
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Rain yang baru keluar dari kelasnya langsung di tahan oleh Rio, ia kesal karna Rain semakin sulit untuk di ajak keluar, jika dulu alasannya karna Kucing tentu kali ini adalah Rindu. Tinggal satu rumah beberapa bulan membuat dunia Rain hanya penuh dengan gadis itu. Sama seperti para keturunan Rahardian lainnya, jika sudah jatuh cinta mereka akan jatuh sejatuh-jatuhnya. Lupa segala hal dan hanya fokus pada satu tujuan, yaitu pasangannya.
"Lo tuh udah pinter, gak akan susah cari kerja, Rain.. Yuk nongkrong" ajak Rio belum menyerah.
"Gue pengen pulang"
"Ngapain sih?" timpal Revan yang baru datang bersama Raka.
"Godain Rindu" jawab Rain sambil melengos pergi begitu saja menuju parkiran.
Di pertengahan tangga, pria tampan, pintar kaya raya tersebut di cekal oleh Kalina yang ternyata mengejarnya, Rain yang merasa tangannya di tarik sontak menoleh.
"Apa?"
"Kita sekolah tinggal beberapa bulan lagi, kamu mau lanjut kuliah dimana?" tanya Kalina, gadis itu belum juga berhenti menaruh harapan untuk bisa mendapatkan sang pewaris Rahardian Group.
"Gue mau kawin, puas?!"
Kalina dan teman-teman mereka yang kebetulan lewat langsung tercengang mendengar jawaban dari mulut Rain yang terdengar santai.
__ADS_1
"Gak usah bercanda" cetus Kalina.
"Siapa yang bercanda, tunggu aja undanganny"
Lagi dan lagi, Rain pergi begitu saja. Rindu seolah memiliki magnet yang membuat Rain ingin selalu pulang jika sedang berada di luar termasuk di sekolah.
"Sekalinya jatuh cinta, ini otak isinya dia semua" kekeh Rain yang sudah siap menyalakan mesin mobil mewahnya yang terparkir.
Sebelum ia pulang, Rain mampir sebentar membeli apa yang di pesan Rindu. Gadis itu meminta Rain membawa es kelapa tanpa susu cukup pakai air gula dengan sedikit es batu.
Rain senang, saat Rindu tak sungkan padanya dan itu membuat hubungan mereka mengalir begitu saja. Rindu berkali-kali di yakinkan jika semua akan baik-baik saja, maka itu ia mau membuka sedikit demi sedikit hatinya.
.
.
.
Rain yang baru sampai di garasi meminta tolong penjaga rumah untuk membagikan apa yang ia bawa. Ia hanya mengambil lima bungkus dan sisanya untuk semua para ART.
"Yang ini, Tuan?"
__ADS_1
"Iya, semua sama kok, gada yang aku bedain jadi terserah mau ambil yang mana" jawab Rain, dari dua puluh empat bungkus hanya satu yang ia pegang yaitu milik Rindu yang memang berbeda tanpa susu, selebihnya semua sama bahkan untuk keluarganya sendiri.
"Wih, cucu PapAy ngeborong apa?" tanya Air saat datang ke ruang makan dapur bersih.
"Es, pAy" jawab Rain sambil celingukan mencari sosok Rindu yang tumben tak terlihat karna biasanya gadis itu selalu ada di depan pintu utama atau pintu samping saat Rain datang, itu lah alasan ia selalu ingin cepat pulang.
"Es apa sih?" tanya Air lagi masih penasaran.
"Coba aja buka, aku mau cari Rindu dulu"
Air hanya mengangguk, tangannya kini cekatan membuka tiga bungkus plastik berwarna merah yang isinya masing-masing ada dua buah Es.
.
.
.
.
Waduh... dia borong KEPALA dimana?
__ADS_1