Sahabatku Suami Muhallilku

Sahabatku Suami Muhallilku
KEBIMBANGAN


__ADS_3

"Selimut? Untuk apa?"


"Sekarang sedang musim dingin. Jadi, pakailah selimut itu agar kamu selalu hangat dan tidak masuk angin. Anggap saja ... selimut itu aku."


Ameera mendengus pasrah. Dia mendelik melihat Farhan yang masih memasang senyum manis padanya. Bahkan, senyum itu tak menyurut sedikitpun.


"Farhan, apa kamu selalu seperti ini? Menggombal setiap wanita?" tanya Ameera, menatap Farhan seksama.


"Tidak juga. Tapi, bisa dikatakan, yang paling romantis, tetap saja denganmu," sahutnya. Wajahnya tetap memasang wajah senyum meskipun dalam hatinya mengeram marah.


Ameera, kamu memang tidak pernah peka. Walaupun aku melakukan apapun. Kau tidak tahu, selama aku mengenalmu, aku mengabaikan semua wanita yang berusaha mendekat.


"Dasar!"


"Kalau begitu, aku pulang," pamit Farhan yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Ameera.


"Sepertinya kamu sangat senang kalau aku pulang sekarang," ujar Farhan membuat Ameera salah tingkah menghadapinya.


"Bukannya kamu yang mau pulang? Kamu bisa berkata seperti itu kalau aku mengusirmu, Farhan!" jawab Ameera.


******


Sudah tiga Minggu berlalu setelah hari perceraian Ameera.


Farhan dan Dion selalu datang ke rumah Ameera, menganggu waktu wanita itu.


Kadang, mereka datang secara bersamaan, kadang juga bergantian.


Ameera memang menjalani hari-harinya dengan baik, namun perasaannya untuk Dion, masih tetap sama. Entah hal apa yang telah diberikan oleh Dion, sampai Ameera tidak bisa melupakan laki-laki itu begitu saja.


Seperti hari ini, Dion sedang memohon, bersimpuh di kaki Ameera agar bersedia kembali padanya. Karena Ameera sempat berpikir untuk membatalkan pernikahannya dengan Farhan.


"Mas Dion, bukannya kamu juga sudah diperkenalkan dengan Risa?" ucap Ameera membuat Dion sangat terkejut.


"Ka-kamu tahu dari mana, Ameera?" tanyanya mulai tergagap.


"Ibumu sudah mengenalkan aku dengannya. Mas, kamu harus bisa menerima keadaan kita sekarang. Semua sudah tidak sama," ucap Ameera berusaha meyakinkan Dion.

__ADS_1


"Ameera, aku tahu, kamu masih mencintaiku. Menikahlah dengan Farhan, agar kita bisa menikah kembali nanti." pinta Dion dengan sangat.


Ameera tertunduk. Apakah sesulit ini jika ingin menempuh jalur bahagia? Apakah kini Ameera harus menuruti keinginan Dion lagi? Jujur saja, hatinya juga mengatakan iya. Hatinya menyuruhnya untuk berjuang sedikit lagi, karena kebahagiaan sudah menunggu di depan mata.


Tapi, Ameera sendiri tak yakin. Walaupun hati dan logikanya sinkron. Apakah dia memang harus berjuang sedikit lagi? Atau berhenti sampai di sini, dan melupakan semuanya.


Namun, tatkala dia ingin mengambil keputusan untuk mengakhiri semuanya, hati dan pikirannya kembali berpacu. Agar keputusan itu tak terucap dari bibirnya.


Jadi, keputusan yang bisa diambil oleh Ameera, hanyalah meneruskan semuanya.


"Mas Dion, kamu pasti tahu, kan? Setiap sebuah perbuatan itu pasti mempunyai konsekuensi. Jadi, kamu harus bisa menerima apapun akhir dari kisah ini." Ameera menjeda kalimatnya, kemudian kembali mengatakan, "Apakah akhirnya nanti aku tetap mencintaimu dan kembali bersamamu. Atau, aku menutup lembaran denganmu, mengubur semua tentang kita. Dan memulai semuanya bersama Mas Farhan," tutur Ameera serius.


NYESSS


Hati Dion begitu ngilu mendengar penuturan terakhir Ameera. Dia tahu, semua perbuatan pasti akan ada konsekuensi akhir. Semua takdir baik tidak akan bisa berpihak hanya pada kita seorang. Dion sadar, apa lagi, dia kerap melakukan sesuatu yang pahit untuk Ameera hanya karena menuruti keinginan Ibunya yang jelas salah. Jadi, mana mungkin dia bisa berharap pupuk pahitnya akan terbalas dengan buah manis.


Tapi, kita juga tidak akan bisa mengetahui sebuah akhir kisah, kalau tidak mencoba untuk menjalaninya. Yang bisa kita lakukan, hanya menjalani dan menunggu. Bagaimanakah cara takdir membalas kita. Akankah hati Ameera akan berpindah haluan, atau tetap akan berlabuh di dermaga yang sama.


