
Perbincangan kamipun berlanjut sampai malam hari dan tanpa kami sadari kalu kami mulai sangat akrab apalagi baik aku dan Aslan entah kenapa topik yang kita bicarakan tu nyambung. Hingga tiba – tiba seekor kucing nemplok di pangkuan ku.
“Miong . . . Master leper~nya~.” Kata Mio tak bertenaga.
“OK ok . Miosama makanan anda telah siap.” Kata Renata sambil mengeluarkan daging panggang yang ia sisihkan untuk Mio di atas meja.
Mio yang sudah mencium bau – bau sedap pun langsung semangat dan tanpa lama – lama ia langsung sikat tanpa tau kalau ada sosok baru yang makan bersama dia dan masternya. Sedangkan Aslan yang melihat pendamping Renata pun kaget karena hanya berbentuk kucing kecil yang tidak ada gunanya menurut nya.
Tapi ketika mendengar kucing itu berbicara ia langsung terkejut untuk kedua kalinya dan bertanya Tanya bagaimana bisa Bes bisa bicara karena ia belum pernah menjumpai yang seperti ini, ia tau kalau setiap best pendamping biasanya bisa berkomonikasi dengan pemiliknya tapi dengan cara telepati bukan secara langsung seperti ini.
Setelah beberapa saat berkutat dengan makanannya ahirnya Mio selesai dan melompat lagi ke pangkuan Renata tanpa memperdulikan kehadiran dari Aslan yang posisinya memang membelakanginya. Renata yang melihat tingkah Miopun berinisiatif untuk mengenalkan ia pada Aslan.
“Mio tebak aku punya kejutan untuk mu.” Kata Renata untuk memancing minat dari Mio yang sedang mager.
“Apa ? daging tambahan kah!” Kata Mio antusias.
“Bukan.” Jawab Renata.
“Hah~ penonton kecewa. Tidur lagi ajalah.” Kata Mio kecewa dan ia kembali ke posisi semula.
“Jangan dulu dong coba lihat apa yang ada di depan mu.” Kata Renata menunjuk kearah Aslan.
“Halo~.” Sapa Aslan sambil melambaikan tangan canggung tidak tau harus bereaksi apa untuk meyapa kucing karena baru pertama kali.
Mio awalnya kaget sekaligus senang karena dengan bertemu orang ia akan bertemu dengan peradapan tapi ketika melihat tingkah konyol dari Aslan ia merasa kecewa karena ia beranggapan kalau ia tersesat. Walau ia berpakaian bagus, miliki tampang tampan dan kelihatan pinter tapi ia palah semakin ragu karena ia berkaca dari Renata yang juga memiliki penampilan yang menarik tapi tidak bisa baca peta dan kadang – kadang sering berbuat konyol sehingga ia berpendapat kalau orang tersebut juga senasip dengan kita yaitu orang nyasar.
“Yasar ya mas?” Kata Mio dengn polosnya.
“hah nyasar. Aku.” Kata Aslan menunjuk dirinya sendiri.
“Heem.” Kata Mio membenarkan.
“Emang Mukaku terlihat seperti orang yang tidak meyakinkan ya?” Kata Aslan pada Renata mengonfirmasi.
__ADS_1
Renata yang di Tanya pun hanya menggeleng karena secara penampilan ia sudah sangat meyakin kan. Jujur Renata juga bingung karena Mio meragukan Aslan sehingga ia ahirnya menoleh ke Mio untuk megonfirnasi ulang.
“Aku salah ya. Maaf maaf karena aku sedikit trauma karena terahirkali aku melakukan kesalahan fatal ketika meminta seorang yang sangat cantic dan meyakinkan tapi ujung – ujung nya nyasar sampai 1 tahun jadi mohon maklumi ya ha ha ha.” Kata Mio sambil mengungkapkan pendapatnya.
Sebelum Aslan berbicara Renata langsung meyela.
“Oh~ jatah makan Mio mau di potong setengahya. Ok.” Kata Renata merasa tersindir.
Kemudian Aslan yang ingin mengungkapkan pendapatnya jadi mengurungkan niatnya karena Mio dan Renata yang asik di dunianya sendiri. Sampai beberapa saat ahirnya perdebatan mereka pun berahir.
“Oh ya kamu siapa nama nya?” Kata Mio pada Aslan.
“Aslan kalu anda.” Jawab Aslan.
“Ehem kenalkan namaku adalah Mio sang penguasa malam best hebat yang menjadi . .. .. ….” Kata Mio panjang lebar tapi sebelum ia meyelesaikan ocehan nya ia sudah di comot oleh Renata karena sebagai Master ia jadi malu sendiri.
“Oh selamat istirahat. Kalu tenda saya punya.” Jawab Aslan.
“Hoommh selamat malam Aslan semoga mimpi indah.” Kata Renata sambil menguap karena ia sudah mengantuk.
