
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Kita mau kemana?" tanya Rindu lagi saat sudah masuk kedalam mobil mewah Rain yang terparkir di parkiran sekolah yang sudah nampak sepi.
"Ya ampun! kenapa masih nanya terus sih? telingamu dua kan? masa iya gak denger aku bilang mau ke dokter hewan!" oceh Rain yang gemas dengan gadis cantik di sebelahnya itu.
"Ngapain kesana?"
"Periksa Madu, kan katamu lagi muntah-muntah dari siang" Sahut Rain.
"Kalau mau bawa Madu berobat kenapa Madunya gak dibawa?"
"Astaga!!" pekik Rain sambil mengusap wajahnya sendiri.
Rindu yang kesal lalu turun dari mobil Rain, ia pergi begitu saja mengambil Madu. Ini adalah kesempatan baginya membuat Madu sembuh jadi Rindu tak akan menyiakan kesempatan yang diberikan oleh Rain, toh hanya ke dokter hewan, pikirnya.
Rindu kembali dengan membawa Madu, seperti sebelumnya Rain membuka pintu bagian kiri agar gadis itu cepat masuk kedalam kereta besinya.
"Ya ampun, sampe kurus gini" lirih Rain yang benar-benar tak tega melihat Madu yang lemas tanpa bersuara.
"Kita cek dokter dulu ya, Sayang"
Rain mengusap bulu halus Madu, lalu menyalakan mesin mobilnya menuju klinik dokter hewan langganan nya. Butuh waktu hampir enam puluh menit untuk sampai disana jika dari arah sekolahnya, berbeda jika dari rumah utama.
__ADS_1
Sampai disana, Rain langsung menemui dokter yang biasa mengurus puluhan kucing miliknya juga. Hanya Rindu yang masuk kedalam ruang pemeriksaan karna ia harus menerima telepon dari keluarganya yang pasti ingin menanyakan tentang keberadaannya kini padahal tanpa menelepon pun mereka sudah tahu dimana Rain kini berada.
Baru saja Rain mengakhiri telepon dan mau masuk kedalam ruang pemeriksaan, Rindu justru keluar bersama dokter..
"Gimana, Madu?" tanya Rain pada wanita dewasa berjas putih khas kedokteran.
"Gak apa-apa, nanti kalau masih muntah dalam seminggu kalian datang lagi ya. Kali ini saya cuma kasih sedikit resep makanan diet untuk Madu, dan sudah dijelaskan juga pada Rindu" jelas si dokter dengan Ekspresi santai yang menandakan tidak ada yang serius pada hewan lucu bebulu putih hitam tersebut.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya tante. Jangan lupa lusa giliran periksa Cimot dan Noli ya, sebentar lagi mereka mau melahirkan" ucap Rain mengingat kan.
"Siap Tuan Muda."
Rain dan Rindu akhirnya pulang saat petang menjelang malam. Ia hanya mengantar gadis itu sampai depan kantin.
"Makasih ya tuan muda"
"Panggil saja Rain seperti yang lainya" titah Rain sambil tersenyum.
"Makasih ya, Rain" Rindu mengulang ucapannya.
"Sama-sama, jangan segan memberitahu ku jika terjadi sesuatu pada Madu" pinta Rain yang di jawab anggukan kepala oleh Rindu.
Malam pun datang, Rain langsung berpamitan karna ia berjanji untuk pulang sebelum jam makan malam pada Mhiu nya.
__ADS_1
.
.
Beberapa menit berlalu, Rain akhirnya sampai di rumah utama. Ia langsung menyapa kedua orangtuanya kemudian beranjak ke kamarnya untuk membersihkan diri meninggal kan kedua orangtuanya yang menatap ia bingung.
"Bum-Bum dari dokter hewan sama cewek loh, Bee" bisik Samudera, ayah Rain yang di panggil Phiu.
"Gak usah sok tahu, Anakku gak pernah deket dengan perempuan manapun kecuali denganku dan MiMoy" cetus Biru yang seolah tak ikhlas.
"Ish, kamu gak percaya banget" ledek Samudera.
"Iya, emang enggak! anakku gak mungkin punya pacar"
"Eh, lagian juga siapa yang ngijinin Bum buat pacaran, dia kalau udah ada ceweknya mau langsung ku nikahin" cetus Sam tanpa ada raut wajah bercanda.
"Kok gitu, kenapa?" tanya Biru.
.
.
.
__ADS_1
.
Aku takut Bum-Bum minta NYEH UWA UWA, Bee..