Rindu Rainerly

Rindu Rainerly
Bab 31


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Pulang, Nak... pulang!"


Rindu bangun dari tidurnya, keringat sebesar biji jagung pun mulai membanjiri kening gadis cantik tersebut yang kini duduk dengan memegang dadanya sendiri yang sesak.


Air mata pun jatuh tak terasa, mimpi itu seakan nyata ia alami dimana orangtuanya membelai kepala sambil memintanya untuk pulang.


"Mah, Pah... Kenapa?" gumamnya yang kini tangisnya sudah pecah.


Rindu yang bingung yang bisa memeluk lututnya sendiri, perintah orangtuanya terus terngiang di telinga sampai ia rasanya sulit memejamkan mata lagi sampai pagi menjelang.


.


.


"Rin, kamu sakit?" tanya Biru saat gadis itu masuk ke dapur bersih untuk membantu menyiapkan sarapan. Tiga bulan tinggal di rumah utama membuat Rindu sudah sangat hafal dengan kegiatan sehari-hari.


"Enggak, Mhiu."


"Kok pucet banget, yakin kamu baik-baik aja, Sayang?" Biru seakan tak percaya dengan jawaban gadis kesayangan putranya tersebut.


"Mhiu, boleh aku pulang?"

__ADS_1


"Pulang? ke kampung mu, ada apa?" Cecar Biri dengan beberapa pertanyaan, tentu ini sangat mengagetkan.


"Mau ziarah ke makan mama dan papa"


Biru mengernyit kan dahi, alasan yang menurutnya masuk akal karna selama di rumah utama ia sama sekali tak pulang ke kampungnya.


"Kamu pasti kangen ya sama orang-tuamu?" ucap Biru yang langsung memeluk Rindu, tapi gadis cantik itu malah menumpahkan air matanya.


Biru mengusap punggung Rindu, memberi rasa nyaman untuk menumpahkan semua yang di rasakan nya. Ia paham karna pernah ada di posisi Rindu, menjadi anak yatim piatu dan tinggal bersama orang lain memang tak mudah meski ia di perlakuan bak tuan putri.


"Kita bicara lagi nanti ya, kamu izin sama papAy terutama sama Rain. Dia sangat menyanyangimu dan Mhiu tak yakin kamu di lepaskan begitu saja olehnya" ucap Biru, ia tahu betul bagaimana sikap Para keturunan Rahardian kepada para pasangannya.


"Aku hanya ingin ziarah, Mhiu"


Rindu menganguk sebagai jawaban, tapi belum Biru bertanya lagi Rain datang dengan wajah alis saling bertautan.


"Ada apa? Rindu kenapa?" tanya Rain, tatapannya begitu menyelidik kearah Mhiunya.


"Kamu sakit? kok pucet?" serasa tak mendapat jawaban dari Biru, kini Rain mengalihkan pertanyaan pada Rindu langsung.


"Enggak, aku cuma lagi izin pulang ke Mhiu"


Deg.

__ADS_1


Hati Rain mencelos, ia pikir Rindu nyaman dengan nya tapi ternyata ia masih ingin kembali pulang ke kampung, menemui orang-orang yang menyakitinya.


"Yakin? kalau di pukul lagi gimana?"


"Itu rumahku, rumah orangtuaku, Rain. Aku yang berhak bukan mereka. Aku ingin pulang ke rumah ku" lirih nya kembali terisak.


Biru mengusap lengan putranya meminta Rain jangan terlalu membebani Rindu dengan pertanyaan dan pilihan. Tak mudah menjadi Rindu yang bagai buah si malakama, bertahan sakit melepas sulit.


"Biar nanti Mhiu bicarakan pada phiu dan papAy ya. Kita sarapan dulu"


"Aku akan anter kamu pulang. Aku gak akan izinin siapapun nyentuh kamu sembarangan lagi. Sejak j


hari itu kamu tanggung jawabku, Rin" tegas Rain, ia seolah trauma melihat Rindu di pukul sampai tersungkur oleh Bani.


"Aku hanya ingin ziarah ke makam orang tuaku, aku rindu mereka, Ran"


"Tapi ada orang jahat di rumah itu"


.


.


.

__ADS_1


Sejahat apa pun, ia calon suamiku!!!


__ADS_2