
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Cek lek...
Pintu di buka dengan sedikit kasar oleh Bani yang masuk tanpa menunggu izin, padahal sudah jelas itu adalah kamar seorang gadis yang belum menjadi hak nya.
"Tuan putri belum bangun?" sindir Bani saat melihat Rindu masih meringkuk malas di balik selimut.
"Untuk apa? aku pulang ingin bersenang-senang di rumahku"
"Rumahmu? hem... ya, ini memang rumahmu jika kita menikah!" tawa Bani seolah menggelegar ke seisi kamar Rindu.
"Jangan bermimpi! tak akan ada ikatan apapun antara aku dan kamu. Mama dan Papa pasti akan membatalkan perjodohan ini jika tahu seperti apa Kalian semua padaku" sentak Rindu.
"Mereka sudah MATI, sayang"
"Karna ulahmu!" tuduh Rindu dengan menunjuk dada Bani tepat dengan jari telunjuknya.
Bani kembali tertawa, dia angkat dagu gadis cantik bermata sembab itu sampai mendongak kearahnya.
"Pintar! ucapanmu benar, Sayang"
Bugh...
Rindu di tariknya lalu di dorong ke lantai sampai tersungkur, lengannya yang terkena lemari sampai membuat ia merintih menahan sakit.
"Lakukanlah sesuka hatimu, bulan depan kita menikah" ucap Bani yang lalu pergi meninggalkan Rindu yang kembali meneteskan air mata.
__ADS_1
Selama ini Rindu dan Bani tumbuh bersama sejak kecil, karna orang-tua Bani adalah tangan kanan Juragan Taslim yaitu Papa Rindu, ia yang memiliki hektaran tanah dan perkebunan dibantu oleh ayah Bani untuk mengelola semua aset yang tentu akan jatuh hanya ke tangan Rindu karna gadis itu adalah putri tunggal satu-satunya. Rasa tak puas dan ingin menguasai akhirnya hinggap di hati orang-orang yang sudah di percaya tersebut sampai rentetan kejadian terus terjadi, dan puncaknya adalah kematian orang tua Rindu karena kecelakaan.
Aku bersumpah, hari itu tak akan pernah terjadi...
.
.
.
Sementara, Rain baru datang ke rumah utama pulang Sekolah langsung masuk kedalam kamar Mhiu dan Phiunya.
Pemuda tampan yang sedang kacau itu berhambur memeluk wanita kesayangannya yang sedang duduk di sofa depan TV.
"Bum, kenapa?" tanya Biru, jarang sekali si bungsu merengut seperti ini saat datang.
"Loh, ko bisa?"
Rain menggeleng, ia tak ingin berkata apapun lagi saat ini kecuali terus berada dalam dekapan Mhiu nya.
"Bee, anak kamu patah hati. Gimana ini?" tanya Biru pada Samudera yang malah sibuk memvideokan anak bungsunya tersebut.
"Ya gimana?kalau patah kaki sama tangan bisa aku bawa ke rumah sakit, kalo ini ya bawa ke si Rindunya sana" Jawab Sam.
"Ya Rindunya mana, Phiuuuuuuuu???" sungut Rain kesal.
"Mana Phiu tahu, Buuuuuuuuum" kekeh pria beranak dua tersebut.
__ADS_1
"Ish, kalian! kamu biasanya kan suka tahu, dan gerak cepet? keluarin tuh baskom ajaibnya Appa"
"Tuh baskom cuma berlaku buat orang deket, Rain kemarin belum bikin pengumuman apa-apa. Jadi aku sama papAy masih santai. Belum kasih penjagaan buat Rindu" sahut Sam, ia tak menyangka jika putranya sudah menaruh hati pada gadis yang di anggapnya siluman kucing.
"Yaudah, sekarang jangan santai. Suruh orang buat cari Rindu, Bee" titah Biru pada suaminya.
"Iyaaa! kamu tahu nama kampung halamannya, Bum??"
"Enggak! lupa nanya sama Budhe."
Samudera dan Biru pun langsung menghela napas dan membuangnya secara kasar bersama.
"Ya udah, nanti Rindunya di cari Phiu ya. Kalau boleh tau, Bum kenapa suka sama Rindu?" tanya Biru penasaran.
.
.
.
.
Karna Rindu Emaknya Madu...
Gue cium nih...
__ADS_1
Jawabannya gak banget si Ya Allah 😭😭😭