Rindu Rainerly

Rindu Rainerly
bab 48


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂.


"Basah mulu, Bum?" ledek Samudera saat putranya baru saja datang ke ruang makan dengan stelan jas membalut di tubuh tingginya.


"Kan abis mandi piyuuuuuuuuuh" jawabnya yang malah berhambur ke pelukan Biru.


"Eeeeeeh, udah punya tempat halal masih aja nemplok di Mhiu, MINGGIR!!!" protes Samudera sambil menjewer telinga Rain.


Rain yang meringis kesakitan akhirnya pindah ke dalam dekapan istrinya.


Rindu yang terkekeh hanya mengusap kepala Rain yang wajah kesalnya kini sudah ada di ceruk leher.


"Sakit".


"Kamu salah peluk, Rain" sahut Rindu. Ia seolah sedang memanjakan anak kucing peliharaannya.


"Tau! udah punya sendiri-sendiri juga" cetus Sam lagi yang tak pernah mau mengalah pada anak laki-lakinya tersebut.


Biru yang sudah biasa mendengar perdebatan dua dan dan putranya, enggan untuk berkomentar karna akan panjang kali lebar jika ia membela salah satu dari dua pria kesayangannya.


tersebut.


Sarapan pagi ini di lewati seperti biasa, canda dan obrolan ringan selalu mewarnai pagi hari kelaurga Rahardian sebelum melakukan aktivitas masing-masing nantinya.


Rain yang sudah selesai lebih dulu menggeser piring kotornya, ia bangun sambil mengulurkan tangan kearah Rindu.


"Phiu, aku duluan ya. Hari ini dikasih kerjaan banyak banget" pamit si bungsu sambil menyindir.

__ADS_1


Samudera pun langsung tertawa, siang ini ia memang ia akan pergi bersama Biru untuk menghadiri pembukaan hotel baru di luar kota dan kesempatan itu tak akan di sia-siakan begitu saja oleh si pria yang masih giat menenggelamkan si Tutut ke dalam sawah area favoritnya.


"Dikit itu, Bum. Paling lembur satu jam" jawab Samudera yang menarik turunkan alisnya.


"Satu jam itu lama, soalnya ada yang nunggu Bum di rumah" oceh nya lagi, semenjak menikah tentu ia tak betah berlama-lama di luar jika Rindu tak ikut.


"Bawa sana pawangnya" timpal Air sambil tertawa.


Rindu yang sudah merasa malu tentu langsung menunduk dan itu membuat Hujan langsung memukuli tangan suaminya yang malah ikut meledek Rain.


.


.


.


.


Ia bisa langsung berada di posisinya yang sekarang tentu dengan bekal ilmu bisnis yang sudah di turunkan Air dan Samudera, pria tampan menggemaskan itu sudah sering di ajak ke berbagai pertemuan para pengusaha sejak remaja meski hanya menyimak setidaknya Rain sudah terbiasa dan bisa mencontoh prilaku sopan para orang tuanya saat bertemu kolega bisnis mereka.


"Kapan selesainya" gumam Rain saat ia melihat tumpukan berkas di atas meja kaca kerjanya.


Sejak sekolah ia memang sudah terbiasa menandatangani semua berkas yang butuh persetujuannya, tapi saat bekerja semua jauh berkali-kali lipat lebih banyak.


Satu persatu akhirnya semua beres, Rain melirik jam di pergelangan tangannya yang sebentar lagi ternyata sudah masuk waktu makan siang.


"Telepon Rindu, ah" monolognya sendiri sambil meraih ponsel di samping laptopnya yang masih menyala.

__ADS_1


Sampai beberapa detik akhirnya panggilan tersambung, senyum pun langsung mengembang di wajah Rain.


"Hallo istri"


"Hallo juga, Suami" sahut Rindu yang kini ingin sekali mencubit pipi pria tersebut.


"Lagi mkirin aku ya?" tanya Rain.


"Enggak, lagi urusin Moody"


Moody adalah anak satu-satunya Madu, ia jauh lebih ramah dan penurut di banding biangnya.


"Ish, dia mulu yang di urusin, pasti lagi di cium cium deh" protes Rain yang tahu jika istrinya itu semakin senang dengan hewan peliharaan mereka.


"Kan mumpung gak ada kamu, kalau ada kamu ya aku urus kamu, Rain" bela Rindu yang tahu jika suaminya merajuk.


.


.


.


.


Bener yaaaaa...


Tar malem Uget-uget Bum harus di cium-cium, keh....

__ADS_1


__ADS_2