
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Rain, bisa antar aku pulang?" pinta Rindu saat mereka kembali berdua diantara puluhan kucing.
"Kemana?"
"Sekolah, Budhe pasti khawatir padaku"
Rain diam sejenak, ia sepertinya lupa akan hal itu karna mendadak membawa Rindu pergi begitu saja. Tak ada yang menghalanginya pagi tadi karna memang tak akan ada yang berani pada Rain. Meski ia baik dan sopan tapi orangtuanya adalah pemegang saham tertinggi di sekolah Bertaraf internasional tersebut.
"Pamit sama Mhiu juga Phiu ya"
Rindu mengangguk tanda setuju, meski berlatar belakang dari sebuah desa tapi Rindu masih tau tata krama menjadi seorang tamu.
Rain mengulurkan tangannya, ia mengajak Rindu kearah tangga menuju kamar orangtuanya.
Darah keturunan Rahardian begitu melekat pada diri Rain, belum apa-apa ia selalu ingin menggenggam tangan gadis yang mampu membuatnya merasa nyaman.
Tok.. tok... tok...
Rain mengetuk pintu berwarna putih itu sampai berkali-kali hingga ada sahutan dari dalam yang mempersilahkan mereka masuk.
"Yuk"
"Ibumu tak akan pingsan lagi, kan?" tanya Rindu, sepertinya gadis itu masih takut hal serupa terjadi lagi jika wanita cantik tadi kembali pingsan.
"Enggak lah, yuk. Mau pulang gak?"
"Mau" jawab Rindu dengan cepat sambil mengangguk.
__ADS_1
Rain dan Rindu lekas masuk mendekat ke arah tempat tidur dimana Samudera dan Biru berada. Rain langsung meminta izin untuk kembali ke sekolahnya mengantar Rindu.
"Kamu tinggal di sekolah? anak salah satu guru kah?" tanya Sam.
"Bukan, Phiu. Rindu keponakan pemilii kantin" jawab Rain.
"Oh, begitu. Ya sudah, hati hati di jalan, dan kamu langsung pulang ya" pesan Biru.
.
.
.
Rain melajukan mobil mewah berwarna putih miliknya dengan kecepatan sedang. Tak ada yang mereka bicarakan selama perjalanan. Rain maupun Rindu seolah tenggelam pada pikiran mereka masing-masing.
"Terimakasih untuk hari ini, dan maaf sudah merepotkanmu. Terlebih harus membuatmu bolos, Rain" ucap Rindu saat mobil berhenti di parkiran sekolah.
"Tapi pagi tadi aku sungguh terkejut"
"Sudahlah, ku pastikan kejadian tadi tak akan terulang. Aku antar kamu kedalam, aku akan bicara pada Budhe" ajak Rain yang bersiap untuk keluar dari mobilnya.
"Tak usah, biar aku saja"
"Aku akan bertanggungjawab, aku yang membawamu pergi dari hadapan Budhe jadi aku wajib mengantarmu sampai hadapan Budhe juga" entah ada angin apa si anak manja itu kini mendadak bijak, padahal biasanya ia enggan berurusan dengan makhluk bernama wanita.
"Tapi--"
"Cepat, aku sudah berjanji pada Mhiu untuk tak lama"
__ADS_1
Tak ingin berdebat lagi, akhirnya Rindu mengiyakan ajakan Rain untuk mengantarnya kedalam.
Dengan berpegang tangan keduanya berjalan beriringan menuju tempat tinggal Budhe.
"Dia ada di dalam?" tanya Rain di rasa suasana tempat itu begitu sepi.
"Entah, coba ku lihat dulu."
Belum sempat Rindu masuk, ia di kagetkan dengan kehadiran penjaga pintu gerbang yang mengatakan jika Budhe sedang pergi ke dokter. Kejadian pagi tadi ternyata membuat tekanan darah tinggi wanita itu kambuh mendadak.
"Pulanglah, Budhe tak ada. Kamu tak perlu menunggu"
"Yakin?"
"Tentu, biar aku sendiri yang cerita pada Budhe" ujar Rindu meyakinkan.
"Baiklah, aku pulang ya" pamit Rain.
"Hati-hati jalan." pesan Rindu yang di jawab anggukan oleh Rindu.
Baru lima langkah Rain berjalan, ia kembali membalikkan badannya. Rindu yang masih di posisinya itu pun memandang aneh Rain.
.
.
.
.
__ADS_1
Aku takut pacaran... tapi aku suka kamu!!!