Rindu Rainerly

Rindu Rainerly
Bab 54


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Kenapa harus aku?" tanya Rain sambil menunjuk wajahnya sendiri dengan telunjuk tangan.


"Cuma 2 hari satu malam, ajak Rindu sekalian. Itung-itung honeymoon yang entah sudah berapa kali tapi hasilnya selalu zonk" sindir Samudera yang meminta si bungsu untuk ke luar kota menggantikannya untuk pembukaan hotel baru Rahardian's.


"Gak jadiin, bukan gak jadi-jadi" protes Rain.


Di usia pernikahannya yang hampir satu tahun pria itu masih menunda isterinya untuk hamil, alasannya hanya karna ingin berdua menghabiskan waktu setelah 4 tahun sempat terpisah oleh jarak.


"Masih dendam aja sama masa lalu" kekeh Air.


Mau tak mau, suka tak suka akhirnya Rain setuju, ia akan berangkat besok pagi dengan mengendarai mobilnya sendiri bersama Rindu pastinya.


.


.


"Aku gak tega tinggalin Miau" lirih Rindu saat sudah berada di dalam kamar usai makan malam.


"Ada yang urus, gak usah di pikirin. Mending pikirin aku yang makin cinta sama kamu" balas Rain yang mengerat kan pelukannya.


"Tetep aja kepikiran"


"Jangan bikin aku cemburu sama kucing! cukup Si Madu yang pernah bikin aku sakit kepala" oceh Rain yang membuat Rindu terkekeh.


Madu yang kini sudah masuk menjadi kucing dewasa masih saja posesif pada Rindu, ia akan selalu marah jika Rain mendekat apalagi jika keduanya datang bersama. Madu akan melempar lirikan tajamnya pada Rain seolah mereka ada musuh bebuyutan.

__ADS_1


"Madu tuh imut, Rain" ucap Rindu.


"Lebih imut kamu"


"Aku, imut?"


"Iya, apalagi sekarang bisa di e M ut juga."


Tau otak suaminya sering sedikit konslet, tentu Rindu langsung mencubit nya tanpa ampun sampai Rain meringis menahan sakit


.


.


.


Pagi yang sudah di rencanakan pun tiba, keduanya bangun lebih awal karna kebetulan keduanya tak melakuan apapun semalam kecuali ritual wajib Rain sebelum tidur.


Pasangan suami istri itu turun dan langsung keruang makan.


"Trio wek-wek udah kaya ikan asin ya berjejer begini" ledek Rain saat melihat tiga jagoan baru di rumah utama.


Embun yang mendengar hal itu tentu tak tinggal diam, ia lempar adiknya itu dengan tutup botol Putranya hingga tepat mendarat di kepala.


"Sakit, Ta buuuuuuuy!" ringis Rain sambil mengusap kepalanya.


"Pergi sana! Nanti pulang bikin tuh istrimu melendung" balas Embun meledek.

__ADS_1


"Emang balon" cetus si bungsu.


Rain dan Rindu langsung menikmati sarapan pagi mereka karna habis ini keduanya akan langsung ke luar kota. Banyak pesan yang di berikan Air karna Samudera sudah lebih dulu berangkat ke kantor, pria itu bahkan melewatkan sarapannya di rumah utama.


"Kami pergi dulu ya" pamit Rain pada keluarganya.


Ia yang jarang sekali pergi dengan alasan pekerjaan tentu di lepas dengan sedikit berat. Tapi syukur lah Rindu di izinkan untuk ikut setidaknya Biru tak begitu khawatir karna ada yang menemani putranya selama di luar kota.


"Hati-hati, dan kabari kami jika sudah sampai" pesan Hujan.


"Iya, Moy"


"Lakukan pekerjaanmu dengan baik ya" timpal Air setelah mereka mengurai pelukan.


Dan Biru, wanita itu memeluk dan mengusap pipi si bungsu dengan lembut sampai berkali-kali.


"Mhiu, Rainsu kerja. Bukan mau perang antara negara" ucap Embun pada Biru.


"Mhiu tahu, kak"


Rain melambaikan tangan kanannya setelah meyakinkan Biru jika ia akan selamat dan pulang. Sedang tangan kirinya menggenggam tangan sang istri.


"Rain, kamu yakin bawa mobil sendiri? jauh loh" tanya Rindu, ia tahu betul letak kota tujuan mereka yang lebih jauh dari kampung halamannya.


.


.

__ADS_1


Yakin dong, sekalian jalan-jalan. Nanti kita mampir ke hotel kalau capek buat sekalian juga nambah capek!!!



__ADS_2