Rindu Rainerly

Rindu Rainerly
Bab 21


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Jangan begitu, Rain. Kita berbeda dalam segala hal" jawab Rindu yang sedari tadi tak memperlihatkan matanya.


"Justru beda, kalau sama namanya tidak saling melengkapi" sahut Rain.


Lebih dari satu jam akhirnya Rain pamit untuk pulang, kini ia sudah mendapat jawaban dari isi hati yang telah ia ungkapkan, setidaknya dada nya tak lagi sesak karna terlalu banyak yang ingin ia katakan termasuk mengagumi sosok Rindu.


"Aku pulang, datanglah kapanpun itu selagi rasaku masih sama untukmu" pesan Rain.


"Hati-hati di jalan, tak ada yang tak mungkin jika kamu memang takdirku" balas Rindu.


Rain tersenyum kecil, ia mengusap lembut bulu halus Madu yang tau pernah ramah padanya.


"Baik-baik ya, jaga Rindu untukku. Cakar dan gigit siapa pun yang ingin menyakitinya" pesan Rain lagi pada Madu.


Tak hanya hewan itu, karna Rain pun melakukan hal yang sama pada Rindu. Ia mengelus kepala sampai pipi Rindu yang ingin sekali ia peluk.


"Kamu gak akan tahu rasanya gimana harus melepaskan padahal masih ingin bertahan, janji bahagia ya walau aku yakin bahagianya kamu tuh sama aku" bisik Rain yang membuat Rindu sedikit tersentak kaget sebab napas hangat pria tampan itu seolah menyapu bagian samping wajahnya.


"Ya, akan ku pastikan aku bahagia" jawab Rindu.


Rain menarik napas dalam-dalam, berat rasanya ia harus melangkah meninggalkan cinta pertamanya itu.


Tapi ia juga tak ada alasan apapun lagi untuk tetap bertahan lebih lama di hadapan Rindu.


.

__ADS_1


.


Rain yang sudah masuk kedalam mobil mewahnya langsung menyalakan mesin kereta besi tersebut. Tapi, baru lima ratus meter kendaraannya melaju ia justru teringat sesuatu.


"Ya ampun! saking kangennya sampe lupa kalau MiMoy titip kue buat Rindu" gumam sang pewaris Rahardian Group.


Rain dengan cepat memutar setir mobilnya untuk putar arah kembali ke rumah Rindu, dan setelah sampai sana ia bergegas turun dengan membawa satu paperbag di tangan kanannya.


Rain menajamkan pendengarannya di depan pintu utama yang sedikit terbuka. Ia langsung masuk saat mendengar suara wanita menjerit begitu kencangnya.


"Dasar ******!" teriak Bani dengan begitu keras di hadapan Rindu yang tersungkur di lantai ruang tamu tempat Rain terakhir kali melihat gadis itu.


"Brengsek!"


Rain yang geram melihat Rindu di rendahkan tentu tak tinggal diam. Dengan amarah yang tak bisa lagi ia redam Rain menarik kerah baju Bani lalu memukulnya tepat di bagian wajah.


Bani yang tak Terima tentu berusaha membalas tapi pukulannya malah terkena Rindu yang ingin melerai.


"Rindu!!" pekik Rain semakin marah.


Perkelahian pun terjadi, tak ada yang mau mengalah sampai beberapa tukang kebun datang memisahkan.


"Berani lo ikut dia, lo tau akibatnya!" ancam Bani saat tangan Rindu di tarik paksa oleh Rain menuju pintu utama.


Rindu menghentikan langkah dan itu sontak membuat Rain menoleh padanya.


"Rain, aku---"

__ADS_1


"Jangan bodoh dengan memilih untuk kembali, apapun itu alasannya Aku gak akan lepas tangan kamu"


Rain tak perduli dengan ancaman Bani, yang ia tahu ia akan membawa Rindu bersamanya. Cukup sekali dalam hidupnya ia melihat gadis yang ia cintai di perlakuan dengan sangat kasar di depan matanya.


"Rain, Aku---"


"Kamu ngerti gak sih, Rin. Aku gak akan izinin kamu balik lagi ke dia meski dia calon suamimu"


"Denger dulu, Rain. Aku bukan mau balik ke Bani tapi aku mau ambil Madu" jawab Rindu, kesal.


.


.


.


Oh iya, Anak kita ketinggalan.



Denger dulu makanya, Bum 😂😂😂


Tar Madu makin jutek loh di tinggalin


Abis ini minta kawin ya ma Phiu 😌😌


Biar bisa Nyeh uwa uwa 🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2