
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Rin, kupingku panas" keluh Rain saat rapat orang ganteng sudah selesai, begitu pula dengan pawang Rahardian yang kini sudah kembali pada pasangan mereka masing-masing.
"Sini ku lihat"
Rain tersenyum lebar, ia rebahkan dirinya terutama kepala di atas paha Rindu, wanita cantik itupun langsung mengecek kedua telinga sang suami secara bergantian.
"Bersih, kenapa?"
"Gak tahu, panas banget sejak datang tadi. Ada yang ngomongin kali ya" jawabnya memcoba menebak.
Deg...
Rindu ingat saat di kamar tadi ia di introgasi sampai harus menyebut nama Rain berkali-kali dalam menceritakan pengalaman malam pertama mereka yang sempat di ragukan.
"Rin, kenapa?" tanya Rain yang membuyarkan lamunan istri tercinta.
"Gak apa-apa, aku mau ke dapur kamu mau titip seesuatu?"
"Enggak, ada minuman soda di kulkas"
Rindu langsung beranjak, ia merasa tak enak hati karna suaminya merasa jika tadi sedang di bicarakan.
.
.
.
Sampai di dapur tak ada siapapun disana, Rindu langsung kembali ke kamar dengan membawa apa yang ia mau.
__ADS_1
Ceklek..
"Rain, kok sepi ya?"
"Udah pada pulang mungkin" sahut Rain sambil meletakkan ponselnya keatas meja.
"Semua? Moy sama Mhiu enggak kali".
Rain hanya menaikan bahunya tanda tanda tak tahu apa-apa, tak satupun yang mengatakan padanya akan keluar rumah..
"Mungkin di kamar, kaya kita gini" ucap Rain yang sudah memeluk Biru dari samping.
Tangannya mulai nakal dengan masuk kedalam kaos yang dikenakan wanita halalnya tersebut. Rem asan lembut mulai di rasakan Rindu sampai ia harus menjatuhkan kepalanya di dada Rain.
Posisi tersebut tentu tak di sia-siakan, Rain lansung mencium bibir ranum sang istri yang baru ia rasakan manisnya. Semua ia lakukan pertama kali dengan Rindu begitu pun sebaliknya.
Rain tak pernah tahu rasanya jatuh cinta pada wanita lain, Rain pun tak pernah tahu rasanya menjamaah setiap inci tubuh selain tubuh Rindu.
"Hem, apa?"
Rain tersenyum kecil saat melihat Rindu mengigit bibir bawahnya sendiri saat ia memainkan squishy yang begitu kenyal menggoda.
Baju atasan Rindu pun terbuka, kini hanya tinggal kain tipis yang menutupi itupun di lepas juga.
Area yang kini menjadi favoritnya pun terpampang jelas depan mata. Meski masih malu-malu Rain mulai mencicipi dengan lembut sampai tak terasa kini Rindu malah sudah terbaring di sofa dengan Rain di atasnya.
Semua rasa yang tak bisa di ungkapkan mulai menjalar dari ubun-ubun sampai ujung kaki yang berpusat pada si Uget-uget yang meronta ingin di keluarkan dari sarangnya yang kini sesak.
"Udah, Rain" lirih Rindu saat dia Squishynya terus di mainkan dengan mulut dan tangan.
Ada yang ingin meledak di semak belukarnya yang entah kini sudah sebasah apa karna rangsangan yang di terima dari suaminya.
__ADS_1
"Mau main-main gak?" bisik Rain di telinga Rindu.
"Tapi aku---"
"Curang, udah duluan" protes si pria tampan tersebut yang tahu jika Rindu sudah merasakan pelepasan kecilnya.
"Udah sore banget, jangan lama-lama ya"
"Hem, gak janji"
Rain mulai memasukkan si uget-uget yang masih saja sulit mengacak acak isian semak belukar padahal mereka sudah berkenalan beberapa kali.
"Rain?"
"Apa?" tanya Rain di tengah aksi luar biasanya.
"Apa kita akan mau langsung punya anak?"
"Enggak, nanti aja" sahut Rain yang membuat Kening Rindu mengernyit.
"Loh, kenapa?"
.
.
.
.
Gak mau bagi Nyeh Uwa-uwa.
__ADS_1