
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Rain yang merasa hawa dingin di tubuhnya langsung mengerjapkan mata. Ia bangun lalu mengedarkan pandangan. Kepala yang mendadak sakit membuatnya sedikit kurang fokus.
"Bum, dimana ya?" gumamnya pelan, dan...
Deg..
"Kok gak pake baju!"
Cek lek..
"Rain, udah bangun?" tanya Rindu yang baru keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk sebatas dada dan setengah pahanya.
"Rindu---?" ucap Raik terbata dengan sorot mata tak lepas dari wanita cantik itu.
"Mau mandi?"
"Hem, enggak. Aku---"
"Kenapa?" tanya Rindu yang memilih menghampiri Rain kemudian duduk di tepi ranjang.
"Enggak, cuma kaget. Bangun tidur bukan di kamar ku terus ini---?" Rain menggantung ucapanya sambil melihat pada dirinya sendiri yang polos tanpa apapun kecuali selimut yang menutupi sebatas pinggang.
"Mau mandi atau mau lanjut tidur? udah jam 6, aku mau buat sarapan" ucap Rindu yang juga malu sendiri.
"Mandi" jawab Rain cepat.
.
__ADS_1
.
.
Rindu yang sudah lebih dulu rapi langsung bergegas ke dapur, sudah ada Budhe dan beberapa orang yang biasa ada dirumahnya. Wanita cantik yang kini resmi menyandang status Nona muda Rahardian itu terus saja menunduk saat semua mata tertuju padanya, belum lagi senyum yang seolah menebak apa yang biasanya terjadi pada pasangan pengantin baru.
"Ada yang bisa ku bantu, Budhe?" tawar Rindu, dari kamar ke dapur saja ia harus berjuang karna harus melangkah seperti siput.
Rasa nyeri di selang kangan membuatnya tak bisa melebarkan langkah apalagi untuk tergesa seperti biasa. Bahkan Rindu harus sesekali berhenti sambil memegang tembok atau apapun itu.
"Duduk saja. Oh ya, Budhe sudah buatkan jamu untukmu minumlah selagi hangat"
"Iya, Budhe" jawab Rindu, ia sejak kecil sudah sangat terkenal menjadi anak yang penurut tak susah memberinya penjelasan apalagi suruhan apalagi jika itu terbaik untuknya.
Seorang kerabat pun langsung memberi satu gelas kecil Jamu buatan Budhe, ia bilang itu bagus untuk mengembalikan stamina bahkan ada juga satu gelas khusus untuk Rain.
"Ya sudah, tambah kan saja sedikit air hangat lagi ya" titah Budhe saat merapihkan bagian untuk mantunya itu. Ia tak menyangka jika murid sekolah menengah atas yang dulu sangat populer karna ketampanan juga kekayaannya kini menjadi bagian dari hidupnya yang bukan siapa-siapa.
.
.
Setelah semua masakan sudah siap di meja makan, Budhe meminta Rindu memanggil suaminya untuk menikmati sarapan pagi bersama. Rindu yang sebenarnya masih malu karna banyak yang memperhatikannya saat berjalan pun menangguk pelan.
"Ayo, Rin. kamu kenapa?" tanya Budhe saat keponakannya itu masih duduk manis di kursi meja makan.
"I--iya, Budhe"
"Bawa juga jamunya. Minum itu memang jauh lebih bagus saat sebelum makan. Harusnya sih sejak tadi" ucap Budhe sambil menyodorka nampan kecil berisi gelas.
__ADS_1
Rindu bangun dari duduknya, ia bergegas lagi masuk kedalam kamarnya yang berada dekat dengan ruang tamu.
Ceklek
Pintu ia buka, senyum langsung ia berikan pada sang suami yang ternyata sudah sangat rapih.
"Kita, sarapan dulu yuk"
"Hem, iya. Kamu bawa apa itu?" tanya Rain yang matanya terfokus pada gelas di tangan istrinya.
"Oh, ini jamu buat kamu. Aku udah minum barusan. Katanya biar badan enakan lagi" jelas Rindu sambil menyodorkan si jamu pada Rain.
Rain yang percaya tentu langsung meminumnya dengan sekali tenggak.
"Oooek, gak enak!"
"Masa sih? tunggu, aku ambilin minum dulu biar kamu gak mual ya" ujar Rindu yang sedikit panik, namun tangannya justru di cekal untuk pergi.
"Aku gak minum"
"Terus maunya apa, Rain?" tanya Rindu.
.
.
.
Nyeh kamu ya?????
__ADS_1