
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Masih sama seperti sebelumnya, Madu tak pernah mau mendekat jika di panggil oleh Rain padahal biasanya kucing manapun akan menempel terus padanya, maka tak salah jika hewan berbulu itu begitu banyak di rumah utama dan yang hafal tentu hanya sang Tuan Muda saja.
"Emakmu mana, Madu? tumben kalian tak bersama"
"Hey, kemarilah, yuk main-main"
Rain terus saja mendekat, tapi Madu justru menjauh membuat Rain akhirnya pasrah dan memilih untuk mencari Rindu. Mungkin gadis itu mau merayu Madu nantinya.
Langkah kaki pria tampan itu menuju salah satu gedung tempat tinggal para pengurus sekolah, mulai dari satpam, tukang kebun, bagian kebersihan sampai beberapa ibu kantin juga pelayannya. Dan Rain yakin jika Rindu ada disana.
Tebakannya pun benar, Gadis berambut panjang yang di kuncir kuda itu sedang duduk dengan seorang wanita paruh baya di kursi Plastik, obrolan mereka terlihat begitu serius karna Rindu sejak tadi hanya diam menunduk mendengar kan.
"Kamu harus hati-hati, kamu baru beberapa waktu tinggal disini. Jangan buat masalah karena..." ucapan wanita itu menggantung, karna ia ingin menarik napasnya dalam-dalam lebih dulu.
"Karena apa, Budhe?" tanya Rindu.
"Karna Orang hanya melihat salahmu saja meski itu merupakan hal kecil."
Rindu mengangguk paham, ia kembali menunduk dan terus mendengarkan semua nasihat dari ibu kantin.
Rain yang berdiri di samping tembok hanya bisa memperhatikan sampai punya kesempatan untuk bicara berdua dengan Rindu.
__ADS_1
Sampai akhirnya ia bisa tersenyum lebar saat melihat Rindu sudah di tinggalkan.
"Eh, mau apa?" teriak Rindu saat tangannya kembali di tarik secara mendadak.
"Ikut aku, dan jangan berisik"
Rain terus berjalan satu langkah di depan Rindu menuju halaman belakang sekolah tempat mereka sering bertemu meski tak banyak bicara.
"Kamu di marahi Budhe?" tanya Rain tanpa basa basi saat ia sudah mendudukan Rindu di batang kayu.
"Enggak, kok"
"Jujur, aku gak suka di bohongi" tegas Rain, ia berdiri di depan Rindu dengan tangan melipat di dada.
"Cuma apa?" Rain yang penasaran sampai men desa h kesal menunggu jawaban.
"Cuma memperingatkan aku untuk tak terlalu dekat dengan siswa disini termasuk kamu" jelas Rindu.
Wanita yang membawanya itu tahu jika Rindu sering di goda saat melayani siswa di jam istirahat, bahkan ada yang mengadukan kejadian Rain membawa Rindu saat mereka ke dokter hewan. Tentu itu membuat si ibu kantin menjadi serba salah.
"Lalu kamu akan menurutinya?" tanya Rain.
"I--iya, Rain. Jangan mencari ku lagi ya. Aku tak mau mendapat masalah disini" pinta Rindu semakin menunduk.
__ADS_1
Rain yang tak terima tentu semakin jengkel dengan keputusan sepihak Rindu. Ia pun berjongkok di depan gadis itu untuk melihat matanya.
"Kamu boleh jauhin siswa lain tapi jangan jauhin aku ya?"
"Kenapa? justru kamu yang harus lebih aku hindari, Rain. Budhe tau jika kita sering bertemu disini. Sebelum Budhe marah padaku ku mohon menjauhlah, anggap kita tak kenal sama sekali kurasa itu jauh lebih baik" ucap Rindu yang masih tak berani mendongakkan wajahnya untuk melihat Rain yang tepat di hadapannya.
"Aku gak mau, kita gak salah jadi buat apa saling menghindar. Aku tak bisa terima alasan konyol dan tak masuk akal mu itu"
"Tapi kamu harus mau, ini terakhir kita bicara" tegas Rindu sambil bangun dari duduknya.
"Apa kamu gak denger kalau aku gak mau!" protes Rain, ia mencekal lengan Rindu agar gadis itu tak pergi meninggalkannya.
"Kita hanya sebatas saling kenal, tak sulit untuk kita bersikap tak acuh, Rain"
.
.
.
.
Kamu salah jika punya pikiran seperti itu karna justru, aku ingin jauh lebih mengenalmu dari ini...
__ADS_1