Rindu Rainerly

Rindu Rainerly
Bab 23


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Rain yang baru keluar dari kamar Rindu langsung dipanggil oleh Air ke ruang kerjanya. Ia tahu, jika sudah di minta masuk kedalam sana pasti akan ada yang penting untuk di bicarakan dan Rain sepertinya sudah bisa menebak hal tersebut. Pemuda tampan menggemaskan itu tak langsung membuka pintu, ia lebih dulu manarik napas dan membuangnya secara perlahan untuk menetralkan detak jantung yang berdegup kencang tak seperti biasanya.


Cek lek...


"Pay... " sapa Rain setelah ia siap untuk menghadap pria baya yang tak lain adalah Tuan besar Rahardian Wijaya.


"Masuk, Bum" sahut Air yang ternyata sudah ada di sofa panjang menunggu sejak tadi cucu bungsunya itu datang menemuinya.


"Eh, ada Phiu juga, kaget Bum" ucapnya yang memang sedikit terkejut saat melihat Samudera baru keluar dari kamar mandi.


"Mules terus kenapa ya?" keluh Sam yang lemas lalu duduk bersandar di sofa.


"Kamu makan apa, dek?" tanya Air pada putranya.


"Gak makan apa apa, Cuma nyicipin sambel rujak dari bibir Biru" sahut Sam


#Eh...


Air menatap tajam putranya yang wajah dan senyumnya begitu mirip dengan papanya, Reza.


"Keceplosan, Pay" kekeh Sam


Air kemudian menghela napas lalu di buangnya pelan. Kini pandangan itu beralih pada Rain yang seakan sudah siap menjawab rentetan pertanyaan yang akan di layangkan oleh Air.

__ADS_1


"Apa rencanamu untuk Rindu, Bum?" tanya Air tanpa basa basi lagi.


"Gak ada, cuma mau dia tinggal disini aja" sahut Rain santai.


"Sebagai apa?" tanya Sam.


"Emaknya Madu"


Dua pria tampan itu saling pandang belum begitu paham dengan yang di katakan sang pewaris Rahardian Group tersebut.


"Madu apa?"


"Kucing Rindu, namanya Madu, Phiu" jelas Rain.


Sam mendengkus kesal, dalam perbincangan serius pun anak itu selalu menyelipkan si kucing.


"Baru calon, bukan suami, pAy" sahutnya lagi dengan enteng seolah tak perduli dengan hal itu. Padahal ia sendiri sudah bertemu bahkan berkelahi demi melindungi Rindu yang sedang di siksa.


"Calon suaminya galak, pukul pukul Rindu, Bum gak suka" cetusnya kesal jika ingat hal tersebut.


"Kamu kasihan?" tanya Air lagi yang di jawab anggukan kepala oleh cucunya itu.


"Sekedar kasihan atau udah cinta?!" Sam yang gemas akhirnya ikut melayangkan pertanyaan.


"Cinta tuh seneng kan kalau liat dia? kangen kalo gak ada tarus gak mau jauh jauh, gitu?" Rain malah bertanya sambil memastikan apa yang ia rasakan pada Rindu. Karna sebelumnya ia tak pernah merasakan hal seperti ini pada gadis manapun.

__ADS_1


"pAy, anakku udah gede" bisik Sam.


"Hem, iya! bahaya nih" sahut Air.


"Ntar kalau minta Nyeh uwa uwa, gimana? " balas Sam lagi sambil terkekeh karna jauh dari dasar hatinya ia masih tak percaya jika Rain ternyata bukan bocah balita lagi.


Rain menatap aneh dua pria di depannya itu secara bergantian. Ia tak bisa mendengar apapun yang sedang Phiu dan PapAy nya bicarakan dengan cara berbisik.


"Selesai kan dulu urusan Rindu dengan pria di kampungnya. Jangan jadi orang ketiga dalam hubungan orang lain, Bum. Agar tak ada salah paham saat kalian resmi menjadi sepasang kekasih nantinya." pesan Air.


"Bum suka Rindu, tapi gak mau pacaran" jawabnya cepat.


"Kenapa?" tanya Sam dan Air berbarengan.


.


.


.


Ribet... kalau ketiduran aja harus minta maaf.



Ada yang paham maksud si Bum-Bum 🤣🤣

__ADS_1


Anak gantengku, sayang... bae bae ya jangan dulu minta kawin.. 😁😁


__ADS_2