
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Rain bisa bernapas lega, karan Madu akhirnya mau dengannya meski harus melewati drama panjang dan menjengkelkan. Dari semua kucing, hanya ia yang sulit di taklukan padahal biasanya hewan berbulu halus itulah yang lebih dulu mendekat kearahnya. Tapi entah kenapa hanya si Madu yang selalu tak ingin di sentuh.
Bukan hanya sekedar menghindar, Madu malah bersembunyi di bawah kursi sambil memegangi kaki si benda tersebut saking enggannya di ambil oleh Rain, segala bentuk rayuan di layangkan oleh pemuda tampan sang pewaris Rahardian tapi tetap saja tak membuat Madu luluh.
"Aw" pekiknya saat tak terasa kuku kecil Madu terkena tangannya.
"Jangan galak galak ya, nanti Bum cium nih" ancam Rain saat Madu akhirnya sudah berada di dalam pelukannya.
Rain membawa hewan itu pergi dan siap untuk mengurusnya bersama hewan peliharaannya yang lain juga di rumah utama. Ia tak habis pikir pada Rindu yang tega meninggalkan Madu sendiri di tengah-tengah orang yang tak ingin mengurusnya. Tapi Rain juga paham, pasti ada alasan kenapa Madu pergi mendadak begitu saja dan si pemuda menggemaskan itu yakin jika menikah bukan alasan satu-satunya.
"Baru kemaren bawa anak perawan, kenapa sekarang jadi anak kucing lagi sih Ganteng?" ucap Biru saat melihat putranya menggendong hewan berbulu halus.
"Ini Madu, Mhiu. Punyanya Rindu" sahut Rain.
"Dia juga punya kucing?"
__ADS_1
Rain hanya mengangguk, ia membenarkan apa yang di tanyakan oleh wanita istimewanya itu barusan.
Dan Biru, hanya bisa membuang napas kasar karna sepertinya sang putra memang tak bisa jauh dari hewan yang bernama kucing, semua berawal sejak ia balita, Rain yang baru pertama kali mengenal hewan tersebut seolah langsung jatuh hati pada pelihara Aurora, sepupu Samudera. Kucing berbulu kuning putih itu begitu baik saat bermain dengan Rain, sampai bocah itu sering mengajak Biru ke kediaman Bumi.
Pusing karna sang putra terus merengek sampai tak ingin pulang akhirnya membuat Samudera membeli satu ekor kucing untuk teman Rain di rumah utama yang di beri nama Ireng, tapi Rain yang masih sangat kecil tak bisa menyebut nama itu, ia hanya memanggilnya dengan nama Miong.
Ireng meninggal saat Rain berusia Lima tahun, Rain langsung jatuh sakit karna rasa kehilangannya. Sejak saat itu kedua orang tuanya membiarkan Rain memelihara banyak kucing di rumah utama untuk mengusir kesepian bocah tersebut, meski ia selalu bilang, tak ada yang bisa sama seperti si Ireng selama ini yang selalu mengerti maunya.
"Punya, cantik ya. Tapi galak banget" jawab Rain.
"Kok bisa?" tanya Biru aneh.
Biru mencubit gemas pipi putra bungsunya, lalu di. ciummya berkali-kali.
"Kamu pikir kucing itu perduli sama kegantengan kamu, Sayang? kalau Rindu mungkin iya" kekeh Biru saaat menyahut ucapan sang anak.
"Kapan mau jemput Rindu?" tanya Biru.
"Entah, aku kesana alasan apa? sedang Budhe bilang dia mau nikah" sahut Rain.
__ADS_1
"Setidaknya kamu sudah menemuinya, kan baru mau, belum sudah menikah. Katakan apa yang selama ini mengganjal dalam hatimu ya, Nak"
Rain hanya mengangguk, ia tersenyum dan membiarkan Biru meninggalkannya sendiri.
.
.
.
Kita kenalan sama temen-temen baru kamu yuk... Calon saudaramu jika Emakmu itu jadi emak mereka juga...
Yang bilang editan, Hem... muka asli wey 🤣🤣
Gada manis-manisnya si Madu.
Ogah ciumnya juga 🤭🤭🤭
__ADS_1