelah ini. Mau dikemanakan negeri ini berpijak." Ia menatap lurus ke depan. "Karena masih ada beberapa orang yang masih bisa bersembunyi. Saya yakin bukannya hanya satu dua orang saja. Bahkan keluarga terdekat istana pun ikut andil dalam masalah itu." Ia mengamati semua yang terjadi di istana ini. "Saya tidak mau rakanda gusti raja agung terbebani dengan masalah yang terjadi di negeri ini hanya karena segelintir orang yang menginginkan kekuasaan di atas penderitaan rakyat, serta mengadu domba dengan pemimpinnya." Ratu Agung Selendang berusaha menahan gejolak yang ada di dalam dirinya saat itu. "Saya akan melakukannya dengan baik. Supaya mereka tidak sewenang-wenang lagi." Itulah janjinya.


"Kalau begitu hamba akan membantu gusti ratu agung dengan sepenuhnya. Percayalah pada hamba gusti ratu agung." Penasehat Raja Agung Dewandaru telah berjanji akan mengabdi dengan sepenuh hati.

__ADS_1


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2