
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Menikah! dengan siapa?" tanya Rain yang sedikit terkejut tak percaya.
"Dengan calon suaminya, Tuan. Rindu kemari hanya sekeder berkunjung. Dia sudah punya jodoh nya sendiri di kampung" jelas Budhe yang sedikit membuat hati sang pewaris Rahardian Group itu mencelos.
"Oh--"
Rain pergi meninggalkan kantin, perut yang belum di isi sarapan itu pun tak ia perdulikan, langkahnya terasa melayang saat berjalan menuju kelas.
Pemuda tampan kaya raya itu tak perduli dengan siapapun yang menyapanya.
"Rain, kenapa lo?" tanya Rio sambil menepuk bahu temannya itu.
Rain menoleh sekilas, ia menggelengkan kepalanya pelan tanpa senyum dan tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya membuat Rio mengernyitkan dahi.
Keduanya masuk kedalam kelas sebab beberapa menit lagi bell akan berbunyi. Masih tetap sama, Rain tetap diam seribu bahasa dan tetap fokus pada pelajaran yang di jelaskan oleh guru sampai jam istirahat tiba. Langkahnya langsung belok ke keruang OSIS karna memang hari ini akan di adakan rapat mengenai pertandingan basket antar dua sekolah.
Masih tak ada siapapun disana, karna biasanya anggota OSIS memang berkumpul saat perut mereka sudah terisi penuh. Tapi Rain yang sebenarnya hari ini begitu kacau tak ingin apapun untuk ia nikmati. Jika saja ia tak berjanji untuk tak bolos dan tak punya tanggung jawab sebagai ketua OSIS mungkin hari ini ia akan pergi mencari Rindu.
"Aku bingung harus apa? mengejarmu yang bukan milikku apa itu pantas? mungkin kamu akan menertawai ku, kan?" bathin Rain.
__ADS_1
Ia mengusap wajah murungnya dengan pelan, ia sadar mungkin ini adalah jawaban dari rasa tak enak hatinya semalam sampai sulit tidur.
Cek lek
"Rain, tumben udah sini?" sapa salah satu anggota OSIS yang datang, Rain hanya mengangguk tanpa menjawab sampai satu persatu semua anggota sudah berkumpul termasuk Kalina yang menjadi sekertaris.
Gadis cantik itu menulis semua yang di jelaskan oleh Rain hasil diskusi semua anggota, begitupun dengan yang lainnya sesuai tugas masing-masing .
"Gue rasa cukup sampai disini rapat kita, makasih banyak buat kerja samanya." ucap Rain sebagai salam penutup.
"Sama-sama, Rain. Kita bubar ya duluan ya"
"Iya" sahutnya yang memang sudah biasa keluar dari ruang OSIS paling akhir karna ia akan mengecek kembali semuanya.
"Duluan" jawab Rain tanpa menoleh.
"Kamu kenapa sih? aneh banget hari ini, apa karna si pelayan kantin itu yang udah pergi?" tanya Kalina.
"Dia pergi gara-gara lo!" sentak Rain kesal.
"Kok aku yang di salahin? sekarang makin keliatan kan gimana gatelnya dia, udah mau nikah masih godain kamu. Gak jelas banget jadi cewe!"
__ADS_1
"Stop buat ganggu dia, apalagi bilang dia gatel atau apapun itu, Kal." ancam Rain yang pergi setelah ia menggebrak meja.
Tak perduli dengan jam pelajaran yang sudah di mulai, Rain malah bergegas menuju halaman belakang sekolah untuk mencari si Madu. Ia berharap hewan lucu itu tak di bawa oleh pemiliknya.
Dan benar saja, Rain yang murung seharian ini baru bisa tersenyum lebar saat ia melihat Madu sendirian di semak-semak.
"Madu.... sini cantik" panggil Rain.
"Yuk, kita pulang ya. Emakmu udah gak ada"
Rain terus saja merayu, ia bisa saja menangkap hewan kecil itu, tapi tentu Rain tak akan melakukannya. Pendekatan dari hati ke hati adalah yang selalu Rain lakukan, jadi tak salah jika semua hewan miliknya begitu nurut.
"Madu, apa kamu tahu sesuatu?" ucapnya sedih sambil terus menarik napas dalam-dalam.
.
.
.
.
__ADS_1
Tanpa meletus balon hijau pun hatiku sudah sangat kacau