Rindu Rainerly

Rindu Rainerly
Bab 42.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Mau apa?" tanya Rindu yang tak paham dengan yang di katakan suaminya barusan.


"Ini, Nyeh Uwa-uwa, Sayang"


"Oooh---"


Rindu tersenyum, ia menganggukan kepalanya tanda memperbolehkan apapun yang ingin di lakukan Rain padanya malam ini. Ia sudah siap menyerahkan segala miliknya termasuk kehormatan yang sudah di jaganya selama dua puluh dua tahun.


"Aku tahu, aku tahu kok cuma---"


"Cuma apa lagi?" tanya Rindu yang gemas.


"Aku malu, tidur gih" titah Rain yang malah membuat bidadari hatinya itu tertawa.


"Enggak, ah! gak seru" tolak Rindu yang masih berasa di bawah Rain.


Rain menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri untuk menyembunyikan wajahnya yang mungkin kini sudah semerah kepiting rebus.


Tapi entah kenapa, niat awalnya itu kini berbelok buka lagi ingin bersembunyi tapi reflek mengecup bahkan menyesap pelan, Rindu yang kaget sampai mencengkram punggung suaminya.


"Eh, sakit ya?"


"Hem, enggak kok. Cuma kaget aja" sahut Rindu yang gantian kini wajahnya yang memerah menahan malu.

__ADS_1


"Lagi ya?"


Rain mengulangnya lagi, pria tampan yang Sesekali masih manja itu tak menyangka bisa melakukannya karna ia cukup tahu tanpa pernah berpikir bagaimana caranya, tapi siapa sangka semua bisa ia lakukan dengan hanya mengikuti insting kelelakian nya saja.


Satu persatu semua pakaian di tanggalkan dari tubuh Rindu dan dirinya juga, Jangan tanya bagaimana malunya pria tersebut saat tangannya ingin menyentuh kedua daging kenyal bagian dada Rindu yang padat berisi karna tak pernah terjamah oleh siapapun.


"Aku pengen pegang, tapi takut gak mau di lepas lagi" goda Rain sambil terkekeh berharap detak jantungnya kembali normal.


"Rain---"


Cup..


Satu ciuman sekilas mendarat di pipi kanan Rindu, dengan perasaan berdebar ia memberanikan diri untuk memegang salah satunya.


Remasan lembut sambil berciuman justru membuat Rain dan Rindu merasakan hawa panas sampai tak terasa mengeluarkan de sahan seolah ada yang menjalar dalam tubuh mereka yang sudah menempel rapat.


Rindu melepas pagutannya untuk mengambil napas, bagaimana pun ini adalah yang pertama kali ia lakukan.


"Sekarang ya, tapi katanya sakit. Kalo sakit gak apa-apa gak usah di terusin ya"


"Iya, tapi aku usahain buat tahan kok" jawab Rindu dengan suara parau.


Keringat yang mulai banjir di usap oleh Rain dengan tangannya sambil tersenyum puas, apa yang sering terlintas di benaknya akhirnya akan ia lakukan dengan wanita pujaannya.


Kedua paha Rindu sedikit ia rentangkan, Rain memegang miliknya yang sedari tadi sudah tegang sempurna siap bertarung. Pelan tapi pasti ia mulai mendesak sesuatu yang begitu sulit ia terobos padahal Rindu sudah terisak menahan perih.

__ADS_1


Rain seolah mendadak amnesia, padahal tadi ia berjanji tak akan melanjutkan jika sakit, tapi buktinya ia justru semakin bersemangat saat sedikit demi sedikit akhirnya ia berhasil menerobos pertahanan Rindu yang sangat berharga bahkan tak ternilai dengan apapun.


"Sakit, Rain" lirih Rindu dengan dada yang sedikit membusung.


"Tahan ya, sedikit lagi"


Ya, sedikit lagi miliknya memang akan tenggelam sempurna dan itu pasti akan jauh lebih terasa nikmat dari sebelumnya. Milik Rindu yang masih begitu sempit seolah menjepit dengan kuat bahkan seakan meremas ingin terus di manjakan.


Blessss...


Rain sampai mendongakkan wajahnya keatas sambil memejamkan matanya saat ia merasa sudah berhasil menjadi pria sejati malam ini.


.


.


.


Phiu... Uget-uget Bum udah upet di semak belukar loooh!!!


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan berisik!


Ntar si Tutut denger 🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2