Rindu Rainerly

Rindu Rainerly
Bab 14


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Sekarang, benahi barangmu. Dan pulanglah ke kampung" titah Budhe yang lalu pergi begitu saja meninggalkan Rindu yang terkejut dengan keputusan sepihak wanita tersebut.


"Budhe, aku gak mau. Tolong jangan lakuin ini padaku" rengek Rindu memohon.


"Sudah sejak awal harusnya malam itu Budhe memang tak menerimamu disini, Rin. Budhe salah menampungmu. Pergilah. Biar Pa'dhe yang antar kamu ke terminal"


Budhe pergi begitu saja masuk kedalam kamarnya, sedangkan Rindu menangis di lantai sesegukan sendiri bingung akan nasibnya jika ia kembali ke kampung nanti. Tak ada pilihan, akhirnya mau tak mau gadis itupun memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas. Ia kaget saat seorang pria yang tak lain adalah suami Budhenya sendiri sudah menunggunya di depan pintu.


"Pa'dhe antar ya, kamu jangan nangis" ucapnya sambil mengelus kepala Rindu yang masih terisak.


"Aku gak mau pulang, aku takut"


"Sabar, mungkin ini memang sudah takdir mu. Ingat, sejauh apapun kamu pergi jika kamu memang berjodoh dengannya pasti Tuhan akan mempertemukan kalian, begitu pun dengan kejadian ini, Rin"


Rindu tak menjawab sama sekali, otaknya seolah tak bisa berpikir ditambah sesak dalam dadanya yang membuat setiap kata seakan tak bisa ia ungkapan.


Rindu berjalan di belakang Pa'dhe menuju pintu utama sebelum mereka pergi ke terminal menaiki sepeda motor.


Selama perjalanan, Rindu tak henti menghapus air matanya. Ada yang dengan sangat terpaksa ia tinggalkan yaitu Madu. Ia berharap Rain mau mengurus hewan kecil berbulu itu saat ia pergi saat ini. Rindu tak menyangka, kedekatannya dengan sang tuan muda akan berpengaruh pada masa depannya yang ia pikir akan jauh lebih baik jika ia nekat datang ke ibu kota.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan ya, ini uang untuk ongkos kamu sampai sana. Pakailah sisanya untuk kebutuhanmu" pesan Pa'dhe saat sampai di terminal. Ia menyodorkan satu amplop putih berisi uang pada keponakan dari pihak istrinya tersebut.


"Aku gak mau pulang, bawa aku kemanapun asal jangan suruh aku ke kampung" Rindu memohon dengan kedua tangan menangkup di dada.


"Pa'dhe pulang ya, nanti Pa'dhe bicarakan lagi dengan Budhe mu semoga dia berubah pikiran tapi tidak untuk sekarang"


"Tolong Pa'dhe. Aku hanya punya kalian untuk menyelamatkan hidupku" pinta Rindu sungguh sungguh.


Pa'dhe hanya mengangguk paham. Ia usap kepala gadis itu dengan penuh rasa kasihan. Bagaimana mungkin Rindu yang begitu cantik dan baik di permainkan oleh takdir.


Rindu melangkah dengan berat menuju salah satu Bus jurusan ke kampung halamannya. Hatinya bagau hancur berkeping sambil sesekali tarus menghapus air matanya.


"Aku pergi, Madu. Aku yakin dia akan mengurusmu dengan sangat baik. Maafkan aku karna kita tak bisa bersama, tapi kamu akan tetap menjadi kucing kesayangan ku" bathin Rindu saat ia sudah masuk dan duduk di salah satu kursi Bus yang masih menunggu penumpang.


.


.


.


Rindu yang tak menikamati perjalanan pulang nya begitu enggan untuk bangun saat ia diberitahu jika sudah sampai ditempatkan tujuan. Masih ada beberapa menit lagi untuk ia sampai dirumah setelah menaiki kendaraan umum nantinya.

__ADS_1


Malam yang sudah sangat larut membuatnya merasa sangat takut, dan jika ia bisa memohon rasanya lebih baik mati saat ini di banding harus kembali ke rumahnya.


Setelah Rindu turun dari angkutan umum, ia berjalan beberapa meter lebih dulu sebelum sampai didepan gerbang yang tertutup rapat tapi tak gembok. Rindu membukanya dengan pelan agar tak mengeluarkan bunyi nyaring yang terdengar oleh penghuni rumahnya.


Tok.. tok.. tok.


"Assalamu'alaikum"


Rindu mengetuk pintu beberapa kali mulai dari pelan hingga sedikit keras sambil terus mengucap salam berharap ada orang yang cepat membukanya.


Cek lek


"Waalaikum salam, Rindu?!"


"Bi, Rindu pulang" ucap Rindu sambil meraih penggung tangan seorang wanita yang berdiri di hadapannya untuk di cium takzim.


.


.


.

__ADS_1


.


Wah, ada yang balik ke NERAKA kayanya nih...


__ADS_2