
ππππππ
Rindu yang baru pulang dari tempat Budhe langsung di hadang oleh si Tuan Muda manja di pintu utama. Tampang kesal jelas sangat terlihat di wajahnya karna di tinggal sejak pagi. Gadis itu memang tak meminta izin padanya karna Rain masih terlelap terbuai mimpi.
"Lama pake banget" cetus Rain dengan kedua tangan berada di pinggang.
"Aku bantuin Budhe sebentar, nih aku bawa kue" jawab Rindu sambil memperlihatkan apa yang ada di tangan kiri nya.
"Aku gak butuh itu, aku butuh kamu, Sayang" sahut Rain yang langsung mendapat tatapan tajam dari gadisnya.
"Iya, Rindu, Rindu serindu rindunyaaaaaaa"
#Eh, DiaNyanyiπ
Tau jika Rain sedikit merajuk, Rindu pun langsung menggandeng tangan pria itu masuk kedalam. Beberapa bulan tinggal bersama membuat keduanya semakin dekat terlebih kini Rindu sudah mau membuka hati dan tak lagi menjaga jarak dengan Rain.
"Kamu udah makan?"
"Nungguin kamu" sahut Rain dengan wajah di tekuk kesal namun malah terkesan semakin menggemaskan.
Rindu tersenyum simpul, ia mengusap sekilas pipi putih Rain dengan tangan dengan lembut, ia yakin jika dengan begitu saja sudah akan membuat hati Rain luluh dalam seketika.
Dan benar saja, tangan Rindu langsung di tariknya dengan cepat.
"Jangan gitu, kalau aku makin sayang emang kamu mau tanggung jawab?"
"Tentu, kan aku juga sayang" balas Rindu.
Mendengar ucapan Rindu, Rain langsung tersipu malu hingga seolah ia merasakan ada ribuan kupu-kupu menyeruak dari dalam perutnya.
"Ya ampun! pengen cium tapi takut di laporin ke Phiu sama Emak-emak" rutuknya kesal campur gemas.
__ADS_1
#.AnanAkalYa,Buuuuum!!
Rindu sontak tertawa sampai kedua matanya menyipit, Rain memang tak pernah macam-macam padanya, mencium keningnya pun ia lakukan jika momennya dirasa pas. Pria tampan itu benar-benar menjaga dan menghargai Rindu sesuai pesan orangtuanya.
Rindu yang membawa makanan dari tempat Budhe langsung di pindah kan ke wadah yang terdapat di dapur bersih, tak ada rasa canggung lagi ia rasakan saat berada di Rumah Utama yang ia anggap layaknya tempat tinggalnya sendiri. Meski begitu, ia tetap harus mematuhi aturan yang di terapkan sang Tuan Besar Rahardian Wijaya.
"Kamu yang bikin?" tanya Rain saat ia mencicipi satu iris keripik pisang rasa manis.
"Iya, enak gak?"
"Enek, rasanya terlalu manis saat makannya sambil liat kamu" kekeh Rain ketika menjawab pertanyaan Rindu yang sebenarnya cukup serius.
"Mulai, kebiasaan!" cetus Rindu dengan kedua pipi merah merona seperti strawberry.
Meski hampir setiap hari mendengar rayuan, Buktinya Rindu tetap saja akan tersipu malu, karna bagaimanapun orang yang mengatakan itu namanya sudah tersemat dalam hati tanpa sadar.
"Habisin kalo enak, nanti aku bikin lagi kalo enak. Ada pisang 'kan di belakang?" tanya Rindu.
Keduanya terus saja mengobrol di meja makan sambil menikmati keripik yang di bawa Rindu, sampai tak terasah perut Rain mengeluarkan bunyi tanda protes ingin di isi.
"Kamu laper?"
"Iya, makan yuk. Aku belum makan loh" adunya sedih.
Rindu langsung bangun dari duduknya, ia bergegas ke dapur kotor untuk mencari makanan karna yang ia tahu, jam segini sudah tak ada apapun di dapur bersih.
"Gak usah, biar aku aja yang goreng sendiri" tolak Rindu saat seorang chef ingin memasak lebih dulu untuk makan Tuan dan Nonanya itu.
"Tak apa, biar saya saja. Nona bisa menunggu"
"Aku aja, ikannya dimana?" tanya Rindu.
__ADS_1
Seorang pelayan terliat membuka pintu lemari pendingin besar di sudut dapur kotor, disanalah biasanya semua bahan makanan berada. Mulai dari lauk, daging, ayam dan berbagai sayuran.
Rindu langsung menerimanya dan kembali ke dapur bersih untuk menyiapkan makanan.
"Aku masak dulu ya, nunggu sebentar gak apa-apa, kan?"
"Kenapa kamu yang masak?" tanya Rain.
"Gak apa-apa, yang penting masaknya buat kamu. Gak usah marah-marah nanti lama matengnya" ancam Rindu yang langsung membuat Rain bungkam.
Bosan hanya duduk menunggu, Rain pun menghampiri Rindu yang berdiri di dekat kompor, tangan cekatannya begitu terampil memegang semua alat masak yang ada di sana terkecuali wajan warna warni milik Amma. Deretan benda cantik yang tersusun rapih di dalam lemari kaca itu tak pernah di sentuh oleh siapapun karna memang tidak di gunakan secara sembarangan terlebih hanya Hujan lah yang memegang kunci lemari kacanya.
"Ini doang?" tanya Rain saat ia melihat satu wadah berisi tiga potong hewan laut tersebut.
"Hem iya"
"Mau goreng?" tawar Rindu, lebih ke menantang.
"Iya, Sini." Rain langsung meraih satu wajan dan spatula.
Setelah dua benda tersebut sudah ada di atas kompor beserta minyaknya, Rain mulai memasukkan dua ekor hewan laut itu lalu kemudian mundur beberapa langkah ke belakang.
"Kamu kenapa?"
.
.
.
Gak apa-apa, aku cuma lebih baik menjauh dari pada tersakiti. Itulah caraku menggoreng ikan
__ADS_1