
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Rindu yang di panggil Air ke ruang kerjanya tentu membuat Rain tak tenang, karna pria baya itu biasanya akan melakukan pembicaraan serius di dalam ruangan tersebut.
Dan sialnya, si Tuan Muda tak di izinkan masuk sama sekali untuk tahu apa yang akan di rundingkan antara Air dan Rindu.
"Ada apa sih, Moy?" rengek Rain dalam pelukan Hujan yang mengelus kepalanya di ruang tengah.
"Gak ada apa-apa, kamu tenang aja"
"Moy gak mau cerita sama Bum-Bum?"
"Nanti saja, kamu tanya langsung sama PapAy atau Rindu ya, Sayang" Sahut Hujan. Si pemegang kendali rumah utama itu mencium pucuk kepala cucunya dengan penuh kasih dan cinta.
Rain yang menunggu terus saja bergumam, karna Air tak bicara apapun padanya sebelum memanggil Rindu. Dan kesalnya ia, Phiu dan Mhiu nya pun tak tahu sama sekali.
Di dalam ruang kerja turun menurun itu, Air duduk di sofa singel sedangkan Rindu di sofa panjang sambil menundukkan pandangan. Gadis tersebut tak akan pernah berani menantap mata siapapun apalagi ini si pemilik rumah mewah tempat ia kini menumpang tinggal.
"PapAy sudah tahu semua, lalu maumu bagaimana?" tanya Air.
"Aku mau hak ku, pAy" sahut Rindu pelan.
"Jika kamu semua milikmu kembali padamu, jalan satu-satunya kamu harus menikah dengan Bani. sesuai dengan surat wasiat orangtuamu sebelum meninggal. Dan itu sah karna banyak saksi dan pengacara yang menjadi buktinya"
Rindu mengangguk, Papanya memang melakukan itu dalam keadaan sehat dan sadar tanpa paksaan sama sekali. Ia ingin Rindu menikah dengan Bani karna yakin jika keluarga orang kepercayaannya itu mampu menjaga rindu.
__ADS_1
"Mereka tak baik padamu, Rin. Jangan gegabah mengambil keputusan ya. Pikirkan kebahagiaanmu juga." pesan Air, ia juga tak bisa berbuat banyak karna keluarga Bani yang memegang semua surat surat penting milik orang-tua rindu dan akan di berikan jika gadis itu mau menikah dengan Bani.
"Sebenarnya mereka tak perduli aku mau atau tidak menikah, cuma yang aku takutkan makam orangtuaku akan di buat bangunan di atasnya oleh paman dan bibi. PapAy bisa rasakan bagaimana takutnya aku jika itu terjadi" lirih Rindu yang kini mulai terisak.
"Mereka mengancam itu padamu?"
Rindu kembali mengangguk, rasa sesak dalam dadanya tak mampu membuat ia banyak bicara lagi.
"Kurang ajar! mereka tak punya jejak kriminal sama sekali. Semua di lakukannya dengan sangat rapih"
"Mereka sangat pintar memainkan drama selama ini, hingga kami pun terkecoh dengan senyum dan bentuk perhatiannya" sahut Rindu yang sebenarnya geram.
"Kamu mencintai, Bani?" tanya Air dengan sangat serius.
"Aku mencintai cucumu, pAy"
.
.
.
Uhuk... uhuk
Rain yang tiba-tiba batuk langsung di ambil kan minum oleh Hujan, wanita baya itu tentu sangat panik karna Rain tersedak secara mendadak.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Hujan saat Rain sudah menegak air putih yang di bawaanya barusan.
"Gak tahu, Bum juga bingung"
"Ya udah, kamu istirahat saja sana nanti ceritanya besok pagi ya" titah Hujan karna suaminya dan Rindu belum juga keluar dari ruang kerja yang pintunya masih tertutup rapat.
"Enggak, kelamaan Moy" tolak Rain.
"Dari pada kamu uring-uringan terus karna penasaran"
"Boleh Bum-Bum tebak?"
"Apa, kamu mau main tebak-tebakan apa?" tanya Hujan.
.
.
.
.
Hem... Bum mau tebak kalau Budhe dan Mhiu abis ini akan jadi besan!!
__ADS_1