
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Saya Terima nikah dan kawinnya Rindu Roseliana Anandita putri Taslim binti Almarhum Taslim dengan mas kawin tersebut di bayar, Tunai" ucap Rain dengan satu kali tarikan napas.
Semua yang mendengar ijab qabul sang pewaris Rahardian group itu pun kini bisa bernapas lega karna pasalnya putra dari Samudera dan Biru sempat uring-uringan takut tak bisa menghalalkan gadis kesayangannya.
Tapi dukungan dari keluarga mampu membuat Rain percaya diri.
Setelah SAH menjadi suami istri di mata hukum dan Agama, keduanya langsung menandatangani buku surat nikah berwarna hijau dan merah sebagai tanda jika mereka kini sudah halal dalam berbagai hal. Rain masih tak menyangka jika wanita cantik di sebelah nya kini sudah menjadi hak milik seutuhnya selama kurang lebih lima tahun berjuang dan sabar.
Doa dan restu mereka dapatkan saat acara sungkeman pada semua keluarga terutama pada Phiu, Mhiu, Budhe dan Pakde.
Rain yang memang sudah tampan sejak dalam lahir semakin terlihat menggemaskan saat senyum terus mengembang di sudut bibir merahnya.
"Terimakasih sudah mau jadi istriku" bisik Rain.
"Terimakasih juga sudah mau menunggu" balas Rindu sambil mengusap pipi merah merona sang suami.
Rain yang baru mau mencium kening Rindu harus menahan kesal saat telinganya di jewer Samudera.
"Apa sih, Phiu?" protes si bungsu.
"Kami mau pulang, kamu pulang kapan?" pamit Samudera, acara pernikahan memang di adakan dikediaman Rindu tepatnya di kampung halaman sang menantu.
__ADS_1
"Lusa, besok mau jalan-jalan dulu" jawab Rain.
Ia yang sedih melepas kepulangan semua keluarga hampir saja menangis, apalagi saat berpelukan dengan Biru.
"Mhiu pulang ya, kami tunggu kalian di rumah utama" ucap Biru dengan haru.
"Iya, Mhiu. Aku dan Rindu akan segera pulang ke rumah utama"
"Jangan lama-lama! kesian tuh kucing kucing kamu kehilangan emak bapaknya" ledek Samudera pada si bungsu.
Pria tampan di usia yang tak lagi muda itupun langsung mendapat cubitan panas dari istrinya.
.
.
.
Memang tak ada pesta mewah, karna acara resepsi akan diadakan di ibu kota beberapa waktu mendatang, mengingat semua keluarga dan rekan bisnis juga kerabat ada di sana.
"Rain, mau aku bikinin minuman gak?" tawar Rindu saat keluar dari dapur.
"Enggak, aku kenyang udah makan banyak kue"
__ADS_1
"sudah sudah, pengantin baru cepat masuk kamar sana, jangan sibuk main catur terus" ucap Pak'de sambil terkekeh karna berhasil menggoda.
Rain dah Rindu langsung tersipu malu saat mendengar hal itu apalagi saat ada sahutan dan gelak tawa juga dari yang lainnya.
"Ya sudah, kami istrirahat dulu" pamit Rain saat ia melirik jam di pergelangan tangannya yang ternyata sudah menunjukan pukul sembilan malam.
Rain menggandeng tangan istrinya menuju salah satu kamar yang tak lain adalah kamar Rindu selama ini. Tempat yang cukup luas dengan sedikit hiasan khas kamar pengantin.
"Setelah sekian lama, akhirnya tidur sekamar juga" ucap Rain saat ia menarik tangan Rindu ke tepi ranjang.
"Hem, bahkan aku sangat takut kamu salah ucap namaku saat ijab kabul tadi pagi"
"Tapi nyatanya bisa, kan?" jawab Rain dengan bangganya.
"Iya, kamu hebat" balas Rindu sambil bertepuk tangan kecil.
.
.
.
Lagian, sepanjang apapun namamu gada artinya kalau ujung ujungnya aku cuma panggil kamu dengan sebutan SAYANG..
__ADS_1