"Aku tahu. A-aku aku berusaha siap dengan semuanya. Tapi, tujuan kamu menikah lagi adalah karena kita akan kembali...."


"Bukan, Mas. Alasan aku menikah bukan untuk itu." sela Ameera menampik, tak pernah mau ia membenarkan kalau Dion berbicara tujuan pernikahan dirinya dan Farhan hanya agar bisa kembali pada Dion. Sama saja, Dion sedang menudingnya sedang mempermainkan ikatan pernikahan.


Dion memohon dengan sangat, karena dia tahu, Ameera bukanlah orang yang bisa diatur jika bukan dengan tujuannya sendiri. Selama ini Ameera menurut padanya, karena Dion adalah Suaminya.


Aku memang sangat bodoh, melepaskan Ameera karena ucapan Ibu. Jelas-jelas aku mencintainya, jelas aku sangat mengenal sifatnya. Kau sangat bodoh, Dion!


"Aku tidak bisa mengikat janji seperti itu, Mas. Aku tidak mungkin tidak mencintai suamiku kelak," tolak Ameera.


"Ameera, berjanjilah padaku ... agar hatiku bisa tenang." lagi-lagi Dion memohon dengan mengatupkan kedua tangannya. Berharap Ameera akan merasa iba untuk yang kesekian kalinya.


"Tidak bisa, Mas," tolak Ameera tegas. "Aku takut tidak bisa menepati janjiku itu. Jika aku memaksakan berjanji padamu, bagaimana jika aku tidak bisa menepatinya? Aku akan tergolong orang yang munafik." jawabnya.


"Yang ada, aku yang tidak akan tenang disaat akhir nanti. Sungguh Allah sangat membenci orang-orang munafik. Orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan paling bawah dari neraka," jelasnya lagi.


Jawaban Ameera sungguh menusuk hati Dion, sekarang dia tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Baiklah. Tapi, aku hanya ingin, kamu tetap konsisten dengan cintamu, Ameera," ujar Dion pasrah, namun seperti tak menyurutkan semangatnya untuk mengingatkan Ameera agar tetap setia pada cinta mereka.

__ADS_1


"Aku hanya ingin mengabarkan padamu, Mas. Jika pernikahan ini tetap dijalankan. Minggu depan, setelah aku menstruasi, keluarga Mas Farhan akan datang ke rumah untuk melamarku," tutur Ameera.


Bagai diterbangkan oleh angin ****** beliung, tubuh Dion terhuyung karena mendengar ungkapan Ameera.


Sekarang dia benar-benar ditampar oleh kenyataan, kalau mereka mungkin tak akan bisa kembali bersama merajut cinta. Penyesalan, benar-benar hinggap di hatinya.


Tapi, Dion tak mudah menyerah denhan kenyataan, harapannya tetap mengepul di udara, mengharap harapan yang menggumpal di dada, bisa menjadi kenyataan.


"Bolehkah aku da-datang?" Dion bertanya, dengan suara yang tertahan.


"Boleh. Jika kamu mau datang, silahkan saja, Mas," jawab Ameera tanpa melihat ke arah Dion.


"Dan setelah itu, kami juga akan mulai fitting baju pengantin," lanjutnya, menambah luka di hati Dion.


"Nanti hubungi saja hari pastinya, aku pasti datang." Dion kembali mengingatkan.


"Iya, Mas," jawab Ameera.


"Kalau begitu, aku permisi. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."


Dion berpamitan pada keluarga Ameera dan dia pun pergi. Setelah Dion pergi, Amran keluar. Dia melihat Ameera yang duduk termenung sampai kehadiran ayahnya pun tak ia sadari.


"Meera?" panggil Ayahnya pelan menyentuh pundak Ameera.


"Ya, Yah?" Ameera menjawab dengan terkejut.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Arman.


"Tidak ada, Yah." Ameera menggelengkan kepalanya.


"Sesekali, kita perlu bercerita isi hati yang membuat kita gelisah kepada orang lain. Jangan memendamnya sendiri," Arman memberikan nasihat pada Anaknya yang selalu saja memendam masalahnya sendiri.


"Ayah, aku masih mencintai Mas Dion." keluh Ameera yang mulai membuka suaranya.


"Ayah tahu, Meera," jawab Arman.


"Jadi, Ameera harus bagaimana, Yah? Apa yang harus Ameera lakukan?" Air mata Ameera mulai menetes. Sungguh, dia memang sudah tak sanggup memendam lukanya sendiri. Benar kata Ayahnya, kita harus berbagi luka pada orang yang kita percayai agar lukanya berkurang.

__ADS_1


"Ameera, pasrahkan semuanya kepada Allah SWT. Semua ujian dari Allah, dan akan kembali pada-Nya pula. Berdoa pada-Nya, semoga kita dikuatkan dalam menjalani cobaan ini. Berdoa agar Dia memberikan yang terbaik untuk kita, dan menjauhkan segala hal yang buruk." tutur Arman agar khawatir di hati anaknya bisa sedikit berkurang.


Dukung terus karya baru Author ini ya....


__ADS_2