Rindu Rainerly

Rindu Rainerly
Bab 38


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Riiiiiin, Rinduuuuu, Rindu Rainerly, sayangnya Bum-Bum" teriak di bungsu di lantai dua rumah utama karna ia tak menemukan sosok gadis cantiknya itu di dalam kamar.


Sudah mencari hampir ke semua ruangan tapi tetap saja tak ia temukan termasuk di tempat para puluhan kucingnya berada.


"Kemana sih?" gumamnya mulai kesal, ia memang paling tak suka jika harus di suruh mencari sesuatu dan seseorang. Apalagi beberapa ART yang di tanyakan pun tak tahu kemana perginya itu si emak madu.


Ceklek.


"Kak, Kak Buy liat Rindunya Bum-Bum gak?" tanya Rain yang hanya menyembulkan kepalanya di pintu kamar Sang kakak.


"Tadi sama MiMoy di halaman belakang"


"Gak ada, Bum udah cari" sahut Rain.


"Cari tuh pake mata, Bum"


"Ish, Bum cari tuh pake kaki" balasnya semakin kesal.


Rain kembali ke lantai bawah, ia coba mencari sekali lagi gadis yang kata kakaknya ada di halaman belakang, dan ternyata Rindu memang di sana.


"Aku cariin gak ada" ucap Rain saat memeluk Rindu dari belakang.


"Aku baru pulang sama MiMoy, dari toko bunga di depan, kenapa?" tanya Rindu, ia biarkan pria tampan itu masih mendekap tubuhnya.


"Kangen, aku bawa es kelapa buat kamu"


"Aku malah lupa kalau pesen itu" sahut Rindu yang langsung memutar tubuhnya agar bisa saling berhadapan dengan Rain.

__ADS_1


Rindu tak pernah menyangka, jika ia bisa sedekat ini dengan pria yang menjadi incaran seluruh siswi di sekolahnya.


"Tapi jangan lupa sama aku yang lagi Perjuangin kamu ya"


Rindu tertawa, ia selalu gemas jika melihat Rain sedang merajuk seperti ini, karna baginya tak lebih seperti anak kucing peliharaan mereka.


.


.


Rain yang menggandeng tangan Rindu menuju ruang makan harus menarik tubuh mungil gadisnya itu ke belakang punggung.


"Kenapa?"


"Adegan 21+, haram di liat" bisik Rain saat melihat papAy dan MiMoy sedang....


Rain yang berdehem kecil, akhirnya membuat pasangan itu menolehk, jangan tanyakan semerah apa wajah Sang Nyonya Besar Rahardian kini.


"PapAy udah ambil esnya?" tanya Rain, seolah tak melihat apapun barusan.


"Udah, manis banget tuh Kepala"


"Yakin, manisnya dari es kelapa doang?" sindir Rain dengan melirik kearah Hujan.


"Au ah! yuk Moy, kita ngamar" ajak Air sambil menarik tangan istri yang teramat ia cintai. Si pelabuhan terakhir setelah puas berpetualang dari hati ke hati lainnya.


Sepeninggal Air, kini tinggal Rain dan Rindu. Gadis itu menyiapkan es yang di beli Rain ke gelas besar.


"Sesuai maumu, Rin"

__ADS_1


"Makasih ya, Rain" ucap Rindu.


"Kembali kasih"


Pasangan yang bukan sepasang kekasih itu menikamati es kelapa sambil mengobrol, termasuk Rain yang menceritakan semua kegiatan di sekolahnya. Berbeda dengan Rindu yang hanya di izinkan homeschooling di rumah utama dengan karena alasan tak ingin Rindu di lihat siapapun. Tentu keputusan itu di dukung oleh Phiu dan PapAynya karna kedua pria itupun memiliki tingkat ke posesifan akut di atas rata-rata untuk pasangan mereka.


"Habis lulus, kita kuliah bareng ya"


"Entah, aku pengen kerja" sahut Rindu.


"Kerja apa? kuliah aja, sama aku, Ok" rayu Rain.


"Entah, aku ingin kebun orangtua ku di kampung"


"Masih mikirin itu aja, dah tau aku gak suka karna ujung-ujungnya kamu akan sebut namamya" protes Rain.


"Lah, emang kenapa? cuma sebut doang" kata Rindu yang tahu jika pria di depannya itu kini sedang merajuk cemburu.


"Ish, pake nanya! kamu tau gak sih, perasaan aku ke kamu itu kaya orang Jawa lagi manggil seseorang" cetus Raik kesal.


"Apa?" tanya Rindu bingung.


.


.


.


DALEM....

__ADS_1



__ADS_2