
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Yakin mau kesana?" tanya Biru yang duduk tepi ranjang putra bungsunya.
Rain yang baru mau menerima alamat lengkap tempat tinggal Rindu di kampung baru memutuskan akan pergi kesana pagi ini. Itupun setelah ia harus berpikir keras tentang alasan apa yang pantas di berikan pada Rindu nantinya
"Iya, Mhiu. Mau anterin Madu"
"Madu gak usah di jadiin alesan, Bum" ledek Biru.
Rain hanya tersenyum simpul, lalu mengusap tengkuknya sendiri karna malu. Cukup Mhiu nya saja yang bisa menebak hatinya, jangan Rindu.
Rain yang sudah siap akhirnya berpamitan pada orang rumah termasuk pada kakaknya yang sedari tadi terus mengejeknya.
"Cepet nikahin, Bang. Ribet banget idupnya sekarang" oceh Rain pada Keanu yang kita betulan ada menjemput Embun.
"Eh iya, lupa! di pacarin juga enggak gimana mau nikah" ledek nya lagi sambil berlari yang kemudian langsung membuat sang kakak menjerit kesal.
.
.
Rain masuk kedalam mobil mewahnya, dengan perasaan malu ia tekad kan diri untuk menenui Rindu yang jauh di luar kota bersama si Madu.
Samudera dan Biru tak bisa melarang keras, ini baru pertama kalinya bagi sang pewaris Rahardian Group uring-uringan karna seorang gadis bukan karna seekor kucing lagi seperti biasanya. Ada kebanggaan tersendiri bagi Sam melihat putranya mau dekat dengan lawan jenis karna sesekali perasaan khawatir hinggap di hati pria itu jika melihat Rain selalu sibuk dengan puluhan hewan peliharaannya saja.
.
.
__ADS_1
Beberapa jam berlalu, Rain sampai di kota yang ia tuju. Senyum mengembang di sudut bibirnya manakala membayangkan Rindu yang pasti kaget melihatnya nanti saat ia berhasil menemukan gadis itu. Ia yang beberapa kali bertanya pada orang sekitar akhirnya kini sudah ada tepat di depan sebuah rumah yang cukup luas untuk ukuran di perkampungan.
"Ini rumahnya? gede juga tapi---" berbagai pertanyaan hinggap di kepala Rainerly bagaimana cerita Samudera berbeda dengan apa yang ia lihat selama kenal dengan Rindu.
"Masuklah, jauh-jauh lumayan dapet air putih" gumamnya sambil terkekeh, ia gendong Si Madu yang selalu cuek padanya itu turun dari mobil.
Langkah demi langkah di tapaki oleh Rain menuju pintu utama rumah tersebut hingga ia berhenti tepat di depan pintu. Tak ada bel yang bisa ia tekan akhirnya membuat Rain memutuskan untuk mengetuk benda itu berkali-kali hingga.
Cek lek..
"Assalamu'alaikum" sapa Rain pada seorang wanita yang entah siapa yang jelas bukan Rindu.
"Waalaikum salam, cari siapa?"
"Ini benar rumah Rindu?" tanya Rain yang di jawab anggukan kepala.
"Rindunya ada? bisa saya bertemu dengannya" pinta Rain lagi, ia berusaha tetap tenang saat di tatap penuh curiga oleh wanita tersebut.
"Saya---"
"Rain!" seru Rindu yang ternyata ada di belakangnya.
Rain menoleh dengan cepat saat ia mendengar suaranya di sebut oleh gadis yang ia rindukan dalam segala hal tersebut.
"Ada apa?"
"Mau anterin Madu, Rin" jawab Rain sambil menyerahkan hewan berbulu itu pada Rindu, Rindu jelas menerimanya dengan senang hati.
"Makasih banyak, mari masuk" ajak Rindu sambi melewati seorang wanita yang tak lain adalah ibu dari calon suaminya.
__ADS_1
Rain dan Rindu duduk saling berhadapan dengan meja kayu kecil sebagai penghalang mereka, Rain tak lepas mengulas senyum saat Rindu bermain dengan si Madu, ekspresi hewan itu berbeda jauh lebih manis di banding dengannya.
"Sekali lagi, makasih ya. Aku gak nyangka bisa ketemu Madu lagi" ucap Rindu, matanya benar-benar mengisyaratkan kebahagiaan.
"Memang kamu gak akan balik lagi ke kota?" tanya Rain.
"Enggak, aku akan tetap disini"
"Kenapa?"
Rindu hanya tersenyum kecil, tak mungkin rasanya ia menceritakan alasan dan juga hal pribadi lainnya pada Rain meski ia tahu pria sangat baik dan peduli padanya.
"Kamu akan menikah?"
Pertanyaan Rain langsung membuat Rindu kaget, ia yakin pasti Budhe lah yang memberitahu perihal ini pada Rain.
"Iya, jadi aku tak perlu kembali ke sana. Terimakasih karna pernah baik padaku" ucap Rindu sambil menunduk.
"Aku senang pernah mengenal dan bertemu dengamu, Rain" tambahnya lagi.
"Tapi, Rin"
"Tapi apa?" tanya Rindu.
.
.
.
__ADS_1
Aku juga senang bertemu denganmu, tapi dari sekian pertemuan yang pernah ku alami hanya kamu yang mampu mengambil hatiku secepat ini...