
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Rain yang baru masuk kedalam ruangannya langsung merebahkan diri ke sofa panjang. Rasanya begitu lelah sampai ia sangat ingin terpejam sesaat.
"Kangen kamu, Rin."
Sudah satu minggu ini Rain berada di luar negeri seorang diri meninggalkan istrinya. Sepulang dari acara di rumah Rindu, ia langsung menyelesaikan pekerjaannya yang mendadak. Rain tak bisa menolak apalagi dengan alasan tak ingin jauh dari belahan jiwanya lalu meminta sepupu atau Phiunya yang meng-handle.
Sulit memang, tapi ini adalah salah satu tanggung jawabnya juga sebagai pewaris utama Rahardian Group mengingat kakaknya seorang perempuan yang kini sudah menjadi Nyonya besar Lee.
Bukan tak ingin membawa Rindu ikut, tapi wanita itu sedang tak sehat saat suaminya harus mendadak pergi. Dan 10 hari adalah waktu yang di janjikan Rain untuk kembali.
Lain di sana, tentu lain juga di rumah utama. Rindu yang baru saja habis mandi langsung turun ke bawah menemui semua hewan peliharaannya yang hanya ia dan Rain yang tahu pasti jumlahnya.
"Hai, ganteng," sapa Rindu saat melihat keponakan nya yang gendong oleh Ibu mertuanya.
"Mau kemana?" tanya Biru. Saking banyaknya ruangan di rumah tersebut jadi tak salah jika ada yang bertanya hal seperti itu.
"Biasa, liat anak-anak angkat," kekeh Rindu sambil mencubit gemas pipi bulat Angkasa.
"Ikut, Onty yuk liat miong," ajak Rindu.
Angkasa yang paham dengan yang di katakan Wanita cantik tersebut langsung menyodorkan tangannya.
__ADS_1
Keduanya pun berlalu kearah belakang rumah tempat dimana semua hewan berbulu itu berada.
Satu persatu semua kucing yang nampak lucu itu di elus oleh Rindu. Mereka tak pernah berkeliaran bebas sembarangan, cukup berada di bangunan belakang Rumah utama saja, terlebih sekarang ada si kembar yang sudah mulai aktif berjalan dan merangkak.
Dan Embun akan mengoceh panjang kali lebar jika terlalu banyak yang masuk kedalam rumah utama.
"Abang suka?"
"Yah," jawab bocah itu sambil mengangguk.
Jika dengan Angkasa, Rindu berani mendekatkan dengan hewan peliharaannya tapi tidak dengan Lintang yang tak berani dengan kucing. Tak jarang ia menangis meraung padahal baru suaranya saja yang terdengar.
Hampir tiga puluh menit bermain, akhirnya Rindu membawa keponakan tampannya itu masuk kembali, tak siapapun di lantai bawah membuatnya langsung naik keatas menuju kamar kakak iparnya- Embun.
"Kak..." panggil Rindu sambil terus mengetuk pintu bercat putih tersebut.
"Iya, Rin. Tunggu sebentar," sahut Embun. Wanita yang tak terhitung kekayaannya mulai dari suami, papAy hingga Phiunya.
Ceklek...
"Mau balikin si ganteng," ujarnya sambil terkekeh.
"Hahaha, makasih ya. Ada temen kakak, yuk masuk," ajak Embun yang langsung menarik tangan istri adiknya tersebut.
__ADS_1
"Eh, kak Mela," sapa Rindu ramah dan sopan meski sudah beberapa kali bertemu.
"Hai, Rin. Apa kabar?" tanya Mela, teman Embun yang orangtuanya juga cukup dekat dengan keluarga Rahardian Wijaya.
Ia sering kali datang kerumah utama apalagi saat semasa kuliah dulu, meski sekarang pun masih meski sudah memiliki kesibukan masing-masing.
"Baik, kak. Ronald gak ikut?" Rindu mencoba berbasa-basi dengan menanyakan anak Mela.
"Sama Papahnya, kamu udah hamil belum? aku lagi isi lagi nih, katanya sih kemaren USG kembar padahal kan kamu tahu sendiri kalau Ronald masih kecil. Wanita itu akan sempurna kalau bisa kasih banyak anak loh buat suami," ucap Mela yang seakan menghujam jantung Rindu seketika.
"Selamat ya, Kak. Doakan juga aku," balas Rindu.
Embun yang tahu adik iparnya sedikit tersinggung pun mulai mengalihkan obrolan, tapi Mela tetap saja kearah sana.
.
.
Emang lo gak bilang sama Adek lo suruh buangin tuh kucing, bikin susah hamil loh!!!
***Buuuuum..
__ADS_1
Emak madu ada yg julid'in 😂😂😂***