Reinkarnasi Profesor Jordan

Reinkarnasi Profesor Jordan
Ch.69- Kota dan Tersesat


__ADS_3

Setelah keluar dari hutan yang di lihat Renata adalah padang rumput yang luas dan di sana juga ada bukit – bukit juga ada jalan tanah yang biasa di lalui kereta dan di kejauhan juga terlihat tenda – tenda yang sepertinya milik pedagang yang ingin membeli material dari petualang juga ada penjual makanan dan sebagainya mirip seperti pasar.


 


“Ne Aslan apa itu.” Kata Renata sambil menunjuk ke kumpulan tenda.


 


“Oh itu Karapan pedagang atau kumpulan pedangang keliling biasanya mereka berpindah dari lokasi satu ke lokasi yang lain, dan sepertinya mereka sedang istirahat di sini sambil menjual dan membeli beberapa material. Oh ya nanti kita barengan saja sama mereka jadi gak usah capek – capek jalan.” Kata Aslan meyaran kan.


 


“Ok.” Jawab Renata.


 


Renata dan Aslan pun kemudian berjalan ke arah karapan dan di sana mereka beberapa kali menjual dan membeli barang terutama Renata yang memebeli keperluan sehari – hari seperti baju yang sekarang sudah kekecilan semua hingga bumbu atau rempah yang memng setok nya menipis.


 


Di sana Renata juga membeli banyak kertas jimat sekalian dengan tintanya ia juga menawar beberapa batu giok tapi karena harganya yang sangat mahal ia mengurungkan niatnya. Omong – omong Renata bisa mendapat uang itu dari hasil menjual Potion yang ia buat di hutan kemarin dan di beli dengan harga yang sangat mahal apalagi sampai di borong semua sehingga sekarang Renata sudah tidak lagi kekurangan uang.


 


Setelah di rasa cukup Renata dan rombongan memutuskan untuk meyewa atau ikut menumpang di kereta karapan yang memeang akan kembali ke kota tempat tujuan kami. Setelah 5 jam perjalanan kamipun sampai di pintu gerbang.  Setelah mengantri selama beberapa menit ahirnya giliran kami tiba.


 


“Maaf tolong tunjukan tanda pengenal anda.” Kata salah satu penjaga gerbang pada kami.


 


Setela itu Aslan pun menunjukan kartu petualang nya yang memang bisa di gunakan untuk masuk ke kota mana saja.


 


“Kalau nona rubah mana tanda pengenal anda.” Kata si penjaga pada Renata yang memang giliran nya.


 


Tapi karena Renata tidak punya ia sangat bingung harus menjawab apa, Aslan yang melihat itupun mewakili Renata untuk menjawab.


 


“Maaf penjaga tapi temanku ini baru saja dari desa jadi ia belum sempat membuat kartu pengenal jadi mohon pengertian nya.” Kata aslan sambil memberikan dia koin perak untuk meyuap supaya di perbolehkan masuk.


 


“Ok ok tapi ingat hanya sekali ini saja ya. Sudah sana daftar di guid terdekat.” Kata si pemjaga yang terlihat senang.


 

__ADS_1


“Terima kasih atas pengertian nya.” Kata Aslan.


 


“Hm.” Jawab penjaga seadanya.


 


Kemudian Aslan dan Renata masuk kedalam kota yang sangat ramai dan di penuhi bangunan tinggi terbuat dari batu. Renata yang melihat ini sangat senang sehingga ia tidak melihat jalan sangking antusias nya tanpa ia sadari ia sudah terpisah dari Aslan.


 


“Heeh dimana ini ???” Kata Renata sadar kalau ia sudah tersesat.


 


“Mio mio gawat kita tersesat. Kita kepisah dari Aslan bagaimana ini.” Kata Renata panic dengan membangunkan Mio yang ada di gendongan nya.


 


“Master stop stop . . . aku pusing.” Kata Mio karena di bangunkan dengan lumayan kasar.


 


“Mio Gimana dong.” Tanya Renata.


 


 


“Begitu kah sukurlah. Ku pikir kita tidak akan bertemu Aslan lagi.” Kata Renata lega.


 


Setelah nya Renata dan Mio meyusuri jalan lagi dengan keramaian tentunya karena jalan yang mereka lewati adalah jalan utama di kota ini tentu saja dengan Mio yang memimpun dengan Renata yang selalu mengekor di belakang nya.


 


Tanpa Renata sadari dari tadi ia selalu menjadi pusat perhatian bagi siapapun yang lewat entah dari perilakunya ataupun penampilan nya keduanya sangat menarik bagi orang – orang di sana sehingga tanpa orang sadari mereka memberikan jalan pada Renata untuk lewat setiap kali di keramaian.