“Malam juga dan semoga kamu juga mimpi indah.” Kata Aslan menanggapi.
Setelah Renata masuk ke tenda yang ia buat Aslanpun juga mulai megeluarkan alat – alat membuat tendanya dan mulai membuat. Tidak perlu banyak waktu bagunya untuk membuat nya dan ia pun selesai dengan cepat karena ia sudah terbiasa.
Setelah ia selesai iapun mulai membayangkan kejadian sore hari tadi tanpa ia sadari ia senyum – senyum sendiri dan ahirnya ia sampai tertawa ketika mengingat kejadian tadi yang sangat berkesan dan sangat ia sukuri dan tidak pernah ia lupakan untuk selamanya.
Pagipun tiba dan Aslanpun bangun tapi ketika bangun ia langsung kaget ketika mendapati celana yang ia pakai basah ia panic karena ia pikir ia ngompol tapi ketika ia cium ia tidak mencium bau pesing, palah ia merasakan kalau teksturnya agak berlendir dan ketika ia ingat – ingat mimpi ia semalam mukanya langsung memerah.
Renata pun juga sudah bangun palah lebih pagi dari Aslan karena kebiasaan, ia tidak mandi seperti biasanya tapi sebagai gantinya ia membilas badanya dengan handuk basah supaya segar karena ia sangat mencintai kebersihan kemudian di lanjutkan dengan membuat sarapan yang menurutnya sederhana untuk sarapan yaitu bubur beras yang ia kombinasi dengan aneka sayuran dan daging dendeng yang telah ia cacah kecil – kecil serta peyedap rasa yang ia buat dari jamur sehingga masakan nya di jamin pasti enak.
__ADS_1
Setelah hari sudah cerah Aslan pun keluar dari tendanya dan ia melihat asap yang mengepul dari depan tenda Renata kemudian ia mendengar suara gadis yang sangat lembut memanggil nya. ia hanya bengong untuk sesaat karena ia pikir kalau kejadian kemarin adalah mimpi ternyata asli sehingga membuat ia tersenyum kala mendapati suasana hangat ini.
“Heee Aslan sini gabung sarpan bareng kita.” Kata Renata pada Aslan yang keluar dari tenda sanbil melambaikan tangan nya supaya Aslan melihat.
Aslan pun Membalas lambaianya sambil tersenyun pada Renata. Renata yang melihat seyum maut dari Aslanpun tanpa ia sadari ia tersipu karena malu. Hingga beberapa saat Aslan sampai ke tempat Renata yang terlihat sedang menikmati bubur yang ia buat dan di sampingnya di temani kucing nya yang bernama Mio yang terlihat sedang asik dengan bubur jatahnya juga.
“Silahkan.” Kata Renata sambil meyerahkan bubur yang ia masukan ke dalan mangkuk ukuran sedang pada Aslan.
“Terima kasih.” Kata Aslan pada Renata.
“Oh sampai lupa. Aslan selamat pagi dan bagaimana semalam mimpi indah.” Kata Renata dengan senyumnya yang memikat.
“Uhuk . . . . Maaf maaf ta tadi bialng apa.” Kata Aslan kaget sampai ia tersedak ketika mendengar pertanyaan basa – basi dari Renata.
“Eeeh apa kamu baik – baik saja, ini silahkan airnya awas ati – ati panas.” Kata Renata kawatir sedangkan Mio yang melihat mereka berinteraksi hanya diam – diam menjadi penonton aja di pinggir.
“Terima kasih sekali lagi.” Kemudian Aslan menerima air dari Renata tadi tidak lupa ia meniup nya terlebih dahulu sebelum memunumnya karena memang masih panas.
“Bagaimana sudah lebih baik?”Tanya Renata Lagi.
“Baik dan Ehem tadi selamat pagi juga dan mimpiku tidak buruk.” Kata Aslan dengan noda merah di pipinya karena malu.
“Begitu kah baguslah. Ayo ayo cepat habiskan makanan nya kemudian kita selesaikan misimu dan cepat ke kota terdekat sudah lama tidak melihat peradapan.” Kata Renata antusias.
“Oke oke Hime sama yang cerewet.” Kata Aslan tiba – tiba menjuluki Renata.
“Apasih Hime sama HIme sama Gombal deh.” Kata Renata merona karena malu di goda Aslan.
“EEH cocok kok buat kamu serius.” Kata Aslan lagi.
“Sudah . . . diam dan makan dan selesaikan aku mau membereskan tenda saja. Ah~ Aslan genit.” Kata Renata kabur mencari alasan sedangkan Aslan hanya tersenyum melihat reaksi Renata.
“(cih jijik pagi pagi sudah lihat roman picisan gak penting kaya gini)” Maki Mio dalam hati melihat interaksi dari dua insan ini.
__ADS_1