Rindu Rainerly

Rindu Rainerly
Bab 11


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Anakku bawa siapa, Bee?" tanya Biru yang masih terlihat masih tak percaya. Ia bersandar lemah di punggung ranjang dalam kamar.


"Bawa manusia"


"Tumben, udah bosen gitu sama kucing?"


"Tandanya anak kita normal, Bee" sahut Sam terkekeh.


"Kan dari kemarin juga udah ribut pengen pacaran, tapi aku gak nyangka dia bawa perempuan ke rumah ini" timpal Biru.


"Aku belum tahu mereka ada hubungan apa, mungkin cuma teman sekolah aja. Jangan terlalu banyak berpikir yang macam-macam ya sayang."


"Tapi, Rain masih sangat muda. Jangan nikahkan dia, Bee" mohon Biru yang belum rela melepas anak kesayangannya yang masih begitu sangat manja.


"Tergantung, asal gak pengen nyicip Nyeh Uwa Uwa dulu sih semua aman"


"Apa sih! anakku gak semesum itu ya!" timpal Biru dengan sorot mata tajam kearah suaminya yang tertawa.


.


.


Sementara di lantai bawah Rindu baru saja datang ke ruang tengah di mana Rain dan Hujan berada. Wanita baya yang masih terlihat cantik itu meminta Rindu duduk di sampingnya.


"Kebesaran gak bajunya?" tanya Hujan.


"Enggak, Moy. Cukup nyaman kok" jawab Rindu.


"Kamu kalau di ajak ngomong jangan nunduk terus, kaya orang lagi cari duit receh" ledek Rain, ia kadang kesal karna begitu sulit menikmati raut wajah Rindu yang cantiknya berbeda.


"Mungkin dia malu, kamu jangan bicara begitu, Bum."


"Bum penasaran, pengen liat matanya"

__ADS_1


"Mataku kenapa?" tanya Rindu.


"Mirip si belang, cantik" jawab Rain.


Rindu yang terkejut dengan jawaban pria itu dengan reflek kembali menunduk. Ia bingung harus berbuat apa sedangkan pikirannya terus berpusat pada Budhe.


"Kalian disini saja dulu, Moy mau ke atas sebentar" pamit Sang Nyonya Besar Rahardian yang resmi menggantikan Amma semenjak ia menghembuskan napas terakhirnya.


Kini tinggal Rain dan Rindu di ruang tengah, tak ada yang mereka obrolkan sama sekali dalam hitungan beberapa menit sampai Rain akhirnya mengajak gadis itu ke rumah belakang tempat puluhan kucingnya berada.



"Rain kucingmu---"


"Itu baru sebagian, yang lain ada di atas mungkin juga di teras."


"Ada berapa?" tanya Rindu yang mengelus salah satu hewan berbulu yang ada di tangga paling awal.


"Yang jelas lebih dari jumlah jarimu."


"Dari kecil, awalnya satu. Tapi lama-lama jadi banyak"


Rindu hanya mengangguk, ia begitu senang dengan puluhan kucing di depan matanya, andai ia jadi Rain pasti hidupnya akan sangat bahagia.


Rain hanya memperhatikan Rindu bermain dengan kucing kucingnya, ia juga mengizinkan gadis itu menggendong bahkan mencium gemas



"Namanya siapa yang ini?"


"Cimut" jawab Rain singkat.


"Lucu, habis mandi ya? harum banget"


Rain hanya mengangguk karna memang tebakan Rindu benar, jika pagi tadi ada lima kucingnya yang baru saja di mandikan orang yang bertugas mengurus hewan peliharaannya tersebut.

__ADS_1


Ceklek


Suara pintu yang terbuka membuat Rain dan Rindu menoleh. Kedatangan dua orang yang langsung melempar senyum membuat Rindu pun melakukan hal yang sama.


"Hai..." sapa Embun ramah.


"Hai, juga" Jawab Rindu sambil menerima uluran tangan Embun.


"Temennya si Bum-Bum?"


"Ah-- iya. Aku teman Bum-Bum" jawab Rindu lagi dengan terbata.


Embun mengalihkan pandangannya pada pria yang merangkul bahunya itu.


"Kata miMoy dia namanya Rindu, Bang" ucap Embun pada Keanu, pria yang amat di cintainya.


"Rindu? kaya aku ke kamu dong kalo gak ketemu"


"Apa tuh?"


.


.


.


.


Kangen.....



Pulang sono Abang paketek...


ngapain ngelawak disini sih 😌😌

__ADS_1


__ADS_2