 


Walaupun selain itu ia juga mengundang bajingan untuk mendekatinya contohnya adalah salah satu petualang yang sekarang sedang menghalangi jalan Renata.


 


“Permisi bolehkan saya lewat.” Kata Renata sopan karena iamasih baru di sini.


“Boleh tapi nona harus ikut dengan ku gimana.” Kata Peria tersebut.


Renata yang tidak senang langsung melihat orang yang ia ajak bicara, karena orang tersebut berbadan besar sehingga tinggi Renata Cuma setinggi dada yang mengakibatkan ia tidak melihat wajah dari si orang yang menghalanginya.

__ADS_1


“Eh bukan kah itu Gorgon si petualang bajingan itu.” Kata penduduk A.


“Iya tampaknya ia mencari mangsa lagi.” Jawab Penduduk B.


“Malang sekali Nona itu padahal ia sangat cantic.” Kata Penduduk C.


Renata yang menjadi omongan pun ahirnya sadar kalau ia sedang di imcar bajingan ini setelah itu ia memutuskan untuk melawan nya karena ia pikir si Gorgon ini tidak sekuat kelihatan nya dan kalau di lihat dari mana bahkan si Aslan jauh lebih kuat.


“Maaf tuan kalau anda masih bersikeras untuk menghalangi jalan ku jangan salah kalau aku berbuat kasar ya.” Kata Renata mengingatkan.


“Eh ber-bu – at kasar kamu, dengan bentuk tubuhmu yang kecil ini ha ha ha ha yang benar saja.” Kata Gorgon tertawa terbahak – bahak sambil menunjuk – nunjuk Renata.


Renata yang tidak terimapun langsung memperkuat tubuhnya dengan mana tanpa ia sadari dan memegang tangan yang menunjuk nya setelah itu ia langsung membuat gerakan bantingan sangat cepart sehingga si Gorgon tidak menyadarinya. Sadar sadar ia sudah berbaring di tanah dengan badan yang remuk semua.


Akibat dari tinndakan Renata tersebut membuat semua orang yang ada di sana sangat tercengang dan membuat semua orang menjadi rebut dan terjadilah kerumunan dengan Renata dan Si gorgon sebagai pusat nya tentu saja dengan Gorgon yang terbaring di jalan.


Sementara itu Aslan yang sedanga kebingungan mencari Renata.


“Duuh di mana tu hime pake ngilang lagi.” Kata Aslan bingung.


Tapi di tengah kebingungan tersebut tiba- tiba ia mendengar orang bergosip.


“Ehh kamu yakin Si Gorgon di kalahkan sama orang yang lewat apalagi dia perempuan.” Kata Penduduk A.


“Yakin tadi aku melihat nya ia dapat mengangkat dan membanting tubuh besar Gorgon dengan sangat mudah lo kalau kamu gak percaya ayo kota ke jalan utama di sana pasti sekarang lagi rame.” Jawab Penduduk B.


“Ayo.” Jawab penduduk A.


Tapi sebelum mereka pergi Aslan terlebih dahulu meyetop mereka.


“Tunggu dulu tuan. Boleh kah aku bertanya?” Kata Aslan kemudian.


“Ya boleh.” Jawab Penduduk B.


“Apakah Perempuan yang kamu maksud adalah seorang rubah dan ia memiliki kucing putih dengan fariasi hitam.” Kata Aslan.


“Kayak nya si iya. Apa dia kenalan anda.” Kata Penduduk B.


“(pantesan si Gorgon kalah aku aja bukan lawan nya apalagi dia) iya iya saya kenalan nya. bisakah anda mengantar saya ke tempat itu.” Pinta Aslan.


“Kalau begitu ayo ikut kami.” Kata Penduduk B.


“terima kasih.” Jawab Aslan.


Kemudian merekapun berlari ketempat kejadian setelah beberapa saat sampailah mereka di kerumunan tersebut dan dengan susah payah ahirnya Aslan dapat menerobos kerumunan tersebut dan melihat Renata yang tampak bingung karena menjadi bahan tontonan dan dia tidak bisa keluar sangking rapatnya.


“Hime darimana saja kamu. Apa kamu tidak kenapa – napa tidak terluka kan.” Kata Aslan sambil melihat keadaan Renata.


“Aslan. Ahirnya ketemu taugak kamu kalau aku sangat takut karena tersesat.” Kata Renata sambil memeluk Aslan karena sangking senang nya.


Sedangkan Aslan hanya bisa mematung sangking kagetnya.

__ADS_1


__ADS_2