
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Saat makan malam, semua berkumpul di ruang makan termasuk Rindu yang duduk di sebelah Rain karna pemuda tampan itu yang memintanya.
Obrolan santai mereka bincangkan dengan mengikut sertakan Rindu dengan sesekali bertanya pada gadis tersebut. Keluarga yang hangat dan terbuka membuatnya kembali merasa nyaman. Rasa yang tak pernah ia dapatkan lagi setelah orangtuanya meninggal.
"Kamu bisa tinggal disini, Rin. Atau mau sekolah bareng dengan Rain" ucap Air setelah makan malam selesai. Ia bisa membuat keputusan itu sebab sudah tahu latar belakang Rindu.
"Terima kasih, pAy. Aku tak ingin merepotkan kalian"
"Hey, kamu disini bisa urus semua kucingku" timpal Rain.
Semua mata tertuju pada si bungsu, dengan gampangnya si tampan meminta Rindu yang katanya ia sukainya itu untuk mengurus puluhan hewan peliharaan nya di rumah utama.
"Jangan mau, Rin" sambung Embun.
"Tak apa, kak. Aku suka kucing, kak"
"Fix, kita jodoh" kata Rain sambil terkekeh.
Semua anggota keluarga Rahardian langsung membuang napas kasar, mereka tak menyangka si bungsu kini sudah memikirkan jodoh padahal sejak kecil dunianya hanya seputaran hewan berbulu saja.
"Tidur aja masih nyariin Mhiu, sok-sok an ngomongin jodoh! dasar bocah" ledek sang kakak yang Lagsung membuat Rain menatap wanita itu dengan sorot mata tajam.
.
.
.
Rindu di bawa langsung oleh Biru dan Hujan. Kini tiga wanita itu sudah berada di kamar tamu sebagai tempat Rindu beristirahat.
"Bagaimana, mau tinggal disini atau kembali pada Budhemu?" tanya Hujan.
"Jangan beritahu Budhe, Mhiu" mohon Rindu yang reflek memegang tangan Biru.
"Kami paham, dan maaf sudah tahu semua tentangmu. Termasuk masalah perjodohamu di kampung." ucap Hujan.
__ADS_1
Rindu menunduk, ia menarik napas lalu di buangnya secara pelan.
"Aku tak tahu harus bagaimana, awalnya aku setuju dengan hal itu karna ku pikir hanya Bibi dan Mamang juga Bani yang mampu melindungiku. Tapi, sikap mereka berubah saat orangtua ku meninggal." jelas Rindu yang kini suaranya parau.
Biru langsung menarik tubuh Rindu untuk di peluk begitu pun dengan Hujan, karna mereka tahu rasanya tak punya ayah dan ibu.
"Tinggalah disini, anggap ini rumahmu dan kami keluargamu. Masalah yang lain biar papAy dan Phiu Rain yang urus, bagaiamana?"
"Tapi aku akan menjadi beban"
"Tidak, Sayang kamu kan--"
Tok.. tok.. tok...
Suara ketukan pintu membuat Biru tak jadi menerus kan ucapannya. Kini ketiga tatapan wanita itu beralih pada benda putih yang masih mengeluarkan suara.
"Siapa?"
"Entah, biar ku buka pintunya" sahut Biru.
"Ngapain?" tanya Biru pada putranya.
"Rindu mana? Bum mau ajak jalan-jalan, Boleh?"
"Boleh, tapi tanya Rindunya mau atau enggak kamu ajak jalan-jalan, Bum" ledek Biru.
Rindu yang mendengar perbincangan ibu dan anak itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya karna merasa malu.
"Rin, di ajak jalan-jalan sama Rain, mau gak?" tanya Biru.
Ingin rasanya Rindu mengangguk tapi ia tak enak hati jika langsung mengiyakan ajakan pria yang masih berdiri di ambang pintu tersebut.
"Yuk, gak usah kelamaan mikir kalau jawabannya mau" ucap Rain.
"Iya, aku mau"
"Kalian jangan pulang malam-malam ya, dan harus hati-hati" pesan Hujan yang di iyakan Rain dan Rindu.
__ADS_1
Pasangan bukan kekasih itu berjalan menuju pintu utama dan garasi mobil tapi langkah Rindu terhenti saat ia melihat jejeran sepeda di sana.
"Kamu suka sepedahan, Rain?" tanya Rindu.
"Enggak"
"Oh, kalau jogging atau marathon?" tanya Rindu lagi yang di jawab gelengan kepala.
"Aku kira kamu suka olah raga"
"Cuma satu olah raga yang aku suka, Rin" sahut Rain.
"Apa?"
"Lari" jawab pria itu sambil tersenyum menggoda.
"Lari? keliling komplek sini?"
.
.
.
Bukan, tapi lari ke pelukanmu...
***Mulai 😂😂😂😂😂😂
Semangat tarik tambang ya kalian hari ini
17-08-22
teteh mah mau narik kolor salaki bae 🤭🤭🤭
yang mau ikut lomba balap kepuruk jangan lupa bawa nasi gorengnya sepiring ya 🤣***
__ADS_1